Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Berapa nilai ku!


__ADS_3

Fatimah terus saja memandang ke arah suami nya kala itu.


Air mata sudah terlihat mengalir dari kedua pelupuk mata nya.


Ada rasa marah, lelah dan kecewa di sana.


Ia sudah berusaha menerima lelaki di hadapan nya sebagai suami dengan susah payah.


Ia mencoba menerima hubungan yang tidak pernah ia inginkan itu.


Tapi kenyataan nya, diri nya masih di anggap sebatas boneka untuk nya.


Bahkan setelah semua yang ia lakukan di saat sang suami dalam keadaan tak berdaya.


"Setelah yang ku lakukan Bos?, bahkan di saat semua wanita mu tak punya waktu hanya untuk melihat keadaan mu?," ucap Fatimah membuat Aqly terdiam menatap nya.


Ada perasaan aneh yang menyeruak di hati nya.


Perasaan kasihan saat ia menatap sang kakak kala itu.


Mira yang melihat tatapan Aqly pun mengerti bahwa naluri Aqly sedang mencoba berbicara saat itu.


"Aku juga pernah merasakan yang di rasakan Fatimah saat ini Aqly," ucap lirih Mira membuat Aqly menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya.


"Tapi beda nya, aku telah berhasil di jual oleh Bos besar saat itu, aku terus menangis sembari mengutuk diriku sendiri, ingatan tentang sentuhan tangan tangan lelaki bajingan itu begitu menghancurkan diri ku," ucap Mira membuat Aqly diam tak berekspresi.


Seakan ia mencoba mencerna kesusahan yang telah dialami wanita wanita itu.


Sesaat, Aqly memalingkan wajah nya dan tak mau mengerti akan semua itu.


Ada sebagian dalam diri nya menolak mengerti akan kepedihan para wanita yang sengaja di jual dengan paksa.


"Maafkan aku," batin Bos besar dengan mata yang mulai basah.

__ADS_1


Dirinya mulai sadar bahwa tanpa keberadaan Fatimah, mungkin diri nya tidak akan terawat seperti sekarang ini.


Bahkan tangan dan tubuh nya yang tak bergerak sama sekali kini sudah berangsur angsur pulih dan bisa digerakkan walaupun hanya sebuah gerakan kecil.


"Berapa nilai yang kau bandrol untuk tubuh ku ini Bos!," sentak Fatimah seketika membuat semua nya tercengang.


Mereka begitu tak menyangka, Fatimah yang biasa nya lemah lembut bisa begitu marah seperti saat itu.


Tangis Fatimah mulai pecah bersamaan dengan dirinya yang seketika terduduk di lantai.


Kekuatan dalam diri nya seakan hilang saat itu.


Kaki nya bahkan terasa tak kuat lagi berpijak.


"Adik macam apa kau Aqly?, lihatlah hidup kakak mu karna ulah mu itu," ucap Mira mencoba mengusap air mata nya yang terus saja menetes saat melihat keadaan Fatimah saat itu.


Melihat semua itu, ia seakan melihat diri nya sendiri beberapa tahun silam.


Namun Aqly tetap saja diam, ia begitu bingung harus melakukan apa.


Saat ia menerima tawaran Bos besar beberapa bulan yang lalu, ia yakin itu adalah keputusan terbaik nya dalam hidup.


Ia juga yakin akan sukses tanpa keluarga nya.


Tapi kini, semua nya seakan berbanding terbalik dengan angan angan nya dulu.


Mana kesuksesan itu Aqly?, mana kebahagiaan yang akan kau dapatkan saat melihat Fatimah hancur?, kenapa semua malah begitu sesak di dada?, batin Aqly masih mencoba mengerti akan dirinya sendiri saat itu.


Ia ingin mengerti apa yang sebenarnya di inginkan hati nya.


"Mira!, coba katakan pada ku berapa harga yang Bos besar tawarkan untuk memiliki mu saat itu?," seru Fatimah segera bergegas menarik Mira dan menunjuk ke arah Bos besar yang masih terbaring tak berdaya di ranjang nya.


"50 juta," ucap Mira sembari menunduk sedih saat mengingat nominal pertama untuk harga sebuah kesucian nya.

__ADS_1


"50 juta Bos?, harga itu yang kau minta untuk harga diri kami?, kenapa kau tak bunuh saja kami Bos!," teriak Fatimah histeris sembari terus menangis tiada henti.


Lalu pandangan Fatimah mengarah kepada Aqly yang terus saja diam tak seperti biasa nya.


"Dan kau dik, kenapa kau hanya diam saja di situ, kemana bualan mu dan kesombongan mu yang biasa nya," ucap Fatimah menatap tajam ke arah Aqly yang tak sekalipun berani membalas tatapan nya.


"Dia tak akan mengerti ucapan kita Fatimah, sudahlah," ucap Mira ikut menatap kecewa ke arah Aqly.


"Ini kan hidup yang kau mau untuk ku dik, sungguh kau pembuat skenario yang hebat!, aku berdoa jangan sampai Allah mempersulit hidup mu karna ini semua," ucap Fatimah seketika memalingkan wajah nya, ia sudah muak melihat para lelaki yang tak menghargai wanita seperti Bos besar dan juga Aqly.


"Ada apa ini?," seru Rea berlari masuk ke kamar Bos besar bersamaan dengan wanita yang lain.


Mereka begitu penasaran dengan suara gaduh dari kamar itu.


"Tidak ada apa apa mbak, hanya negosiasi harga ku di sini," ucap Fatimah menarik tangan Mira untuk segera pergi dari sana.


"What!, negosiasi?, memang berapa harga mu Fatimah!, jangan berani berani mengungguli harga ku!," seru Rea segera bergegas mengejar Fatimah pergi dari sana.


Sedangkan Lely masih terpaku saat melihat kondisi Bos besar saat itu.


"Hai Bos," seru Lely menatap jijik ke arah sang Bos, lalu bergegas pergi dari sana bersama yang lain.


Bos besar langsung membuang muka dan menangis dalam diam.


Ia begitu merasa bersalah pada Fatimah saat itu.


Mungkin ini karma untuk ku, batin Bos besar terus mengutuk diri nya sendiri.


Sedangkan Aqly tetap diam tak bersuara, dan ikut pergi dari sana dengan bodoh nya.


Kini kamar itu begitu sepi, hanya ada Bos besar sendirian di sana meratapi kesalahan nya.


Mungkin dia tak akan mau lagi masuk ke sini, aku tak akan menyalahkan nya jika memang itu keputusan nya, bahkan jika ia memilih pulang ke rumah orang tua nya saat ini juga, aku tak apa. Jika tak ada lagi yang merawat ku, dan ranjang ini tempat nafas terakhir ku, aku juga tak apa, mungkin ini balasan untuk ku karna telah mempermainkan wanita sholehah seperti nya, batin Bos besar begitu marah dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2