
"Sebaik nya kau pergi dari sini Fatimah, aku kenal betul sifat tuan Danu, tak lama lagi dia akan segera kembali lagi ke sini," ucap Mira merasa begitu khawatir jikalau nanti nya Fatimah bernasib seperti diri nya.
Namun, tanpa berucap apa pun juga, Fatimah tetap menangis dalam diam meringkuk di atas ranjang kamar nya saat itu.
Ia begitu syok akan kenyataan bahwa sang suami masih berniat menjual nya kepada seorang lelaki hidung belang setelah semua yang telah ia lakukan untuk menjadi seorang istri yang baik.
Sementara di sisi lain, Rea nampak sedang mengendap ngendap memasuki kamar Bos besar.
Mendengar suara pintu terbuka, Bos besar mengira bahwa Fatimah tak tega untuk marah pada nya dan masih mencoba mengasihani diri nya yang lumpuh itu.
Namun saat sebuah belain tangan meraba kaki nya dan dengan berani menyentil pusaka nya, Bos besar begitu yakin bahwa itu bukanlah Fatimah.
"Hai Bos!," seru Rea segera menolehkan kepala sang Bos tepat ke arah nya.
Benar juga, tidak ada yang lebih berani dari Rea untuk mencoba menyentuh area pribadi ku, batin Bos besar dengan geram nya.
"Kenapa wajah Bos tegang begitu?, apa Bos enggak kangen sama aku?, hem!," bisik Rea sembari mencoba mendekatkan bibir nya ke telinga Bos besar, sembari tangan nya yang terus meraba penasaran akan pusaka milik Bos besar.
Gerakan tangan nya begitu cepat dan lihai hingga ia dengan mudah bisa menggenggam pusaka yang ia incar itu tanpa perlu melihat nya terlebih dahulu.
Lepaskan wanita jala*g!, batin Bos besar mencoba menghindar dari cengkraman Rea, namun diri nya masih belum bisa menggerakkan tubuh nya dengan leluasa.
"Ah!, Bos!, kenapa dia tak berdiri saat aku belai?, apa aku harus telanjang sekarang agar dia mau berdiri?," seru Rea dengan bibir cemberut nya.
Pantas ia menjadi primadona di rumah ku ini, semua pelanggan memuji pelayanan nya, sekarang aku mengerti alasan mereka. Dia begitu agresif dan bernafsu, bahkan pada lelaki lumpuh seperti ku, batin Bos besar merasa risih dengan sentuhan sentuhan Rea pada tubuh nya.
Rasa penasaran Rea ternyata masih belum juga terpuaskan.
Dengan sigap, Rea segera menindih tubuh Bos besar dengan seenak nya tanpa mau mengerti akan kondisi Bos besar yang lemah tak berdaya saat itu.
__ADS_1
Melihat wajah tampan Bos besar, seakan ia ingin mencengkram nya saat itu juga.
Namun Rea nampak kecewa saat usaha nya itu sama sekali tak mampu membuat pusaka Bos besar menegang.
"Sayang sekali Bos, ku kira hanya tubuh Bos saja yang lumpuh, tapi ternyata pusaka itu juga," keluh Rea perlahan turun dari tubuh Bos besar yang nampak sesak saat di tindih oleh tubuh Rea.
Dia tak akan bernafsu jika wanita nya seperti diri mu, batin Bos besar menatap marah ke arah Rea.
"Begini saja Bos!, dari pada Bos hanya berbaring seperti mayat dan tak ada guna nya seperti ini, lebih baik ikutin nasehat aku deh," seru Rea mencoba merogoh ke dalam baju nya dan mengeluarkan selembar kertas ber materai.
Melihat kertas itu, ada firasat tak baik yang menyeruak di hati Bos besar saat itu juga.
"Gini Bos, bos kan udah gak berguna nih, sayang kan kalau rumah bordil ini gak ke urus, mending aku aja yang urus," seru Rea sembari tersenyum dengan licik nya.
Jangan coba coba sentuh rumah ku!, sentak Bos besar dalam hati.
