
Semenjak kepulangan Fatimah dari tempat rehabilitasi Rahel.
Fatimah menjadi gadis yang sedikit bicara dan tak seriang dulu.
Ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus tempat nya kini mencari ilmu.
"Ngapain kuliah juga kak, nyusahin bunda aja !, mending kakak cari uang buat bales budi ke bunda karna udah mungut kakak dari jalan !", ketus Aqly semakin kehilangan kesopanan nya kepada Fatimah setelah ia tahu identitas asli dari Fatimah.
Fatimah hanya diam tak menanggapi hinaan dari adik nya itu.
Ia segera memarkirkan mobil nya dan segera berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hey kak !, aku bicara dengan mu !", keluh Aqly keluar dari mobil sambil menendang pot bunga yang ada di samping nya.
Namun Fatimah tetap tak menghiraukan seruan Aqly, hingga sang bunda tiba tiba telah berdiri di hadapan nya, membuat langkah Fatimah terhenti seketika.
"Assalammualaikum", ucap Mawar mengingatkan.
"Walaikumsalam bunda", timpal Fatimah mengecup punggung tangan sang bunda.
"Kalian kenapa ?", tanya sang bunda yang heran dengan kedua raut wajah anak nya yang nampak tak senang.
"Gpp kok bunda, aku ke kamar dulu", seru Fatimah sembari bergegas masuk ke dalam rumah.
"Tapi sayang !", seru Mawar mencoba menghentikan langkah Fatimah, ia berharap ia dan Fatimah bisa mengobrol dengan puas seperti dulu lagi.
Bersamaan dengan itu, Aqly berjalan mendekati sang bunda, dengan raut wajah kesal ia mengecup punggung tangan sang bunda.
"Aku ke kamar dulu bunda", ucap Aqly berjalan dengan ogah ogah an.
"Tunggu sayang !", ucap Mawar mencoba menghentikan langkah kaki putra nya.
"Apa lagi sih bunda ?, aku capek !", ketus Aqly.
"Bunda mau tanya, kakak mu ada masalah apa ?, kok akhir akhir ini dia terlihat murung ", tanya Mawar membuat Aqly semakin kesal.
"Lagi lagi kakak !, lagi lagi kakak !, apa di fikiran bunda hanya kakak !", sentak Aqly.
"Astagfirullah Aqly !, bunda cuma bertanya, kamu kan yang setiap hari bersama kakak mu", keluh Mawar.
"Aku bukan baby sister nya bunda !, dan berhentilah menanyakan tentang dia kepada ku !, aku tak suka !, dan menurut ku ya bunda, kakak itu sudah dewasa dan tak usah lah kuliah, biar dia mandiri cari uang !", seru Aqly membuat air mata Mawar menetes.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, kini hati nya terluka akan sikap Aqly yang makin hari makin mengkhawatirkan.
"Dengar ya Aqly !, bunda tak pernah membeda beda kan kamu dengan kakak mu, dan asal kamu tahu, bunda tak pernah membiayai sekolah kakak mu sejak ia mengenal bangku sekolah !, ia menuntut ilmu sampai kuliah pun itu berkat prestasi dan beasiswa kakak mu sendiri !", seru Mawar menjelaskan sebuah hal yang tak pernah ia duga akan keluar dari mulut nya.
"Terus saja bunda bela dia !", sentak Aqly.
"Kenapa kamu terus memanggil kakak mu dengan sebutan dia Aqly !", seru Mawar menyeka air mata nya.
"Terserah !", seru Aqly bergegas masuk ke dalam rumah dan menggebrak pintu kamar nya dengan keras.
"Astagfirullah !, kenapa putra kita jadi seperti itu mas", seru Mawar sembari menangis tersedu sedu.
Sementara dari kejauhan, Fatimah ternyata menyaksikan semua itu dari balik korden jendela kamar nya.
Kejadian itu semakin membuat hati Fatimah menjadi remuk redam.
"Astagfirullah !, astagfirullah !", ucap lirih Fatimah sembari menahan tangis yang tak sanggup lagi ia tahan.
Ia pukul dada nya yang sesak, seakan ia kesulitan untuk menghirup oksigen kala itu.
