
"Menikahlah dengan ku,".
Ucapan itu terus terngiang ngiang di ingatan Mira sejak hari itu, hari di mana Aqly menatap nya dengan tatapan tak seperti hari hari biasa nya.
Tatapan itu nampak bukan seperti sosok Aqly yang Mira kenal.
Ada sebuah kesungguhan dalam tatapan dan ucapan Aqly saat itu.
"Ah, lupakan Mira!, kau tahu lelaki itu semua sama," racau Mira terus berdebat dengan hati nya sendiri.
Hati yang seolah olah ingin mengatakan iya namun kata kata tidak lah yang seakan otak nya inginkan.
"Meskipun Aqly memang berniat berubah untuk diri ku, tapi bagaimana dengan keluarga nya?, mereka bisa menerima cacat masa lalu Bos besar tapi mereka tidak akan bisa menerima cacat masa lalu ku. Mana ada orang tua yang mau menerima menantu seorang bekas pelacur seperti ku," keluh Mira begitu memandang buruk diri nya sendiri.
Perdebatan dalam diri nya ter buyar kan saat terdengar suara tangis yang terdengar samar dari arah pintu gerbang.
Mira segera mendekat dan mencari asal suara.
"Kau siapa?," tanya Mira saat melihat sosok wanita bercadar tengah meringkuk di luar gerbang rumah besar.
Ia nampak lusuh dan seakan sudah berhari hari berada di jalanan.
"Maaf mbak, maafkan saya, saya hanya beristirahat sejenak di sini," sahut wanita itu sembari bergegas bangkit dari duduk nya.
"Lalu kenapa kau menangis?," tanya Mira mencoba membantu jika ia bisa.
__ADS_1
"Saya hanya meratapi nasib tak beruntung diri saya sendiri mbak, mungkin mbak tak tahu rasa nya hidup sebatang kara tanpa rumah seperti ku ini. Ah lupakan saja saya akan segera pergi, maaf mengganggu," ucap nya sembari bergegas pergi dari hadapan Mira.
Namun langkah nya terhenti saat tangan Mira memegang pergelangan tangan nya.
"Aku menawari mu makanan, apa kau mau?," seru Mira merasa iba.
"Ta- tapi majikan mbak akan marah jika seorang tunawisma seperti ku masuk ke rumah sebesar ini," ucap wanita itu terus saja menunduk saat berbicara.
"Kau tidak akan bicara seperti itu saat sudah bertemu dengan pemilik rumah ini," ucap Mira segera mengajak nya masuk ke dalam rumah.
Sesekali Mira mengedarkan pandangan nya saat memasuki rumah.
Ia sedikit merasa lega saat tidak mendapati Aqly di sana.
Setidak nya aku bisa sedikit melupakan hal itu, batin Mira sembari tak melepaskan pegangan tangan nya dari wanita bercadar yang baru saja ia temui.
Belum sempat Mira dan wanita itu bicara, Mawar sudah menunjukkan sikap ramah nya terlebih dahulu.
"Siapa saja yang masuk ke rumah ini adalah tamu anak ku dan tamu ku juga, mari silahkan makan lah dan segarkan badan mu di dalam," ucap Mawar memapah wanita itu menuju meja makan.
Tidak ada satu pun orang di sana yang menentang sikap Mawar saat itu.
Namun Bos besar seakan memiliki pemikiran berbeda saat itu.
Tapi pegangan erat dan tatapan manis dari Fatimah membuat kecurigaan nya terlupakan dan kembali berbahagia dengan acara pernikahan nya saat itu.
__ADS_1
---###-----
Sementara di tempat lain.
Tuan Danu nampak duduk di sofa rumah nya dengan wajah yang merah padam.
"Ini sudah jam 11 siang, kami permisi dulu, terima kasih atas kerjasama nya," ucap beberapa lelaki berseragam polisi lengkap yang tengah berdiri di pintu rumah tuan Danu.
Tak membuang buang waktu, mereka segera pergi setelah berpamitan dan menyelesaikan tugas mereka.
Saat kendaraan mereka telah benar benar meninggalkan rumah tuan Danu, seketika amukan tuan Danu tak terbendung lagi.
Semua orang yang ada di samping nya tak luput dari umpatan dan makian nya di saat itu.
"Ayo kita berangkat, ada pernikahan yang harus kita gagalkan," seru tuan Danu sembari merapikan penampilan nya setelah mengamuk tak karuan.
"M- maaf tuan, ijab qobul nya telah selesai," ucap sang sopir dengan gemetar nya.
Seketika amarah tuan Danu kembali menjadi jadi.
Ia tak segan segan memukul dan menampar para ajudan nya.
"Bodoh!, ini gara gara dua polisi bod*h itu!," sentak tuan Danu tak terima mendengar Fatimah telah benar benar di per istri kembali oleh Bos besar.
"Dan ternyata, kedua polisi itu adalah suruhan Bos besar tuan," ucap seorang tukang kebun yang mengetahui bocoran informasi itu dari orang luar.
__ADS_1
Mendengar itu tentu saja membuat darah tuan Danu semakin mendidih.
Amarah nya saat itu berhasil membuat semua pembantu bahkan ajudan nya terbirit birit melarikan diri dari sana demi menyelamatkan diri dari amukan tuan Danu.