
Setelah pernikahan Sakral itu terlaksana.
Kini murid Fatimah bertambah satu orang lagi.
Ia begitu khusu' dan nampak bersungguh sungguh mempelajari apa yang tengah Fatimah ajarkan pada nya.
Dengan memakai setelan baju muslim lengkap dengan kopiah di kepala nya.
Nampak Bos besar begitu berusaha keras untuk terus mengulang huruf huruf hijaiyah yang tengah di ajarkan Fatimah sebagai dasar untuk memperkenalkan diri nya akan islam.
Bos besar juga tak nampak mempermasalahkan siapa diri nya dan siapa Fatimah dalam setiap proses belajar mereka.
Karna kini Bos besar juga langsung memahami satu hal dari status baru yang ia sandang sekarang.
Bahwa derajat suami dan istri adalah sama dalam sebuah pernikahan.
Mereka menikah dengan tujuan untuk menyempurnakan diri satu sama lain, walaupun dalam kenyataan nya tidak ada manusia yang lebih sempurna di antara manusia manusia lain di muka bumi.
Derajat mereka sama di mata Allah begitu pun dalam kehidupan pernikahan.
Tidak akan rendah derajat suami saat sang istri berbagi ilmu agama maupun kehidupan kepada nya.
ا (alif)"
ب (ba')
ت (ta')
ث (tsa)
ج (jim)
ح (ha')
__ADS_1
خ (kha')
د (dal)
ذ (dzal)
ر (ra')
ز (za)
س (sin')
ش (syin)
ص (shad)
." ض (dhad)
Bacaan Bos besar berhenti bersamaan dengan senyum kecil yang nampak dari bibir nya.
"Sabar suami ku, perlahan pasti kau bisa mengingat semua nya," ucap Fatimah dengan telaten nya terus mengulang setiap huruf hijaiyah yang terlupakan oleh suami nya.
"Assalammualaikum, boleh bergabung?".
Seruan Mira membuat Bos besar langsung menghela nafas panjang dengan penuh rasa pasrah.
Pasal nya di belakang Mira akan selalu di ikuti oleh para anak anak didik nya yang begitu bersemangat mengaji dan belajar bersama Fatimah.
"Mira, apa kau tak bisa belajar sendiri dan mengajari mereka sebentar sampai pelajaran ku selesai?," keluh Bos besar membuat Fatimah menahan tawa nya.
"Aku harus bagaimana kak Ummar, Bos besar dulu tidak pernah mengajari ku ilmu agama lalu bagaimana aku bisa mengajari mereka hal yang tak ku bisa," sahut Mira membuat Bos besar segera menutup iqro nya.
"Aku mengalah Fatimah, tidak ada guna nya berdebat dengan perempuan, akan banyak mengundang dosa, itu benar kan?, aku membaca nya di buku yang kau berikan kemarin pada ku," ucap Bos besar dengan lugu nya membuat Fatimah semakin berusaha keras menahan tawa nya.
__ADS_1
"Baiklah suami ku, kita lanjutkan belajar kita setelah sholat isya nanti, segarkan tubuh mu dan makan lah, aku sudah menyuruh Rani menyiapkan makan malam," ucap Fatimah membuat Bos besar kembali merasakan kejanggalan di hati nya lagi setiap mendengar nama Rani di sebut.
Rani yang merupakan nama dari wanita asing bercadar di acara pernikahan nya kini telah menjadi salah satu penghuni rumah besar.
Itu semua merupakan permintaan Mawar serta persetujuan dari Fatimah dan anggota keluarga yang lain, termasuk Bos besar sendiri.
Pasal nya ia tidak berani mengutarakan rasa curiga nya akan kedatangan Rani di saat itu.
Sebelum ada bukti yang jelas, sebaik nya aku diam, batin Bos besar hanya mengangguk sembari tersenyum menghargai perhatian Fatimah kepada nya.
---##----
"Alhamdulillah," ucap Bos besar setelah kembali keluar dari kamar nya.
Ia nampak kembali segar dan semakin tampan setelah menyegarkan diri dan menyempatkan sholat asyar di sore itu.
Perlahan ia mulai berjalan menuju ruang makan.
Nampak dari kejauhan Rani tengah sibuk menata piring di atas meja makan.
"Sore tuan, makanan nya sudah siap, saya permisi," ucap Rani seketika langsung berjalan masuk kembali ke dapur saat melihat kedatangan Bos besar.
"Dia lumayan rajin selama di sini," ucap Bos besar mencoba menepis rasa curiga nya selama ini, namun entah kenapa filling nya begitu kuat mengatakan ia harus tetap waspada terhadap sosok Rani.
Sementara Rani kembali terlihat keluar lewat pintu belakang sembari menenteng bak sampah yang nampak begitu penuh.
Namun entah kenapa ia nampak begitu tergesa gesa saat itu.
"Kenapa aku bisa lupa membuang nya," racau Rani sembari mengeluarkan sebuah korek api dari saku nya.
Perlahan ia mulai menyalakan api dan membakar sampah yang ia bawa di samping tembok rumah, padahal ia bisa membuang nya di tempat sampah yang tersedia di tepi jalan rumah mereka untuk nanti nya di angkut oleh truk sampah komplek.
"Rani!,".
__ADS_1
Seru sebuah suara dari dalam rumah membuat nya kembali bergegas masuk ke dalam.
"Iya mbak!," sahut Rani tanpa memperdulikan nyala api nya yang tak berhasil membakar sebagian lagi kantong sampah milik nya.