
Assalammualaikum semua.
Bismillahirohmannirrohim hari ini aku akan teruskan Novel -Salahkah aku mendambakan surga, Season 2-.
Semoga bisa menyajikan cerita sekaligus pelajaran hidup agar bisa membantu kita menjadi manusia yang lebih baik lagi🤲.
Di Season ke 2 ini, Tokoh utama nya ialah Fatimah Azzahra.
Seorang putri dari Rahel yang dididik oleh Mawar.
Setelah permasalahan Mawar selesai, ujian hidup ternyata masih ada untuk nya.
Kali ini yang harus berjuang ialah Fatimah.
Fatimah yang sangat mencintai islam, harus berusaha keras berkonflik dengan dunia.
Penasaran...??
Simak terus ya...🤗.
_____
...Pulang ke negara tercinta...
"Assalammualaikum", seru Mawar saat membuka pintu rumah baru nya di Indonesia.
Dengan mata yang basah, ia mengamati rumah yang baru saja ia bangun di atas tanah almarhumah mami Geyna.
Tanah yang tak lain merupakan saksi kelam kebakaran hebat beberapa tahun yang lalu.
5 tahun ia berada di Amerika, rasa nya hati dan pikiran nya tetap ada di tempat itu.
Tempat kelahiran nya dan tempat hidup mami nya yang penuh dengan masa masa terpahit yang pernah ia alami.
Mawar merasa hanya tanah itu kenangan nya bersama kedua ibu nya tercipta.
Ia memutuskan untuk pulang ke negara tercinta nya Indonesia dengan banyak pertimbangan yang matang.
"Sini bunda, aku bantu", tutur Fatimah yang telah beranjak remaja dengan tutur kata nya yang halus, sangat mirip sekali dengan Mawar semasa remaja.
Baik budi pekerti nya maupun kecintaan nya pada agama nya.
"Terima kasih sayang, hati hati koper nya berat, kalau kamu tak kuat bunda bisa panggil mang Asep untuk membantu.
"Tidak usah bunda, mang Asep sedang sibuk menurunkan sisa barang barang kita di mobil", ujar Fatimah.
Sementara seorang anak lelaki yang tak lain ialah Aqly anak dari Mawar dan almarhum Burhan berjalan sembari terus memperhatikan layar ponsel nya.
"Minggir kak ..!!", seru Aqly saat jalan nya terhambat oleh Fatimah.
"Maaf dik, bisa bantu kakak..?", ucap Fatimah berusaha meraih semua koper yang ada.
"Capek ah...!, buat apa punya supir kalau gak di manfaatin", keluh Aqly meneruskan langkah nya menuju sofa dan terus melanjutkan keseruan nya bermain game online.
"Masyaallah Aqly..!, apa ini yang bunda ajarkan padamu..?", keluh Mawar.
"Siapa suruh bunda ajak kita pindah ke sini, teman ku semua ada di Amerika bunda, dan tante Susan juga ada di sana", ketus Aqly cemberut.
Di usia nya yang belum genap 10 tahun, emosi nya masih terbilang labil.
__ADS_1
Terlebih ia sudah terbiasa hidup di Amerika dan dimanjakan oleh Susan yang sangat menyayangi Aqly seperti anak nya sendiri.
"Ini rumah kita, tanah kelahiran kita, sudah seharusnya kita kembali ke sini sayang, terlebih bunda sudah lama tidak mengunjungi makam ayah dan kedua nenek mu", ucap Mawar mengelus kepala anak lelaki nya.
"Lebih baik, besok kita ke pusaran ayah sama nenek bunda", seru Fatimah ikut duduk di sebelah sang bunda dan adik lelaki nya.
"Ide bagus, kamu mau kan sayang..??", tanya Mawar membujuk Aqly dengan senyum keibuan nya yang selalu menawan.
Aqly hanya mengangguk menyetujui ide bunda dan kakak nya.
"Alhamdulillah", seru Mawar mengecup kening kedua anak nya.
Tak berselang lama, kumandang azan mulai terdengar.
"Kita sholat sama sama yuk..", ajak Mawar kepada kedua anak nya.
"Yah...!, sholat lagi, sholat lagi..!", keluh Aqly merebahkan badan nya di sofa.
