
Mawar memandang ke dalam rumah kos yang ia dan ibunya akan tinggali, tempat baru untuk memulai hidup baru.
Tangan Mawar mengusap cat tembok yang agak memudar.
Meja meja yang masih berdebu.
Dan barang barang yang masih berantakan akhibat telah lama tak ditinggali.
"Nak, kamu yakin pilih rumah ini..??", ucap Mbak Lastri.
"Insyaallah yakin buk, rumah ini sudah cukup bagus bagi Mawar buk, rumah ini hanya kurang perawatan saja", ucap Mawar mengintip ke arah dapur.
Tak ada peralatan apapun, ini artinya Mawar harus berbelanja untuk memenuhi peralatan rumah dulu.
"Buk, nanti setelah bersih bersih aku mau ajak Azizah ke pasar ya, ibuk gpp kan sendiri di rumah..??, Mawar mau beli perkakas rumah", ucap Mawar mencoba memeriksa kondisi almari dapur, yang mungkin butuh diperbaiki demi keamanan ibu di dapur.
"Iyaa gpp nak, tapi...??, apa kamu masih bawa uang..??, semua kan ada di pondok", ucap Mbak Lastri.
"Alhamdulillah buk, kartu atm dan handphone ada di dalam tas, sebenci bencinya penghuni pesantren pada kita buk, mereka tak akan mau memakan yang bukan hak mereka, semua hasil kerja keras Mawar dan tabungan Mawar ada di dalam tas yang mereka berikan ke kita", ucap Mawar menghilangkan kekhawatiran ibunya.
"Syukur kalau begitu Mawar", ucap Mbak Lastri lega.
"Iyaa buk, jika untuk kita bertahan hidup beberapa bulan pun tabungan Mawar insyaallah masih cukup", ucap Mawar.
Mbak Lastri dan Mawar pun mulai beberes rumah kontrakan baru mereka.
Dalam sekejam saja, rumah itu terlihat jauh berbeda dari kondisinya yang sebelumnya.
Tok tok...
"Assalammualaikum", ucap seorang wanita di depan pintu rumah.
"Walaikumsalam", sahut Mawar keluar dari bilik kamarnya.
"Mawar...!!", seru wanita itu, meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja dan segera memeluk Mawar.
Mawar memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang sedang memeluknya itu.
Ia mungkin sudah lebih tua dari terakhir kali Mawar bertemu dengannya, tapi kebaikannya pada Mawar masih tetap sama dan tak sulit mengenali siapa wanita di hadapannya itu.
"Masyaallah, bu Ratih kan...??, ibunya Azizah .??", ucap Mawar mencium punggung tangan bu Ratih.
"Kamu makin cantik saja Mawar", ucap Bu Ratih mengelus pipi Mawar seperti anaknya sendiri.
"Terima kasih buk, mari silahkan duduk", ucap Mawar mempersilahkan bu Ratih untuk duduk.
Mbak Lastri yang mendengar percakapan mereka pun keluar dari arah dapur.
__ADS_1
"Eh ada tamu", ucap Mbak Lastri bersalaman dengan bu Ratih.
"Buk perkenalkan, ini bu Ratih ibunya Azizah, dan bu Ratih perkenalkan ini ibu saya, ibu Ratna" ucap Mawar memperkenalkan mereka berdua.
"Buk saya bawa makanan buat ibuk dan Mawar, mohon di terima ya..", ucap Bu Ratih memberikan bungkusan Makanan yang ia bawa dari rumah.
"Alhamdulillah, terima kasih lhoo buk, jadi repot repot", ucap Mbak Lastri menerima bungkusan itu.
"Oh ya buk, maaf Mawar gak bisa nawarin minuman, Mawar masih mau beli perlengkapan dapur", ucap Mawar.
"Gpp Mawar, mendingan ke pasar sama ibuk aja, kebetulan ibu juga mau belanja, kalau kamu mau ajak Azizah pun, ia masih mengajar les di musholah, akan butuh waktu lama", ucap bu Ratih.
"Boleh buk, Mawar siap siap dulu ya buk", ucap Mawar masuk ke dalam kamarnya.
Mbak Lastri dan bu Ratih mengobrol panjang lebar sambil menunggu Mawar bersiap.
"Mari buk", ucap Mawar keluar dari kamarnya.
"Ya sudah, saya pamit dulu ya buk", ucap bu Ratih pada mbak Lastri.
