Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Abaikan hati, ikuti petunjuk Allah


__ADS_3

"Emmmm, harum sekali Mawar...??", seru Geyna keluar dari kamarnya mencium aroma masakan dari dapur.


"Sini buk, cicipi", ucap Mawar menyodorkan masakan yang baru matang ia masak.


"Fatimah juga mau bunda..!!", ucap Mbak Lastri sambil menggendong Fatimah dari arah taman belakang.


"Sini sayang, yukkk bunda suapin", seru Mawar mengambil Fatimah dari gendongan mbak Lastri.


"Ibuk mau sarapan dulu ah, laper", ucapnya sambil duduk di kursi meja makan, mengambil nasi dan lauk pauk.


"Mami juga dong, keliatannya enak banget...!!, kalau mami goreng telor aja gosong", ucap Geyna duduk di samping mbak Lastri dan mulai mengambil nasi dan lauk pauk kesukaannya.


Mawar tersenyum melihat bahwa keluarganya sudah bahagia dan lengkap sekarang.


"Fatimah sarapan dulu yuk..!!, kita ke teras depan", ucapnya sembari berjalan ke arah teras.


Mawar meletakkan Fatimah dalam trolinya, ia menyuapinya sembari mengajaknya mengobrol.


"Akkkk...., ammmm, pinterrr", ucap Mawar melatih rangsangan Fatimah untuk belajar berbicara.


Tiba tiba Burhan datang dan menegur Mawar.


"Assalammualaikum", seru Burhan yang sudah berdiri di hadapan Mawar.


"Walaikumsalam", ucap Mawar masih canggung dengan apa yang diperdebatkan mereka bertiga pekan lalu.


"Hallo Fatimah...", ucap Burhan mengajak Fatimah berbicara.


Mawar yang melihatnya sedikit tersenyum dan melupakan kecanggungannya.


"Mas sendiri..??, anak anak gak ikut..??", ucap Mawar mencoba bersikap biasa pada Burhan.


"Anak anak sedang berlibur bersama pak toriq guru mereka", ucap Burhan.


"Ehhh ada nak Burhan", seru Geyna keluar dari dalam rumah.


Dibanding dengan dokter Malik, Geyna lebih dekat dengan Burhan, karna sejak pertama kali Geyna bertemu dengan Mawar, Burhanlah yang membantu Mawar di saat Mawar merawat Geyna.


Mereka pun mengobrol akrab bersama, terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis.


Tanpa Mawar sadari dokter Malik dan bu Maryam sudah berada di sebrang jalan rumah Mawar.


Ia melihat semuanya, yang membuatnya semakin merasa marah.


Dokter Malik bergegas ingin keluar dari dalam mobilnya, seketika tangannya di tahan oleh bu Maryam.


"Mau apa kamu nak..??", seru bu Maryam mencegah anaknya berbuat macam macam saat sedang emosi.


"Mi, yang pertama dekat dengan Mawar itu Malik, kenapa dia yang baru kenal dengan Mawar selangkah lebih dekat dengan Mawar dibanding Malik..??", seru dokter Malik tak terima.


"Istigfar nak, jangan sampai kamu kehilangan dirimu hanya karna rasa cinta kepada lawan jenis", ucap Bu Maryam mengingatkan.


"Astagfirullah", ucap lirih dokter Malik mencoba menahan emosinya.


"Lalu...??, Malik harus gimana mi..??", ucap Malik.


"Jika kamu memang mau bicara dengan Mawar silahkan, tapi jaga sikap kamu..!!, oke..!!", ucap Bu Maryam mencoba terus menasehati Malik.


Dokter Malik hanya mengangguk lalu memandang ke arah Burhan dan Mawar yang sedang mengobrol.


Sedangkan Geyna sepertinya sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka berdua.


Dan tanpa sepengetahuan Dokter Malik dan Bu Maryam, Bram dan Rahel sengaja mengikuti mereka saat mobil mereka pergi dari rumah.


