
"Jangan sekali lagi kau membentak ku dokter!, aku tak suka mendengar nya," ucap tuan Danu memperingatkan.
Namun dokter Malik sama sekali tak menanggapi ancaman tuan Danu saat itu.
Perhatian nya lebih terfokuskan kepada Mawar dan juga kesehatan sang istri.
Melihat Mawar yang terlihat begitu syok.
Dokter Malik mencoba memapah nya masuk ke dalam kamar.
Namun hanya ada penolakan dari Mawar di saat itu.
Seakan rasa sakit mendengar kenyataan pahit itu begitu bertambah sakit saat mengetahui bahwa semua kenyataan itu telah sengaja di sembunyikan dari nya.
"Kau tahu Fatimah adalah segala nya bagi ku!, tapi apa ini mas!," seru Mawar sembari menepis tangan dokter Malik yang berusaha menenangkan nya.
__ADS_1
"Mawar, tenanglah," ucap kakek Bram begitu khawatir dengan kondisi sang putri yang baru saja membaik.
"Bagaimana aku bisa tenang ayah, sedangkan putri ku masuk ke kehidupan seperti itu!, bagaimana jika dia di perlakukan seperti aku dahulu?, bahkan mungkin lebih buruk dari itu. Dulu saja Ayah juga tak mau kan mengenal ku saat ayah tahu aku anak seorang pelac*r," seru Mawar mulai menangis.
"Jangan menangis nak, siapa nama mu tadi?, Ma- Mawar, ya! Mawar. Nak Mawar tidak usah khawatir, aku akan menyelesaikan semua nya, tapi sebelum itu, terima niat baik ku ini, oke," ucap tuan Danu membuat semua nya terdiam tak mengerti.
"Silahkan," ucap Rea dengan senyum licik nya sembari menyerahkan satu per satu hantaran lamaran yang telah di persiapkan tuan Danu jauh jauh hari.
Menatap semua barang barang hantaran itu, hati keluarga Fatimah semakin merasa gelisah, terutama hati kakek Bram.
"A- apa maksud barang barang ini?," tanya Mawar masih berfikiran positif akan semua hal yang bahkan jelas jelas telah mengarah kepada hal hal yang semakin menakutkan.
"Kau melamar cucu ku sebagai syarat nya?," seru kakek Bram membuat Mawar dan dokter Malik begitu tercengang saat mendengar nya.
"Tepat sekali!, kau ternyata masih cerdas dan bisa menebak keinginan ku dengan tepat Bram," seru tuan Danu sembari tertawa dengan lepas nya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku menarik putri ku dari lubang buaya dan secara sengaja kembali memasukkan nya ke kandang harimau tuan, apa kau tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu," ucap Mawar merasa lamaran itu begitu tak pantas di ucapkan bahkan dari mulut tuan Danu yang bahkan sudah seumuran sang ayah.
"Kau belum merasakan masuk ke kandang harimau ku Mawar, jadi terima saja lamaran ku ini, setelah masa idah Fatimah selesai nanti aku akan segera meminang nya, oke," seru tuan Danu tanpa ragu sedikitpun.
Bahkan ia tak memperdulikan sebuah penolakan yang coba keluarga Fatimah utarakan saat itu.
"Sebaik nya kau pergi Danu!", ucap kakek Bram begitu murka nya.
Melihat tuan Danu tak bergeming sedikitpun saat ia paksa pergi.
Kakek Bram langsung bergegas mengambil sesuatu dari balik baju nya.
"Kau pergi atau kau ku tembak!," sentak kakek Bram membuat Rea langsung berubah ketakutan setengah mati saat itu.
Sementara tuan Danu yang juga merasa ketakutan karna kini ujung pistol itu telah berada di depan muka nya, tetap berusaha tenang dan perlahan memilih mengalah dan pergi dari sana.
__ADS_1
"Suatu saat kalian akan mencari ku," ucap tuan Danu sesaat setelah ia memasuki mobil nya sembari bergegas pergi dari rumah itu.