
"Bukan tanpa alasan aku menaruh curiga saat melihat mu di sini Danu," ketus kakek Bram sembari dengan cepat langsung mencengkram kerah baju milik tuan Danu, ia merasa bahwa kejadian itu ada kaitan nya dengan sahabat lama nya itu.
"Lepaskan!, aku ingin mencari kekasih ku," seru tuan Danu membuat kakek Bram semakin geram.
Seakan ia begitu gelisah akan keadaan Fatimah saat itu, hingga ia tak terlalu menanggapi ocehan dari kakek Bram saat itu.
"Kau tetap di sini!," seru kakek Bram yang kini dengan cekatan segera mencekal kedua tangan tuan Danu.
"Lepaskan!," sentak tuan Danu mengulang seruan nya sesaat sebelum rumah di hadapan mereka mulai runtuh.
"Fatimah!," teriak Mawar begitu histeris nya hingga pingsan di saat itu juga.
Para warga yang berada di sekeliling nya mencoba menolong nya untuk menjauh dari reruntuhan rumah besar yang mungkin saja membahayakan nyawa mereka.
A- apa Fatimah benar benar sudah tiada?, batin Aqly mulai merasa batin nya terkoyak saat itu.
__ADS_1
Ia merasa ada perasaan yang aneh menyeruak dalam diri nya secara tiba tiba.
Di sisi lain ia merasa lega karna itu berarti ia akan terlepas dari bayang bayang sang kakak selama nya.
Tapi di sisi lain, dirinya menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan apapun juga tanpa dorongan sang kakak.
"Setidak nya bunda hanya akan menjadi ibu ku seorang," ucap lirih Aqly sembari menatap kobaran api yang kian membesar meskipun upaya para warga tak ada henti nya untuk memadamkan api yang ada.
"Aqly!, jangan diam saja!, cepat panggil ambulans kesini," perintah dokter Malik begitu panik melihat sang istri nya pingsan saat itu.
Belum sempat Aqly selesai menghubungi para medis, ia dan yang lain nya begitu terkejut melihat pemandangan di hadapan mereka.
"Kau?, bagaimana bisa?," seru tuan Danu tak bisa mengerti dengan semua yang sedang ia lihat.
"Ka- kau?," ucap Kakek Bram tak berkedip sedikitpun hingga Bos besar kini telah berada tepat di hadapan nya.
__ADS_1
Dengan tubuh yang tegap tanpa goyah sedikitpun, lelaki lumpuh itu telah berhasil berdiri kembali dengan kedua kaki nya.
Dengan badan penuh luka bakar, tubuh Bos besar tak bergetar dan mengeluh sedikitpun saat menggendong Fatimah keluar dari kobaran api yang ada.
"Kenapa kau diam saja!, cepat bantu dia Aqly!," seru dokter Malik sembari sibuk menggendong Mawar menuju ambulans yang saat itu suara nya sudah terdengar semakin dekat ke arah mereka.
Tanpa menjawab seperti kebiasaan Aqly biasa nya, ia dengan cekatan segera meraih tubuh Fatimah dari dekapan kedua tangan kekar Bos besar dan dengan cepat membawa nya mengikuti arahan dari dokter Malik.
Sementara Bos besar, Tuan Danu serta kakek Bram masih betah menatap antara satu sama lain nya.
Kenapa semua jadi kacau begini!, batin tuan Danu sembari mengepal geram kedua tangan nya.
Melihat Bos besar yang telah selamat dari rencana nya, ia begitu marah.
Karna bukan tidak mungkin kesempatan nya mendapatkan Fatimah akan jauh lebih kecil dan sulit dari sebelum nya.
__ADS_1
"Ayo tuan!, luka mu juga harus di obati," seru seorang perawat mencoba memapah Bos besar untuk masuk menuju ambulans kedua yang baru saja datang.
Kenapa?, kenapa jadi begini!, aku tak akan biarkan Rea lolos kali ini, batin tuan Danu segera pergi dari tempat itu.