Bram curiga Malik sudah menemukan Mawar kembali, dan ternyata kecurigaannya benar.


Bram menghentikan mobilnya jauh dari mobil Malik, agar Malik tak melihat Bram mengikutinya sampai ke sana.


"Om, om yakin mereka sedang mengintai rumah Mawar ...??", ucap Rahel penasaran.


"Om yakin sekali, makanya om hubungi kamu biar kamu liat sendiri dan kasih pelajaran langsung sama perempuan itu", seru Bram geram.


Saat dokter Malik dan Bu Maryam keluar dari mobilnya, Bram pun melajukan mobilnya lebih dekat lagi.


Dan benar juga, ia melihat Mawar berada di teras rumah yang sedang di tuju anak dan istrinya.


"Itu dia biang keroknya", ucap Bram melihat dengan tatapan tajam ke arah Mawar.


Rahel pun melihat dengan seksama wanita yang sangat dipuja puja oleh calon suaminya itu.


Ia pun sedikit terkejut.


Lumayan cantik juga dia, gumam Rahel dalam hati mengakui kecantikan Mawar.

__ADS_1


"Kita samperin aja yuk om..!!", seru Rahel ingin segera keluar dari dalam mobil.


"Tunggu...!!, kita lihat dulu perkembangannya", ucap Bram dengan pandangan tetap tertuju pada Mawar.


Saat Mawar dan Burhan asyik berbincang, dokter Malik dan bu Maryam memutus obrolan mereka.


"Assalammualaikum", seru bu Maryam bersama dengan dokter Malik.


Mawar dan Burhan di buat kaget dengan kedatangan mereka.


"Walaikumsalam buk, buk Maryam apa kabar..??", ucap Mawar terlihat senang melihat kembali Bu Maryam setelah sekian lamanya.


Tetapi Mawar hanya melempar senyum pada dokter Malik yang terus saja memandanginya.


"Mari silahkan masuk buk", seru Mawar mengajak bu Maryam masuk kedalam rumahnya.


"Enggak usah Mawar, kita mengobrol di kursi teras saja ya", ucap bu Maryam.


"Mari buk", ucap Mawar menyetujui permintaan bu Maryam.


"Bik Mus, tolong urus Fatimah sebentar ya, dan buatkan minum untuk tamu tamu saya", ucap Mawar memanggil bik mus yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.


"Baik buk", seru bik Mus mendorong troli Fatimah masuk kedalam rumah.


"Ibuk apa kabar...??", seru Mawar masih tetap menghormati bu Maryam meskipun hubungannya dengan dokter Malik sudah tak sebaik dulu.


"Alhamdulillah, ibuk baik, dan kamu...??, sepertinya kamu berhasil di bisnismu ya Mawar", ucap Bu Maryam ikut senang dengan keberhasilan Mawar dalam karirnya.


"Alhamdulillah buk, ini juga berkat doa ibuk", ucap Mawar tak menghiraukan dokter Malik dan Burhan yang sedikit canggung saat saling berdekatan.


"Oh ya, ibuk kesini mau meluruskan tentang kamu dan Malik, ibuk masih berharap jawaban kamu waktu itu masih sama dengan sekarang Mawar", ucap bu Maryam memegang tangan Mawar.


Mawar langsung terdiam dan kembali dengan dilemanya.


"Mawar, jawab...??", ucap dokter Malik memohon.


Sejujurnya Mawar masih bimbang dengan keputusannya, siapakah yang akan ia pilih.


Sedangkan Burhan hanya diam dan menunggu jawaban dari Mawar.


Seketika mereka semua dikagetkan dengan kedatangan Rahel dan Bram yang secara tiba tiba.


Membuat mereka semua berdiri dari tempat duduknya.


"Kenapa kamu ada disini...??, dan papi..??", ucap dokter Malik terkejut.


"Aku ini calon istri kamu, dokter Malik yang terhormat, pertunangan kita tinggal 1 minggu lagi, tapi kamu masih main di belakang aku", ucap Rahel memandangi Mawar dengan sinis.


