
Setelah 1 jam, api di kediaman Mawar telah berhasil di padamkan.
Salah seorang warga juga telah berhasil menghubungi Mawar perihal rumahnya yang telah terbakar habis.
Mawar dengan cepat sampai di depan rumahnya.
Menyibak kerumunan warga yang menutupi area jalan rumah Mawar.
Mawar terpaku di depan gerbang rumahnya setelah berhasil menyibak warga yang menutupi jalannya.
Ia tak kuasa menahan kepedihan dalam dirinya.
Ia langsung jatuh terduduk lemas di aspal jalanan.
Ia menatap dalam dalam rumahnya yang telah habis terbakar.
Air matanya terus mengalir deras di kedua matanya.
Bahkan seluruh badannya gemetar saat itu.
"Ibukkk...!!!!", teriak Mawar mencoba merangkak dan mendobrak dobrak gerbang yang terkunci dari dalam.
Begitu histerisnya ia sampai tak ada warga yang berani mencoba menenangkannya.
Mereka bahkan ikut terdiam dan terpaku merasakan kesedihan yang tengah di alami Mawar.
"Ibuk....!!!, ini Mawar buk...!!", teriak Mawar memegang gerbang besi yang telah terbakar dan menghitam.
"Hentikan Mawar...!!, Astagfirullah..!!, tanganmu bisa terbakar..!!", seru Burhan berlari dan bergegas memeluk erat tubuh Mawar agar menjauh dari besi panas dihadapannya.
"Ibukkk Mas...!!, ibukku...!!", seru Mawar histeris.
Dokter Malik pun menghentikan langkahnya, ia melihat Mawar yang tengah syok dan terluka di pangkuan Burhan.
"Astagfirullah", seru dokter Malik memeriksa tangan Mawar yang terluka karna sempat memegang besi panas di depannya.
Burhan menatap rumah mereka yang telah terbakar habis.
Ia menangis dan seketika ikut terpukul seperti Mawar.
Dokter Malik pun tercengang dan terbelalak tak percaya melihat Burhan dan Mawar yang lemas tak berdaya.
"Jangan bilang, ibuk ada di dalam..!!", seru dokter Malik mengartikan kesedihan Burhan dan Mawar.
Burhan hanya mengangguk dan tak kuasa menahan tangisnya.
Sementara Mawar mulai histeris kembali saat pintu gerbang berhasil di hancurkan oleh warga sekitar.
__ADS_1
"Jangan Mawar...!!", seru Burhan menarik tangan Mawar sekuat tenaga agar tak masuk ke dalam bekas kobaran api.
"Aku harus cari ibuk, ibuk pasti nunggu aku pulang ..!!", teriak Mawar semakin histeris.
"Malik tolong bantu aku", seru Burhan berusaha memegang Mawar yang terus memberontak.
Dokter Malik langsung mengambil obat dan alat suntik dari tasnya.
Lalu Ia menyuntikkan obat penenang di lengan Mawar.
Tak berapa lama Mawar di buat tak sadarkan diri di dekapan Burhan.
"Bagaimana lagi aku bisa menenangkan Mawar....??, aku tak sanggup menghadapinya..", ucap Burhan menangis meratapi kepergian mbak Lastri yang sangat tragis seperti Geyna dahulu.
Dokter Malik memandangi rumah Mawar yang terbakar, ia mendekati pintu depan yang telah remuk dan hangus.
Jasad mbak Lastri tengah di tandu oleh petugas rumah sakit dan akan segera di autopsi.
Dokter Malik melihat kejanggalan yang terjadi.
Ia melihat vas bunga besar yang berada di depan pintu.
"Mustahil Mawar meletakkan hiasan vas bunga sebesar ini di sini...??", seru dokter Malik merasa ada yang janggal.
Ia kemudian merasakan bahwa ia mencium bau menyengat.
Dokter Malik makin penasaran.
Ia berjalan mengelilingi rumah meskipun telah dihadang oleh polisi ia tetap mengendap ngendap mencari lebih banyak informasi atas kecurigaannya itu.
