
"Apakah ini benar tempat nya?," tanya Mawar sembari menatap rumah besar yang berdiri kokoh di hadapan nya.
Baru saja mobil mereka memasuki halaman rumah besar.
Namun jantung Mawar tiba tiba berdegup kencang tanpa sebab yang jelas.
Seakan diri nya merasa, ada sesuatu yang tengah menanti nya di dalam rumah itu.
"Aku yakin kita tak salah tempat Mawar, aku sudah mengikuti petunjuk yang tertera di undangan yang kita dapatkan," ucap dokter Malik tepat menghentikan mobil nya di depan teras rumah besar.
Sementara di dalam rumah, Aqly begitu gugup dan kaki nya seakan begitu kaku untuk berjalan keluar menyambut tamu spesial mereka hari itu.
Apa yang harus aku katakan kepada mereka?, batin Aqly begitu gugup nya.
"Kenapa kau masih di sini?," seru Mira tiba tiba sudah berdiri tepat di belakang Aqly.
"Kau saja yang menyambut mereka," ketus Aqly sembari menyeka keringat dingin yang membasahi kening nya.
"Fatimah menyerahkan tugas itu pada mu bukan!," seru Mira membuat Aqly menatap kesal ke arah Mira.
Namun belum sempat Aqly menimpali ucapan Mira, dengan segera Mira kembali memarahi nya.
"Sudah!, jangan mengoceh lagi!, kau tak malu mengoceh seperti orang tua di hadapan anak anak, hah!," seru Mira membuat Aqly segera menatap ke arah anak anak asuh nya yang kini semakin tak sabar menyambut tamu mereka hari itu.
"Oke!, oke!," seru Aqly sembari memberanikan diri berjalan melewati pintu depan.
"Kak Aqly!," seru seorang anak asuh Mawar saat menatap Aqly yang baru saja keluar dari rumah besar itu.
"Aqly?," seru Mawar sembari memastikan seruan dari salah satu anak asuh nya itu bukanlah sebuah lelucon.
Tatapan nya langsung berhenti tepat di pintu depan di mana Aqly kini berdiri dengan begitu gugup nya.
"Mawar, putra mu!, Aqly Mawar!," seru bu Ratih dengan mata yang mulai basah.
Ia begitu tak menyangka akan melihat Aqly kembali setelah sekian lama.
"Aqly?, kau benar putra ku?," ucap Mawar perlahan mulai mendekati sang putra yang sudah cukup lama pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
Dengan sigap ia segera memeluk dan mengusap lembut wajah putra yang begitu ia rindukan selama ini.
Sementara Aqly hanya terdiam tanpa bersuara sepatah kata pun.
Seakan mulut nya terkunci saat itu juga, masih ada perasaan takut jika nanti nya sang kakak akan membeberkan kejahatan nya pada sang bunda walaupun Fatimah telah berjanji akan menyimpan rahasia itu rapat rapat jikalau Aqly mau menuruti setiap perintah nya.
Di saat itu juga, ia juga tak tahu harus berkata dan bersikap bagaimana di hadapan keluarga yang telah ia tinggalkan beberapa bulan lalu.
"Kenapa kau diam saja nak?, kami begitu merindukan mu?, kemana saja kau selama ini?," tanya dokter Malik dengan penuh tanda tanya besar dalam hati nya.
Sementara Mawar masih terus menatap tak percaya ke arah sang putra.
Bukan hanya kemunculan nya yang tiba tiba di hadapan keluarga saat itu, penampilan nya yang begitu berbeda juga memunculkan tanda tanya besar di benak Mawar dan seluruh anggota keluarga yang lain.
Pasal nya Aqly begitu tampan dengan setelah koko muslim yang membalut tubuh nya saat itu.
Model baju yang hampir tidak pernah mau Aqly pakai meskipun saat lebaran telah datang.
"Si- silahkan masuk," ucap Aqly dengan begitu gugup nya walaupun sedang berhadapan dengan ibu kandung nya sendiri.