"Pi, lebih baik papi bawa pergi Rahel dari sini", ucap Bu Maryam takut Rahel akan membuat onar di sana.


"Kenapa tante...??, aku ini calon mantu tante lhoo, masak aku di bandingin sama wanita anak pelac*r ini sih ..!!", seru Rahel menatap mata dokter Malik.


Mawar hanya terdiam menahan air matanya dan membiarkan Rahel berbicara sesuka hatinya.


Burhan mencoba menenangkan Mawar dengan memegang bahunya.


"Diam...!!, jaga ucapan kamu ya..!!, memang kamu wanita suci..!!", seru Dokter Malik tak bisa mengontrol emosinya lagi.


"Apa...!!, apa...!!, kamu bisa apa..!!, kamu itu gak bisa apa apa..!!", teriak Rahel memancing amarah Dokter Malik.


Bu Maryam mencoba memegang bahu Malik agar ia tak lepas kendali, tapi dokter Malik sudah terlanjur terpancing amarahnya.


"Kamu...!!, aku itu tak pernah setuju bertunangan denganmu..!!, seru dokter Malik mendorong Rahel hingga jatuh tersungkur.


Mawar melihatnya dengan terkejut, air matanya menetes, ia tak menyangka akan melihat sisi lain dari lelaki yang pernah ia cintai.


Seketika Fatimah menangis dari dalam rumah.


Membuat Mawar masuk dan menenangkannya dalam pelukannya.


"Cup cup sayang", ucap Mawar menenangkan Fatimah.


"Mawar di luar ada apa..??, kok ada orang teriak teriak..??", ucap Mbak Lastri berlari keluar kamar bersamaan dengan Geyna.


"Gak apa apa buk, ini urusan Mawar, sebaiknya ibuk dan mami didalam saja", seru Mawar kembali ke teras depan.


"Mawar ...!!, aku bersumpah aku tak mencintainya Mawar, dia tak baik untukku", seru dokter Malik mencoba mendekati Mawar.


Sedangkan Fatimah kembali menangis saat Dokter Malik mendekati Mawar.


Seakan dokter Malik tak menghiraukan tangisan Fatimah, ia terus saja membujuk Mawar untuk menerimanya, tanpa melihat Mawar masih berusaha membuat Fatimah kembali tenang.


Beda dengan Burhan, ia terlihat tenang dengan drama dari keluarga Bram dan dokter Malik.

__ADS_1


Ia malah mengambil Fatimah dan menenangkannya menjauh dari semuanya.


Bu Maryam masih melihat seksama anaknya, ia terkejut akan apa yang ia lihat, lalu pandangannya teralihkan pada Burhan yang mencoba menenangkan Fatimah, padahal cerita yang ia dengar dari Malik, Burhan adalah saingannya saat ini.


"Kamu gpp..??", ucap Bram mencoba membantu Rahel berdiri.


"Sakit om", ucap Rahel membersihkan sikunya yang lecet.


Bram pun mendekati Malik dan menamparnya.


"Kamu keterlaluan Malik..!!, Rahel itu cuma memperjuangkan calon suaminya", seru Bram tak terima.


"Malik juga mencoba mempertahankan cinta Malik pi..!!", seru dokter Malik tak mau kalah.


Bram kembali mengangkat tangannya, tetapi di tahan oleh bu Maryam.


"Cukup pi..!!", seru Bu Maryam.


Bram pun menepis tangan bu Maryam dan pergi dari sana bersama Rahel.


Dari dalam rumah, Geyna mengintip pertengkaran mereka dari jendela.


Ia sangat terkejut dan hampir tersungkur di lantai, tubuhnya tak kuat lagi berdiri, ia sangat syok.


Seketika ia menahan tangisnya dengan menutupi mulutnya.


"Mi...!!, mami kenapa..??", seru mbak Lastri ketakutan.