"Apa salah ku ya Allah ?, kenapa juga aku harus menjadi beban untuk bunda ?", seru Fatimah sembari menangis di dalam kamar nya.
Ia terus menangis sepanjang waktu sembari meringkuk di atas ranjang nya.
Dalam beberapa hari ini ia hanya bangun saat azan berkumandang.
Bahkan seruan Mawar dan kakek nya tak ia hiraukan.
"Apa kita dobrak saja yah !, aku khawatir dengan nya, sudah dua hari ini ia tak keluar kamar", seru Mawar gelisah.
"Kita tunggu sebentar lagi, Fatimah anak yang kuat, mungkin puasa adalah pilihan nya dalam berdamai dengan diri nya dan masalah nya", ucap Pak Sam masih menatap ke arah pintu kamar Fatimah yang masih terkunci dari dalam.
Sementara di dalam kamar.
Fatimah terus saja duduk di atas sajadah nya.
Ia terus memanjatkan sholawat untuk menghibur hati nya kala itu.
Haus dan lapar tak ia rasakan saat ia sedang khusu' berdoa di depan sang pencipta.
Sore itu, setelah melakukan sholat Asyar.
__ADS_1
Fatimah berdiri di depan meja rias nya, ia tatap lekat lekat diri nya yang ia anggap tak berguna.
"Aku hanya ingin menjadi gadis ahli surga seperti bunda, tapi mungkin aku belum sanggup mengikuti jejak nya, cobaan kecil seperti ini saja aku sudah tumbang", keluh Fatimah menyeka air mata nya.
Tiba tiba jendela kamar nya terbuka dan angin kencang masuk ke dalam kamar.
Membuat tirai jendela kamar nya terkibas terkena angin hingga berulang ulang kali mengenai wajah nya.
Tangan Fatimah segera bergerak cepat menangkap tirai itu.
Cukup lama Fatimah terdiam sembari memegang tirai yang menutupi sebagian wajah nya.
Ia pandang diri nya semakin lekat ke arah cermin.
"Allah memang selalu bersama hamba nya", ucap Fatimah melepaskan tirai jendela dari pegangan nya dan berjalan ke arah pintu kamar.
Saat ia membuka pintu, sudah nampak Mawar, dokter Malik beserta sang kakek sudah bersiap untuk mendobrak pintu kamar nya.
"Putri ku !", seru Mawar langsung memeluk Fatimah yang kembali tak bisa membendung air mata nya.
"Kami sangat khawatir sayang", seru sang kakek.
"Jika kamu belum siap karna masalah pernikahan kami, om akan undur sampai kau siap", ucap dokter Malik.
Mendengar ucapan dokter Malik, Aqly tersenyum dari kejauhan.
"Ada untung nya juga dia mengurung diri nya", ucap Aqly merasa senang dengan rencana pernikahan bunda nya yang batal.
"Tidak bunda, aku tidak keberatan dengan pernikahan kalian, Fatimah hanya butuh waktu sendiri dan berniat berpuasa untuk menenangkan diri Fatimah", ucap Fatimah membuat senyuman Aqly berubah menjadi raut wajah kesal.
"Syukurlah sayang, kakek senang mendengar nya", ucap sang kakek menghela nafas lega.
"Dasar tak berguna !", ucap Aqly berjalan keluar rumah.
"Bunda, bunda sayang kan sama Fatimah ?", tanya Fatimah membuat Mawar memandang sang ayah.
"Pasti sayang !, bunda sayang sama anak anak bunda", seru Mawar berusaha mengusap air mata Fatimah.
"Apapun keputusan Fatimah, apakah bunda akan mendukung ?", tanya Fatimah lagi.
"Pasti sayang !, bunda yakin, kamu wanita sholehah, keputusan kamu pasti yang terbaik", seru Mawar.
__ADS_1
"Benar nak, kakek juga percaya dengan apapun yang ingin kamu lakukan", ucap sang kakek membuat dokter Malik tak tega menatap nya.
Apakah dia tahu sesuatu tentang masa lalu nya ?, gumam dokter Malik dalam hati.