
Tok.. Tok
Suara ketukan pintu seketika membuat mereka semakin tegang.
Perlahan, Tia berjalan menuju pintu dan membuka nya, namun dengan tangan yang gemetar ketakutan.
Saat pintu terbuka, Rea sudah berdiri di hadapan nya sembari berkacak pinggang menatap mereka.
Namun kini, ada yang berbeda dari rumah itu.
Gemerlap dan keramaian nya yang tiba tiba, membuat mata Tia tak henti henti nya melirik pandang ke arah belakang tubuh Rea.
Tia sesekali menelan ludah dengan berat nya.
Pasal nya apa yang ia lihat semakin menguatkan kekhawatiran nya saat itu.
"Heh!, kenapa kau diam begitu!," seru Rea sembari mendorong Tia masuk kembali ke dalam kamar.
Membuat Sesa dan Rose kembali menciut ketakutan melihat sikap Rea yang semakin berubah kepada mereka.
"Si- siapa para wanita di luar sana mbak?, kenapa mereka semua memakai baju seksi seperti itu?," tanya Tia mencoba berani demi mengetahui apa yang sebenar nya terjadi di dalam rumah itu.
"Mereka teman baru kalian di sini, kalian akan bekerja dengan mereka malam ini," ucap Rea membuat Sesa begitu tercengang mendengar nya.
"Mbak?, bukan nya mbak bilang kita akan jadi baby sister di sini?, tapi kenapa seperti nya mbak berbohong. Tolong bilang kalau mbak orang baik," ucap Sesa seketika membuat Rea tertawa begitu kencang nya.
Membuat ketiga wanita itu semakin bertambah ketakutan di buat nya.
"Dengar ya kalian!, gak ada orang baik di dunia ini, sebaik nya kalian cepat bersiap dan layani para tamu kita!, anggaplah mereka adalah bayi yang aku janjikan," seru Rea sembari berjalan menuju almari dan melempari mereka dengan gaun gaun pilihan nya.
"Gak!, kami mau pulang!," seru Tia sembari menggandeng tangan kedua teman nya.
Seakan untuk keluar dari sana hanya perkara mudah bagi nya.
"Kau mau melawan ku!," sentak Rea begitu kesal karna perintah nya di tolak mentah mentah oleh Tia.
"Akan ku tunjukkan sesuatu pada kalian hingga otak kalian itu tak akan lagi meminta untuk pergi dari sini," ucap Rea sembari menarik mereka keluar dari dalam kamar secara paksa.
__ADS_1
"Lepaskan mbak!, tolong!," teriak Tia membuat para wanita yang telah berkumpul di rumah itu hanya menatap sayu ke arah nya tanpa berbuat sesuatu untuk mencoba menolong mereka.
Tak berselang lama, Rea telah membawa mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah rumah itu.
Tempat di mana para pembangkang tuan Danu di tahan di sana.
Ketiga wajah gadis itu langsung berubah menjadi pucat pasi menatap isi ruangan itu.
Kaki mereka seakan tak kuat lagi berdiri jika tangan mereka tak berpegangan di tembok ruangan.
"Mereka?," ucap Tia dengan suara bergetar.
"Mereka adalah wanita wanita yang sok suci seperti kalian!, dan aku pastikan kalian akan jadi salah satu dari mereka jika tetap membangkang!," seru Rea dengan senyum menyeringai nya.
Dengan tubuh gemetar mereka mencoba menangkap pemandangan mengerikan di hadapan mereka.
"Tolong," rintih para wanita yang berada di balik jeruji besi berkarat dan tanpa penerangan satu pun tepat di hadapan mereka.
Membuat merinding siapa saja yang mendengar rintihan itu.
"Kalian tinggal pilih, harga diri atau nyawa kalian!, aku tunggu kalian di pintu keluar, dan ku katakan satu hal lagi, hanya pintu itu yang bisa membawa kalian keluar dari sini, itupun jika kalian menerima saran ku untuk patuh. Tapi jika kalian tetap bersikeras!, tetap lah di sini sampai malaikat maut datang," seru Rea sembari berjalan keluar dari ruangan itu.
"Gak!, aku gak mau mati di sini!," ucap Rose seketika memecah keheningan.
"Bagaimana ini Tia?, biasa nya kau selalu pintar menyelesaikan masalah kita," seru Sesa begitu histeris membayangkan diri nya akan hidup terhina atau mati dengan mengenaskan di sana.