"Buk, Mawar pamit, assalammualaikum", ucap Mawar mencium punggung tangan ibunya.
"Iya buk titip Mawar ya...., Walaikumsalam", ucap Mbak Lastri mengantar Mereka sampai ke depan rumah.
Dengan naik angkot, bu Ratih dan Mawar berangkat menuju Pasar.
"Iyaa buk, Mawar ikut saja", ucap Mawar memperhatikan sekeliling dari luar jendela.
Ia berusaha menikmati lingkungan barunya yang kali ini akan menjadi tempat tinggalnya.
Sekitar setengah jam perjalanan, bu Ratih meminta turun di pinggir jalan.
"Berhenti sini aja pak, ini uangnya.., yuk Mawar..!!", ucap bu Ratih turun dari angkot mengajak Mawar yang masih memandang keluar jendela.
Terlihat lebih jelas pemandangan dari luar angkot.
Terlihat bahwa mereka telah sampai di pasar loak yang di maksud bu Ratih.
Mereka pun berjalan melewati para penjual yang menjajahkan barang barangnya.
Bu Ratih terlihat sibuk memilih barang barang yang ia butuhkan.
Sementara Mawar melihat lihat barang barang di sekelilingnya.
Pandangan Mawar tertuju pada barang yang berada di sudut Pasar.
Ia sepertinya tertarik membelinya.
__ADS_1
Bu Ratih yang melihat Mawar fokus melihat ke arah lain kemudian menegurnya.
"Mawar..??, kamu minat sesuatu..??", ucap Bu Ratih membuyarkan fokus Mawar.
"Buk, itu..??", ucap Mawar menunjuk ke barang yang ia inginkan.
"Ayok kita lihat kesana", ucap bu Ratih menarik tangan Mawar mendekati barang incaran Mawar.
Nampak Mawar sepertinya sangat antusias membelinya.
Mawar merabanya dan mengecek dengan teliti kondisi barang di depannya itu.
Setelah tawar menawar yang di bantu oleh bu Ratih, Mawar akhirnya mendapatkannya.
Sungguh nampak senyum manis di bibirnya.
"Ya sudah, kita langsung ke pasar sayur yah, nanti kita mampir ke toko perkakas, ini biar disini dulu, ibu bakal sewa pick up buat bawa belanjaan kita, nanti kita ke sini lagi ya", ucap bu Ratih.
"Iya buk", ucap Mawar.
Setelah semua yang mereka butuhkan telah terbeli, mereka pun menaiki pick up untuk pulang.
Saat tiba di rumah, Mawar langsung berseru memanggil ibunya, sedangkan sopir pick up terlihat masih sibuk menurunkan barang belanjaan mereka.
"Buk..??, buk..??, sini...!!", ucap Mawar mencari ibunya ke dapur.
"Kenapa Mawar..??", ucap Mbak Lastri kebingungan dengan wajah girang Mawar.
"Yuk ikut Mawar", ucap Mawar menggandeng ibunya keluar rumah.
Mbak Lastri pun menatap barang barang yang sedang di turunkan oleh supir.
"Masyaallah Mawar, kamu dapat di mana..??", ucap Mbak Lastri dengan raut wajah senang.
"Aku dapat di pasar loak buk, ya meskipun bekas tapi kondisinya masih bagus", ucap Mawar dengan senyumnya yang mengembang.
Mbak Lastri mendekati Mesin jahit dan gulungan kain yang telah turun dari pick up, ia sangat terharu melihatnya.
"Mawar, kamu yakin mau menjahit lagi..??, ibu pikir kamu tak akan menjahit lagi", ucap Mbak Lastri masih meraba mesin jahit yang di beli Mawar.
"Buk, itu hobi sekaligus pekerjaan Mawar, apa karna hal itu mengingatkan Mawar sama pesantren jadi Mawar gak akan menjahit lagi...??, enggak buk, dengan begitu juga Mawar gak harus kerja jauh jauh ninggalin ibu dirumah", ucap Mawar.
Mbak Lastri memeluk anak satu satunya itu, Mawar begitu perhatian dan menjaga ibunya.
Mbak Lastri sangat bersyukur di karunia anak seperti Mawar, walaupun ia tak lahir dari rahimnya sendiri.
"Kita mulai dari nol ya buk, doakan Mawar", ucap Mawar memegang kedua tangan ibunya dan menciumnya.
__ADS_1
"Pasti nak, pasti", ucap Mbak Lastri mendukung penuh niat anaknya itu