Dasar wanita kurang aj*r!, kurang apa aku selama ini hah!, sentak Bos besar sembari mencoba menepis tangan Rea yang kini sudah menuntun jari nya untuk di ambil cap jempol nya.
"Sedikit lagi bos," ucap Rea begitu tak sabar menekan kan jempol sang Bos ke atas surat kuasa atas pengalihan kepemilikan rumah bordil yang mereka tempati.
Namun, tiba tiba, ada sebuah tangan yang menepis surat itu dan menggagalkan rencana Rea.
"Fatimah!," sentak Rea naik pitan saat melihat bahwa Fatimah lah yang berani menggagalkan rencana nya.
Rea segera mengambil surat kuasa yang terjatuh di lantai namun kalah cepat dengan Mira.
"Aku penasaran, kali ini apa rencana mu?," seru Mira mencoba membaca isi surat kuasa itu dengan seksama.
"Kenapa diam Mira?, apa isi surat kuasa itu?," cerca Fatimah sembari terus menatap tajam ke arah Mira yang begitu nampak terkejut saat membaca isi surat kuasa itu.
__ADS_1
"Kembalikan Mira!, ini bukan urusan kalian!," sentak Rea mencoba merebut kembali kertas itu dari tangan Mira.
"Apa ini?, di saat kondisi Bos seperti ini kau masih tega kepada nya?," seru Mira tak menyangka.
Karna begitu penasaran, Fatimah mencoba membaca sendiri isi surat kuasa itu, setelah membaca nya ia begitu tak menyangka dengan sikap wanita di hadapan nya itu.
"Ku kira di saat kalian tak mau tau tentang perkembangan kesehatan Bos besar, itu sudah hal terburuk yang bisa kalian lakukan, tapi ternyata, kalian bisa lebih buruk dari itu," ucap Fatimah membuat Rea begitu terhina.
"Kau tak tahu apa apa tentang ku Fatimah!, jadi jangan pernah menghakimi aku seperti itu!. Dia!, dia orang yang pantas kau hakimi saat ini!, dia sudah berdosa pada semua gadis yang ada di sini!," teriak Rea bak orang kesurupan.
"Bagaimana aku bisa mengerti derita mu sedangkan kau tak pernah bercerita kepada ku!," sahut Fatimah masih menganggap sikap Rea saat itu adalah salah.
"Percuma!, kau tak akan mengerti, sekarang kembalikan surat kuasa itu atau aku bunuh Bos kalian ini!," ancam Rea sembari memecahkan sebuah vas di samping nya dan segera menodong leher sang bos dengan sebuah pecahan Vas.
Membuat semua penghuni rumah itu segera berhamburan mendekat karna suara gaduh yang sekali lagi berasal dari kamar sang Bos.
"Rea?, kau?," seru Aqly begitu tak percaya saat melihat Rea seperti orang kesurupan sembari menodongkan sebuah pecahan Vas ke leher sang bos.
"Minggir kalian semua!, aku lakukan ini juga demi kalian!," teriak Rea membuat Lely begitu khawatir dan berusaha mendekati sahabat nya itu.
"Minggir Lel!, biarkan aku selesaikan urusan ini!," sentak Rea membuat Lely segera mengurungkan niat nya.
"Saat rumah ini jadi milik ku, kita tak akan bergantung lagi pada orang lumpuh ini, tapi mereka berdua menggagalkan semua rencana ku!," teriak Rea tak terima.
"Rumah ini bukan hak mu mbak!," seru Fatimah mencoba memegang erat surat kuasa itu di tangan nya, agar siapapun yang berani membantu Rea tak akan dengan mudah mendapatkan nya.
"Sudah ku bilang ini bukan urusan mu!, kau tak berhak ikut campur!," teriak Rea sekali lagi, membuat Fatimah semakin geram di buat nya.
"Bukan kah seharusnya aku yang lebih pantas memiliki rumah ini di banding kau?," sentak Fatimah membuat semua orang tercengang mendengar nya.
__ADS_1