Namun Tia yang selalu cepat dalam berfikir, saat itu nampak terlihat hanya diam dan membisu.
"Kenapa kau selalu mengandalkan nya!, apa aku tak berguna di mata mu!, hem," keluh Rose begitu tak terima, pasal nya dalam persahabatan mereka hanya Tia yang selalu di andalkan oleh Sesa.
"Itu memang kenyataan nya Rose!, jika bukan karna mu!, kita tak akan terjebak di sini!," seru Sesa sembari menangis meringkuk di lantai.
Ia benar benar putus asa saat itu.
Ia begitu memiliki angan angan besar mengangkat derajat keluarga nya di desa saat memutuskan untuk berangkat ke kota, tapi kini, semua nya telah hancur.
"Kita harus berusaha kabur dari sini!," ucap Tia membuat Rose dan Sesa langsung tercengang mendengar nya.
__ADS_1
"Apa kau tuli!, jalan keluar satu satu nya dari ruangan ini adalah pintu itu!, dan ada mbak Rea di sana!, jika kau keluar, berarti kau siap di jual malam ini!," seru Rose membuat Sesa semakin frustasi.
"Kita akan cari jalan lain!," seru Tia masih tetap optimis untuk bisa keluar dengan selamat dari rumah itu.
"Bicara dengan mu hanya membuat ku semakin sesak di sini!, lebih baik aku terima tawaran mbak Rea!," seru Rose membuat Sesa dan Tia begitu syok mendengar nya.
"Apa kau waras!," Sentak Tia tak percaya dengan pikiran sempit dari sahabat nya itu.
"Dari pada aku mati di tempat seperti ini Tia!, apa itu waras menurut mu!, jika ia lakukan saja!, aku masih ingin hidup!," seru Rose berjalan tanpa ragu menuju ke pintu keluar di mana Rea sudah menunggu mereka di balik pintu.
-----##----
"A- aku terima tawaran mbak," seru Rose membuat Rea tersenyum senang mendengar nya.
Namun saat ia berbalik dan hanya melihat satu gadis yang keluar, ia sedikit merasa kecewa dan kesal saat itu.
"Apa hanya kau yang berfikiran waras?, dua teman mu?," tanya Rea masih berharap mereka bertiga bisa mencukupi kuota yang di minta oleh tuan Danu.
"Mereka...," ucap Rose takut Rea kembali marah saat mengetahui kenyataan bahwa kedua teman nya lebih memilih mati di ruang bawah tanah dari pada harus menuruti keinginan Rea.
"Di situ kalian rupa nya!," seru Rea begitu senang nya melihat Tia dan Sesa perlahan mulai berjalan menuju ke arah nya.
Sementara Rose masih begitu terkejut dengan kedatangan dua teman nya itu.
"Bukan nya kalian?," ucap Rose segera di potong oleh Tia.
"Kami siap," seru Tia sembari memegang erat tangan Sesa yang masih nampak begitu ketakutan, apalagi saat berhadapan dengan Rea.
"Oke, cepat kembali ke kamar dan segera lah bersiap!, para tamu sudah mulai berdatangan," perintah Rea seketika langsung di jalan kan oleh ketiga gadis itu tanpa perlawanan sedikitpun.
Di sepanjang persiapan, tak ada obrolan sedikitpun dari ketiga nya.
Namun tatapan Rose masih terlihat mencuri pandang ke arah dua teman nya itu.
Ia begitu penasaran, apa yang membuat mereka langsung berubah fikiran dalam waktu sekejap.
"Ternyata kalian munafik juga," ucap Rose tanpa di hiraukan sedikitpun oleh Tia dan Sesa.
__ADS_1
"Dengar ya!, entah apa yang akan kita hadapi sebentar lagi, tapi yang pasti!, aku senang karna kita tak membusuk di ruangan bahwa tanah yang gelap dan busuk itu!, kadang harga diri harus kita lepaskan untuk tetap bertahan hidup di dunia ini," ucap Rose lagi lagi tak di hiraukan oleh Tia dan Sesi.
Membuat nya begitu kesal dan memilih keluar lebih dulu dari kamar itu, walaupun jantung nya masih berdegup kencang karna takut dengan apa yang akan ia lalui di luar kamar itu.