"Sebagai seorang muslim kita wajib melaksanakan sholat dik, seperti yang selalu diajarkan bunda", ucap Fatimah.
"Tapi aku gak mau mengaji kali ini ya, bosen..!, capek..!", keluh Aqly lagi.
"Sayang, di biasakan yuk, bukan nya setiap hari bunda udah biasakan itu ke kamu", ajak Mawar mencoba menggendong Aqly untuk mengambil wudhu.
"Turunin bunda..!, Aqly udah besar, iya iya...!!, aku bakal ambil wudhu", ketus Aqly berjalan mendahului kakak dan bunda nya.
Mereka kemudian melaksanakan shalat dengan khusuk nya.
Setelah shalat selesai dikerjakan, mereka mengaji beberapa surah di dalam Al Quran seperti keseharian rutin mereka setelah shalat magrib usai.
Tetap di saat itu, surah Al insyirah menjadi surah pilihan Mawar.
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
A lam nasyraḥ laka ṣadrak
Artinya: 1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dada mu?.
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
wa waḍa’nā ‘angka wizrak
Artinya : Kami telah menghilangkan dari padamu beban mu.
ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ
allażī angqaḍa ẓahrak
Artinya : Yang memberatkan punggung mu?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
wa rafa’nā laka żikrak
Artinya : Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu.
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
fa inna ma’al-‘usri yusrā
__ADS_1
Artinya : Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
inna ma’al-‘usri yusrā
Artinya : Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
fa iżā faragta fanṣab
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
wa ilā rabbika fargab
Artinya : Dan hanya kepada Tuhan mu lah hendaknya kamu berharap.
"Sodaqallah hul adhim", ucap Mawar mengakhiri tadarus nya.
"Aku tak pernah bosan mendengar nya bunda, itu jadi mengingatkan aku tentang perjuangan bunda saat aku masih kecil, apakah akan selalu ada kemudahan setelah kesulitan bunda..??", tanya Fatimah penasaran.
"Sesuai janji Allah", ucap singkat Mawar memeluk Fatimah.
"Makanya bunda sangat mendambakan surga..?", seru Fatimah.
"Tentu..!!, dan anak anak bunda juga harus, iya kan Aqly....??", seru Mawar memandang ke arah Aqly.
Mawar segera menghela nafas melihat anak lelaki nya sudah tertidur pulas di atas sajadah.
"Gpp bunda, mungkin adik lelah", ucap Fatimah menghibur sang bunda.
"Iya sayang, sekarang kamu ke depan ya, suruh mang Asep makan", pinta Mawar.
"Siap bunda", ucap nya sembari mencium punggung tangan sang bunda dan bergegas melaksanakan apa yang di suruh oleh sang bunda.
Lalu, Mawar menatap lekat lekat anak lelaki nya.
Ada perasaan khawatir yang terbesit di hati nya.
"Astagfirullah", seru nya membuyarkan lamunan buruk nya.
"Apa yang ku pikirkan..?, ucapan ku dan angan angan ku bisa menjadi doa untuk anak ku", seru Mawar mengusap lembut kepala sang anak dan membopong nya ke atas ranjang.
Bismillah mas Burhan, semoga ketakutan ku tidak menjadi nyata, aku sudah berusaha mendidik anak kita menjadi ahli ibadah seperti mu, tapi Allah hu a'lam, gumam Mawar dalam hati sembari mengecup kening Aqly.
Saat ia berjalan keluar dari kamar.
Ia melihat Fatimah sedang duduk di meja makan bersama mang Asep.
Bersenda gurau dan makan dengan bahagia nya tanpa memandang status mereka antara anak majikan dan seorang supir.
Lalu ia mengingat kembali sikap Aqly yang berbeda sekali dengan Fatimah.
Bahkan Aqly hanya bisa memandang mang Asep tak lebih dari supir dan pelayan saja.
Lagi lagi Mawar menghela nafas panjang memikirkan nya.
__ADS_1
"Ibu, kalau saja ibu masih ada di sini, pasti ada bahu untuk Mawar bersandar, ada orang yang bisa membantu Mawar mendidik anak anak Mawar lebih baik lagi", keluh Mawar seketika berubah ekspresi menjadi tersenyum saat Fatimah melambaikan tangan ke arah nya.