
"Pak antar saya ke bandara ya..!!", seru Susan masuk ke dalam sebuah taksi online yang telah ia pesan.
Di sepanjang perjalanan, Susan memikirkan semua yang telah terjadi, siapa yang terzholimi dan siapa yang menzholimi.
Rahel memang sahabatnya, tapi bukan berarti semua kesalahannya bisa di maafkan begitu saja.
Sudah cukup aku mentolerin semua kesalahannya, secara tidak langsung aku juga ikut andil dalam kejahatannya, karna aku Rahel dengan seenaknya menelantarkan anaknya sendiri, karna aku juga, Mawar harus menderita dan kehilangan ibunya, gumam Susan dalam hati.
"Pak kita gak jadi ke bandara, kita di depan belok kiri ya", ucap Susan berniat menemui Rahel sebelum ia pulang ke Amerika, Beruntung jika Rahel bisa berubah setelah ia di nasehati.
1 jam kemudian.
"Berhenti pak, ini uangnya, trima kasih", ucap Susan keluar dari taksi dan mendekat ke arah gerbang rumah yang ia pandangi sejak tadi.
Susan membuka gerbang yang tak terkunci.
Ia melangkah dan berhenti di depan pintu depan rumah itu.
"Terkunci..!!", seru Susan mencari cari kunci pintu itu, seingatnya saat pertama ia datang kesini, Rahel mengambil kunci cadangan rumah ini di sekitaran teras.
Susan mencari ke setiap sudut, ke bawah pot bunga dan di bawah lukisan.
"Ketemu..!!", seru Susan menemukan kunci itu di dalam vas bunga di atas meja teras.
Ia dengan segera membuka pintu itu dan seketika ada Rahel yang siap memukulnya dari balik pintu.
Untung saja serangan itu bisa di tangkis oleh Susan.
"Susan....!!, ngapain kamu kesini..!!, kamu mau nyeret aku ke kantor polisi ya..??, licik kamu..!!", seru Rahel ketakutan dengan kedatangan Susan yang tau ia bersembunyi di rumah Jeri.
__ADS_1
Seketika Susan menekuk tangan Rahel dan membuatnya tak berkutik.
"Apa apaan ini..!!!", seru Rahel tak terima.
Susan menarik Rahel untuk duduk di kursi dan mengikat tangannya disana.
"Kamu tuli ya..!!, ohh aku tau, sekarang kamu berpihak sama Mawar ya..??, kamu bukan sahabat aku lagi..??, iya..!!", teriak Rahel membuat Susan geram dan menamparnya.
"Baguslah kalau kamu berfikiran begitu, aku juga sudah muak jadi sahabat kamu, yang kamu manfaatin cuma untuk nglancarin semua aksi bejat kamu..!!, dan ya..!!, aku memang membela Mawar, cuma orang bodoh kayak kamu yang gak bisa liat dia itu wanita seperti apa..!!", bentak Susan dihadapan Rahel.
"Kamu baru kenal dia sehari Susan...!!", seru Rahel tertawa.
"Dan ingat..!!, aku juga sudah kenal kamu bertahun tahun Rahel.., dan bodohnya aku masih bertahan menjadi sahabat kamu selama itu", ucap Susan mengambil remot tv di atas meja.
"Kamu mau apa..??, kamu mau puterin aku soal ceramah tausiyah..!!, silahkan..!!", ketus Rahel tersenyum sinis.
Susan tak mendengarkan ocehan Rahel, ia memutar tv di depannya, dan muncul tayangan wawancara Mawar tentang insiden yang terjadi kemarin.
"Kamu tonton aja dulu", ucap Susan duduk di sofa.
"Rahel tidak ada sangkut pautnya dengan insiden kebakaran itu"
Ucapan Rahek di berita tv itu membuat Rahel menganga.
Perkataan Mawar tidak sesuai dengan prediksi awal Rahel.
"Bagaimana mungkin..??", seru Rahel tak percaya.
"Lihatlah..!!, dia sudah menderita cukup banyak karnamu, dan kamu juga sudah tau, dialah yang merawat anak kandungmu..!!, tapi kamu masih saja memusuhinya, gila kamu..!!", ucap Susan kecewa.
__ADS_1
Rahel masih terdiam di tempatnya.
Susan yang melihat ekspresi Rahel berharap ia akan segera berubah dan bertaubat.
Tapi ternyata, ia memang benar benar telah menjadi seorang iblis.
Rahel seketika tertawa tanpa henti.
Membuat Susan menggelengkan kepalanya, menyadari satu hal, bahwa tak ada penyesalan di diri Rahel.
"Mawar..!!, Mawar..!!, emang gobl*k ya dia", seru Rahel terbahak bahak.
"Kamu emang keterlaluan ya..!!", seru Susan ingin meninggalkan Rahel dari tempat itu.
"Eitsss tunggu..!!, buka dulu dong ikatanku, masak kamu tega tinggalin aku gitu aja..??", ucap Rahel tersenyum pada Susan.
Susan pun melepas ikatan itu dan bergegas pergi dari tempat itu.
"Kamu pasti menyesal hel, lawanmu bukan wanita sembarangan, dan ku anggap persahabatan kita telah putus hari ini juga", seru Susan menutup pintu rumah Jeri dari luar rumah.
Segera Rahel tertawa terbahak bahak lagi.
" Terserah...!!, siapa juga yang mau punya sahabat kayak kamu..!!..... Senangnya..!!, ternyata aku telah bersembunyi tanpa sebab, aku terlalu takut Mawar menyeretku ke polisian, tapi...!!, Malah dia yang melepaskanku..!!", ucap Rahel makin keras tertawa.
Rahel segera mengambil kunci mobil dan bergegas meninggalkan rumah Jeri.
Ia ingin merayakan kebahagiaannya kini.
Sebelum pergi, ia menatap sekali lagi rumah Jeri.
__ADS_1
"Makasih ya Jer, kamu telah singgah di hidup aku, tapi sekarang kamu dah mati..!!, gak ada gunanya lagi buat aku, dan untuk kamu Mawar, urusan kita belum selesai", ucap Rahel melajukan mobilnya menuju kekediaman orang tuanya.