Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
10 tahun kemudian.


__ADS_3

Fatimah nampak bergegas memasuki rumah setelah pulang sekolah hari itu.


Hari itu juga, tepat pengumuman kelulusan sekolah Fatimah di tingkat SMK di umumkan.


Dengan membawa sebuah piala, Fatimah tersenyum dengan bahagia sembari memanggil manggil sang bunda.


"Bunda !, bunda !, assalammualaikum !", seru Fatimah berlari memasuki gerbang, karna siang itu, satpam tak ada di tempat nya untuk membukakan gerbang sehingga mobil mereka tidak dapat masuk.


Sementara Aqly dengan ogah ogah han turun dari mobil seakan tak suka akan pencapaian sang kakak.


"Sok pintar !, pasti nanti bunda akan bangga banggain dia habis habisan", ketus Aqly.


Saat Aqly dan Fatimah hampir sampai di teras rumah.


Mereka melihat mobil sang kakek di halaman rumah.


Fatimah kemudian berjalan pelan, ia ingin memberi sebuah kejutan bahagia itu juga pada sang kakek dan om Malik.


Saat Fatimah akan masuk ke dalam rumah.


Langkah nya terhenti saat mendengar sang kakek bicara dengan nada serius kepada sang bunda.


"Kenapa berhenti sih ?", ucap Aqly heran.


"Stt, kayak nya mereka lagi bicara serius deh", ucap lirih Fatimah menghentikan langkah kaki Aqly.


"Ayah sudah tua, beruntung ayah masih bisa melihat kalian sampai saat ini, jadi tolong turuti permintaan Ayah", ucap pak Bram di samping Mawar dan dokter Malik yang nampak kebingungan untuk sekedar menjawab sang ayah.


"Tapi, ayah !, aku sudah bertekad tak ingin bersuami lagi, dan hanya ingin membesarkan kedua anak ku saja", ucap Mawar memegang tangan sang ayah berharap sang ayah mengerti.


"Benar pi, kita hargai saja pendirian Mawar", ucap dokter Malik.


"Dan papi harus tega melihat mu tetap membujang sampai sekarang !", seru pak Bram bersikeras.


"Aku akan menikah pi, tapi tidak sekarang", timpal dokter Malik.


"Oh ya !, papi tidak bodoh !, wanita yang kamu cintai hanya Mawar seorang ", seru pak Bram membuat Mawar menunduk dan merasa bersalah.


"Pi, tolong lah pi !, kita lupakan pembicaraan ini ya", ucap dokter Malik dengan nada memohon.


"Cih !, dia mau gantikan ayah Burhan, lebih baik bunda sendiri sampai tua", ketus Aqly.


"Itu gak baik Aqly, bunda sudah berikan semua nya untuk kita, kita harus hargai pilihan hidup nya", ucap Fatimah.

__ADS_1


"Bunda saja diam kak, berarti dia tak mau", keluh Aqly.


Sementara di dalam rumah, pak Bram masih bersikeras untuk membuat Mawar dan dokter Malik bersatu.


"Dengarlah anak anak ku, aku ini sudah tua, dulu aku sudah berbuat kesalahan terhadap kalian berdua, jika nanti aku pergi, biarkan aku tenang dengan melihat kedua anak ku bahagia", ucap pak Bram membuat Mawar dan dokter Malik saling pandang.


"Jangan berkata begitu yah ", seru Mawar menyeka air mata nya.


"Sudah banyak kebaikan yang kamu lakukan selama hidup Mawar, bahkan kamu mau menerima fatimah yang bukan anak kandung kamu, yang lahir tanpa pernikahan dan ibu nya juga telah jahat pada mu", seru pak Bram membuat Aqly tercengang, terlebih lagi Fatimah.


"Jangan bicara begitu yah, Fatimah anak ku dan akan selama nya begitu", seru Mawar tak mau ayah nya mengungkit ngungkit masa lalu.


"Kalau begitu, lakukan satu kebaikan juga untuk Ayah mu ini, menikahlah ya sayang", pinta sang ayah.


Jadi dia bukan kakak ku !, cih !, selama ini aku cuma dibanding banding kan dengan seorang anak haram yang kebetulan ia beruntung di pungut oleh bunda ku, gumam Aqly dalam hati mencoba menjaga jarak dari Fatimah.