"Jadi kau yang mengundang kami nak?," seru Mawar dengan pandangan yang kembali mengamati seluruh bagian dari rumah besar itu.
Melihat ketegangan yang tak ada akhir nya antara Aqly dan keluarga nya.
Mira mencoba datang dan mencairkan suasana.
"Selamat datang bapak, ibu, adik adik. Mari silahkan masuk, para tamu sudah berkumpul di dalam," seru Mira mencoba mencairkan suasana.
Mereka pun berjalan mengikuti Mira namun dengan pikiran yang masih terfokus pada Aqly.
"Nak, coba jelaskan semua nya saat acara ini usai, oke," ucap dokter Malik mencoba menasehati.
Namun, hanya dengusan dan tatapan tak suka yang di dapatkan dokter Malik akan niat baik nya itu.
"Sudah ku bilang, jangan pernah ikut campur!, kau bukan ayah ku!," sahut Aqly sembari kembali melanjutkan tugas nya hari itu.
Karna begitu penasaran nya.
__ADS_1
Mawar mencoba semakin mendekati Mira dan mencoba mengorek informasi dari nya.
"Nak, kalau boleh ibu tahu, kenapa lelaki muda itu ada di rumah singgah ini?, apa hubungan nya dia dengan tempat ini?," tanya Mawar secara perlahan tanpa ingin Aqly mendengar nya
"Dia sama seperti ku buk, relawan rumah ini," ucap Mira membuat Mawar begitu tak percaya saat mendengar nya.
"Apa kau sedang tidak berbohong?," tanya Mawar kembali, ia begitu ingin meluruskan semua tanda tanya di hati nya saat itu.
"Nanti ibu juga akan tahu semua nya, sebaik nya kita mulai saja dulu acara nya, kasihan anak anak," ucap Mira sembari mempersilahkan Mawar untuk duduk dan menyaksikan pertunjukan islami yang akan di tunjukkan oleh para anak asuh rumah singgah Ummar.
Acara demi acara, hati Mawar masih begitu gelisah.
Pandangan nya terus saja memandang ke segala penjuru rumah.
Seakan ia menantikan semua jawaban atas pertanyaan nya saat itu.
Bagaimana bisa Aqly ku menjadi relawan di rumah singgah ini?, dengan sikap nya yang begitu keras dan sulit di atur, batin Mawar begitu penasaran di buat nya.
Hingga Mawar tak bisa fokus sedikitpun dengan pertunjukkan yang sedang berlangsung.
Sementara Fatimah.
Masih nampak gugup di dalam kamar nya.
Sesekali ia menarik nafas dan membuang nya untuk menenangkan diri nya sendiri.
Perlahan ia duduk di hadapan Bos besar sembari menatap nya dengan penuh arti.
"Hari ini, bunda dan keluarga yang ku rindukan telah datang.
Ku harap, kau tak keberatan akan hal itu.
Selama aku yang mengatur semua nya, inilah yang akan terjadi di rumah ini, rumah singgah Ummar lah identitas baru rumah ini, dan kau suami ku, kau akan di kenal dengan nama Ummar di mata dunia dan di mata orang tua ku.
Maafkan aku jika memang kau tak menyukai nya.
Tapi percayalah, ini demi kebaikan semua nya Bos," ucap Fatimah sembari memakaikan sebuah kopyah di kepala sang suami.
__ADS_1
Kau salah Fatimah!, aku bahkan tak pernah merasa sebahagia ini sebelum nya, kau benar!, rumah singgah Ummar adalah identitas baru rumah ini, dan meskipun jika nanti aku di beri kesembuhan, aku tak akan pernah mengganti identitas rumah ku ini, bahkan detik ini atau bahkan di masa depan ,aku hanya akan di kenal sebagai Ummar suami mu, batin Bos besar masih begitu sulit hanya untuk mengucapkan sepatah kalimat saja.