Geyna hanya terdiam dan terus menangis.


"Bramm...!!", ucap Geyna lirih.


"Apa mi..??", ucap Mbak Lastri tak begitu mendengar apa yang Geyna ucapkan.


Bibi Mus dan mbak Lastri pun mencoba membawa Geyna kembali ke kamarnya.


Sedangkan Mawar terdiam dan mencoba mengartikan semuanya.


Tiba tiba seekor kupu kupu melintas di sampingnya.


Membuat Mawar mengingat akan ngengat yang ia lihat waktu itu.


Ia pun mengerti bahwa Allah sudah menjawab doanya, hanya saja Mawar tak mengerti itu semua sampai pada hari ini.


Mawar pun mencoba memberanikan diri menatap mata lelaki di hadapannya.


"Mas..., dulu memang aku mencintaimu, tapi apa kamu tau kenapa aku mencintaimu..??, itu karna aku melihat kebaikan dan imanmu , ketulusanmu saat itu, tapi apakah kamu tau mas apa yang telah aku lihat hari ini..??, aku telah melihat sisi lain dari dirimu, kamu memperlakukakan Calon istrimu secara tak pantas hari ini, walaupun aku tau kau membelaku mas, dan akupun bertanya tanya,


Jika nanti aku membuat sebuah kesalahan atau aku membuat hatimu tak suka dengan apa yang aku lakukan, apakah kamu akan bersikap sama seperti itu padaku mas...??,


Dan hari ini kamu mengabaikan tangisan seorang bayi hanya untuk meyakinkanku akan kebesaran cintamu...??", ucap Mawar meluapkan semua yang ingin ia luapkan.


"Tapi Mawar ...!!", ucap dokter Malik menyadari bahwa ia telah lepas kontrol akan emosinya, seketika ia melihat ke arah ibunya yang seakan kecewa dengan perilakunya.


"Mas..., sekarang aku tau apa yang Allah coba tunjukkan padaku, hatiku memang memilihmu, tapi terkadang kata hati tak selalu membawa kita pada hal baik, terkadang hati juga membenarkan sesuatu yang salah ketika kita memang sedang menginginkannya, seperti seekor ngengat yang suka dengan cahaya lampu yang ternyata bisa membahayakan dirinya sendiri jika ia menuruti kata hatinya untuk mendekati cahaya lampu kesukaaanya itu", ucap Mawar dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Jadi maksudmu kamu memilih lelaki itu..??", ucap dokter Malik menunjuk ke arah Burhan dengan matanya yang berkaca kaca.


Mawar pun menguatkan tubuhnya agar tetap berdiri di tempatnya.


Ia mengusap air matanya.


"Iyaaa mas, aku memang tak mencintai mas Burhan, tetapi ia lelaki yang sempurna yang dikirim Allah untukku.


Banyak orang bilang cinta itu bisa tumbuh setelah menikah bukan...??", ucap Mawar yakin dengan keputusannya.


Dokter Malik pun memegang kedua bahu Mawar dan menatapnya, lalu kemudian melepaskannya secara perlahan dan berjalan menjauh ke luar dari rumah Mawar dengan putus asa.


Bu Maryam pun tak berbicara apa apa, ia mengusap air matanya dan pergi bersama putranya.


Burhan lalu mendekati Mawar yang langsung terduduk lemas di kursi sembari menangis sejadi jadinya.


Burhan pun tak berkata apa apa dan mencoba mengelus jilbab Mawar mencoba menenangkannya.


Ia membiarkan Mawar tenang dan meluapkan semuanya.


Inilah yang diinginkan Allah untukku, gumam Mawar dalam hati.


Mawar memperlakukan cintanya sesuai petunjuk dari Allah.


Sedangkan dokter Malik memperlakukan cintanya sebagai sebuah ambisi sehingga membuatnya jati dirinya hilang dari dirinya sendiri.


Allah punya cara tersendiri untuk membuat seseorang mengerti akan hati dan cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2