
"Fatimah!, bisa kita bicara?," seru Mira seketika menghadang jalan Fatimah.
Ia masih butuh penjelasan akan sikap Fatimah beberapa saat lalu, sikap yang begitu mengejutkan nya bahkan untuk seluruh penghuni rumah bordil.
"Ikutlah dengan ku," ucap Fatimah sembari kembali berjalan memasuki kamar nya tanpa menatap Mira sedetik pun.
Sedangkan Mira langsung mengikuti langkah Fatimah tanpa bertanya apapun lagi.
"Tutup pintu nya," perintah Fatimah, dan dengan segera langsung di laksanakan oleh Mira.
"Sekarang katakan pada ku, kau tetap Fatimah yang dulu kan?, yang ku lihat barusan seakan itu bukanlah dirimu," seru Mira berharap keimanan Fatimah tidak hancur begitu saja.
Namun tanpa menjawab sepatah katapun.
Fatimah langsung mendekat ke arah Mira dan langsung memeluk nya.
Membuat Mira semakin heran dengan semua tingkah Fatimah.
Ada rasa sakit dan terguncang dalam diri Fatimah yang begitu jelas terlihat di raut wajah nya saat itu.
__ADS_1
Yang berhasil dengan sempurna ia sembunyikan dari hadapan yang lain.
"Aku sudah mencoba tak ada tangis tuk kali ini Mira, aku juga sudah berusaha tegar dan kuat sejauh ini," keluh Fatimah mencurahkan kegelisahan hati nya saat itu.
"T- tapi, di depan sana kau," ucap Mira merasa kali ini Fatimah kembali menjadi sosok yang ia kenal.
"Aku awal nya begitu marah kepada Bos besar dan semua kenyataan pahit itu, aku juga sudah mantap untuk pergi dari sini kembali ke orang tua ku, tapi setelah aku melihat apa yang mbak Rea rencanakan, hati ku kembali tak tega meninggalkan Bos sendirian di tengah tengah para orang orang licik seperti mereka, aku memang membenci Bos besar, tapi aku juga tidak tega meninggalkan nya dalam kesulitan seperti itu," seru Fatimah mengutarakan alasan nya melakukan semua itu.
"Lalu, apa tujuan mu mengambil alih rumah ini Fatimah?, apa guna nya?," tanya Mira masih tak mengerti dengan rencana Fatimah.
"Kau mau lepas dari jerat buruk rumah ini bukan?," seru Fatimah sembari menatap tajam ke arah Mira.
"Kedua wanita yang akan menjadi penghalang rencana ku sudah berhasil aku usir, dan kini aku yakin, semua wanita yang ada di rumah ini menginginkan hal yang sama seperti dirimu," seru Fatimah dengan begitu antusias.
"Apa kita akan mengosongkan rumah ini dan menjual nya?," tanya Mira mencoba menebak.
"Tidak Mira, rumah ini masih hak milik Bos besar, aku tidak benar benar berniat untuk memiliki nya, aku hanya berniat menyelamatkan nya dari tangan mbak Rea yang akan memperparah hidup kita jika rumah ini berhasil ia dapatkan," ucap Fatimah terus mengungkap rencana nya kepada Mira, wanita satu satu nya yang bisa ia percaya di rumah itu.
"Jadi, apa rencana mu?," seru Mira semakin penasaran saja.
__ADS_1
"Kita rubah semua hal buruk yang ada di rumah ini Mira, kita mulai dengan menutup semua akses para hidung belang itu untuk menghubungi kita lagi, tutup usaha tak bermoral itu dan kita ajak bicara semua wanita yang ada disini, kita pulangkan mereka yang ingin pulang ke rumah masa kecil mereka," ucap Fatimah membuat Mira menangis bahagia mendengar nya.
"Aku tak menyangka kau bisa berfikir sejauh itu untuk kami Fatimah, akhir nya aku akan hidup dengan tenang sekarang, terima kasih!, aku akan mengabarkan berita ini kepada yang lain," seru Mira sembari sekali lagi memeluk Fatimah dan segera bergegas keluar menemui yang lain.
Sedangkan di lain tempat, Rea dan Lely masih begitu marah dengan pengusiran mereka dari rumah bordil.
Dalam hati, mereka begitu mengumpat kata kata buruk serta sumpah serapah saat mengingat perlakuan Fatimah kepada nya hari itu.
Namun bukan Rea kalau harus menerima keadaan itu begitu saja.
"Kita mau kemana?," tanya Lely begitu penasaran saat taxi yang mereka tumpangi tak kunjung berhenti.
"Kita cari Bos baru," sahut Rea membuat Lely tercengang di buat nya.
"Emang kau pikir gampang cari Bos baru?," seru Lely merendahkan.
"Serahkan itu semua kepada ku, bukan Rea kalau hari ini kita tak dapat tempat tinggal dan juga Bos baru," ucap Rea dengan senyuman licik nya.
Seakan sudah ada planning matang dalam pikiran nya saat itu akan nasib hidup nya ke depan.
__ADS_1