Ia melihat pintu belakang.
"Gembok...??", bagaimana bisa pintu ini di gembok dari luar..??", ucap dokter Malik mencoba masuk ke dalam dan melihat apa yang bisa ia temukan.
"Pasti ada cctv di sini", seru dokter Malik melihat labtop yang telah terbakar di dalam rumah itu.
Sepertinya ini tersambung dengan cctv rumah ini, gumam dokter Malik dalam hati.
Ia bergegas membawa perangkat yang tersisa, dan segera pergi dari sana.
Lalu dokter Malik membawa Burhan dan Mawar menuju kekediamannya.
"Bunda kenapa yah..??, ayah juga, kenapa nangis..??", seru Fatimah yang ternyata hari ini ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
"Gpp sayang, kita ke rumah kakek dulu ya", ucap Burhan menghapus air matanya.
Sementara di kediaman Bram.
__ADS_1
Terlihat Bram dengan kursi rodanya, di dorong oleh bu Maryam tengah bersiap menyambut kedatangan mereka.
Bram meneteskan air matanya memandang ke arah jalanan.
"Papi harus kuat, biar Mawar juga tak sedih lagi, ia kan bisa tinggal di rumah kita nantinya, dia sudah mami anggap anak sendiri", ucap Bu Maryam memegang pundak suaminya.
Bram hanya mengangguk.
Bodohnya aku menyianyiakan hidupku yang sudah Allah berikan kesempurnaan di dalamnya, gumam Bram dalam hati menyesali masa lalunya.
Ketika dokter Malik datang, bu Maryam dan Bram sangat terkejut melihat Mawar yang tengah tak sadarkan diri.
"Astagfirullah..!!, bawa Mawar masuk..!!", seru bu Maryam mengajak Burhan masuk ke dalam rumah.
Burhan meletakkan Mawar di sofa, bu Maryam mencoba menyadarkan Mawar dengan berbagai cara.
"Mawar masih dalam pengaruh bius mi, nanti dia akan sadar dengan sendirinya", ucap dokter Malik masuk ke dalam rumah dengan mendorong kursi roda Bram.
"Apa maksudmu...??, sebegitu histerisnya kah Mawar kehilangan rumahnya..??, yang penting kan gak ada korban jiwa", ucap Bu Maryam.
Seketika Burhan dan dokter Malik terdiam.
Bu Maryam yang melihat itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter Malik.
"Apa ada yang mami tak ketahui Malik..??", tanya bu Maryam bingung dengan sikap Burhan dan dokter Malik.
"Bu Lastri mi", ucap dokter Malik memicu tangis Burhan.
"Bu Lastri..??, apa maksudnya ini..??, gak mungkin...??, bukannya kalian semua ada di rumah sakit..!!", seru bu Maryam dengan mata berkaca kaca.
"Ibuk Lastri berada di rumah ketika itu terjadi buk, ia sengaja pulang untuk mempersiapkan kedatangan Fatimah dari rumah sakit", ucap Burhan mencoba menahan tangisnya.
Bu Maryam pun tak kuasa lagi membendung air matanya.
Ia terduduk di sofa dan menangis tersedu sedu.
Ia mengelus Mawar yang tengah pingsan.
"Kenapa semua ini bisa terjadi...??, Ya Allah...!!, bu Lastri...!!", seru bu Maryam tak percaya.
"Ma,.....,ma,,,wa, r", ucap Bram mencoba meraih tangan Mawar sambil menangis.
Maafkan ayah yang telah memberimu hidup seperti ini...!!, gumam Bram dalam hati mencoba memukul kaki dan dadanya.
"Ya Allah pi..!!, tenangin diri papi, jika kita lemah, bagaimana dengan Mawar nantinya", seru dokter Malik berusaha mencegah Bram melukai dirinya sendiri.
Semua pun larut dalam kesedihan, bahwa insiden baru telah terjadi lagi, dan lagi lagi mengambil bagian penting dari hidup Mawar.
__ADS_1
Entah bagaimana lagi si fulan Mawar menerima takdir itu.