"Baiklah ayah, jika itu permintaan ayah, aku bersedia menikah", ucap Mawar membuat dokter Malik malah tak terlihat senang.


Apa yang kamu lakukan Mawar ?, itu hanya akan membuat jarak diantara kita semakin canggung, gumam dokter Malik dalam hati.


Pak Bram langsung bahagia saat itu juga, ia memeluk kedua anak nya yang di masa lalu ia sia siakan.


Sedangkan Fatimah merasa sesak yang teramat sangat di dada nya.


Ia menerkam erat piala kebanggaan nya itu.


Dan perlahan, ia mulai menyeka air mata nya dan menarik nafas panjang.


"Aku harus baik baik saja demi bunda", ucap Fatimah mencoba mengukir senyum di bibir nya dan bergegas memasuki rumah.


"Assalammualaikum ", ucap Fatimah memeluk bunda nya.


Membuat Mawar dan yang lain nya syok melihat kedatangan nya.


"Fatimah dan Aqly sudah pulang ?, apa kalian dengar percakapan kami ?", tanya Mawar merasa khawatir.


Saat Aqly ingin menjawab nya, Fatimah lebih dulu mendahului nya.


"Tidak bunda, kami baru sampai", ucap Fatimah membuat Aqly memalingkan wajah kesal nya.


Jawaban itu langsung membuat pak Bram, dokter Malik serta Mawar merasa lega.


"Wah, cucu ku dapat piala lagi, hebat dong", seru pak Bram.

__ADS_1


"Makasih kakek, ini juga berkat kalian", ucap Fatimah mencoba menahan tangis nya.


"Barokallah sayang, semoga ilmu mu bermanfaat", ucap Mawar mengecup kening Fatimah.


Terima kasih untuk segala nya bunda, walaupun kenyataan itu begitu sakit di dengar, tangis Fatimah dalam hati.


"Bagaimana dengan kamu sayang ?", tanya Mawar pada putra nya.


"Seperti yang kalian duga, pasti pencapaian ku tidak ada apa apa nya ketimbang kak Fatimah", keluh Aqly berjalan masuk ke dalam kamar nya begitu saja.


"Astagfirullah Aqly", seru Mawar tapi tak ada respon dari putra nya.


"Sudahlah Mawar, dia masih anak anak, oh ya Fatimah, ada kabar baik untuk kalian, Bunda mu akan menikah dengan om Malik", seru pak Bram bahagia.


"Selamat ya bunda", ucap Fatimah memeluk kembali bunda tercinta nya yang masih tertegun dengan keputusan nya sendiri saat itu untuk menikah lagi.


Maafkan aku mas Burhan, ini demi ayah ku, gumam Mawar dalam hati.


Sementara di dalam kamar, Aqly yang mendengar nya merasa semakin kesal.


"Bahkan yang di kabari dulu anak haram itu !, keterlaluan !, baik kalau begitu, mulai sekarang aku juga akan hidup sesuai aturan ku dan keinginan ku", ketus Aqly melempar tas nya ke tembok.


"Kalau begitu, Fatimah ke kamar dulu ya bunda", ucap nya sembari mencium punggung tangan semua orang.


Begitu berbeda nya watak kedua cucu ku ini, semoga tak ada hal yang mengkhawatirkan di masa depan, gumam pak Bram dalam hati sembari menatap pintu kamar Aqly.


Setelah sampai di dalam kamar.


Tangisan Fatimah langsung pecah.


Ia tak menyangka hidup akan menghancurkan kebahagiaan nya dalam sekejap.


Fatimah menangis sembari menutup mulut nya dengan bantal, ia tak mau ada orang yang mendengar tangisan nya.


"Sebenar nya aku anak siapa ?, dan kenapa aku harus terlahir dari sebuah kesalahan ?", seru Fatimah sesenggukan.


Lalu ia menatap cermin dan memandangi diri nya.


"Aku harus cari tahu tentang ibu kandung ku", ucap Fatimah memantapkan niat nya.


Fatimah meraih foto nya bersama sang bunda dan memeluk nya.


"Tapi bunda tetap lah bunda ku, kenyataan ini bahkan membuat ku lebih sayang pada bunda, aku sayang bunda, aku akan buat bunda bahagia dan bangga pada ku", ucap Fatimah sembari menangis di sudut ruangan.

__ADS_1


__ADS_2