Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
3 tahun yang sia sia.


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Mawar terbaring lemah di tempat tidur, meskipun kini, berangsur angsur kondisi Mawar sudah mulai jauh lebih baik dari sebelum nya.


Meskipun begitu, Aqly tetap pada pendirian nya.


Ia tak akan pulang kalau Fatimah tidak keluar dari rumah nya.


Sudah berulang ulang kali dokter Malik mencoba menghubungi nya.


Namun sekalipun, Aqly tak mau menanggapi panggilan telfon dari dokter Malik.


Dokter Malik berusaha mencari Aqly di rumah teman teman sekolah nya.


Termasuk rumah Riko, teman terdekat Aqly yang ia ketahui.


"Maaf om, Aqly sudah lama tidak datang ke rumah dan aku pun juga tak melihat Aqly di sekolah cukup lama", ucap Riko saat di temui dokter Malik di depan gerbang sekolah.


Ucapan Riko membuat dokter Malik semakin khawatir.


Lindungi dia ya Allah, jangan sampai ketakutan kita sebagai orang tua menjadi kenyataan, gumam dokter Malik dalam hati.


"Ya sudah, terima kasih ya Riko", ucap dokter Malik berjalan menuju mobil nya.


Sebelum ia sempat masuk ke mobil, sebuah suara menghentikan langkah kaki nya.


"Bapak ayah nya Aqly kan ?, bisa saya minta waktu nya sebentar pak ?", seru suara itu lagi yang ternyata ialah kepala sekolah di sekolah tempat Aqly dan Riko menuntut ilmu.


"Baik pak", sahut dokter Malik mengikuti kepala sekolah yang berjalan menuju ke ruangan nya.


 


Dengan tangan yang gemetar, dokter Malik membaca setiap kalimat yang ada di secarik kertas yang telah kepala sekolah berikan pada nya.


Dokter Malik nampak syok dan tercengang dengan tulisan di kertas itu.


"Maaf pak, kami sudah memberi kesempatan Aqly berulang ulang kali, namun seperti nya kesempatan kami ia anggap remeh", seru pak kepala sekolah dengan nada menyesal.


"Ta, tapi pak, ujian tinggal sebentar lagi", timpal dokter Malik masih tak percaya dengan semua itu.


"Apa bapak tau kalau Aqly sudah tak bersekolah 2 minggu ini ?", tanya kepala sekolah membuat dokter Malik terdiam, ia tak tau harus menjawab apa sebagai orang tua Aqly.


"Saya mohon pak kepala sekolah, jika perilaku Aqly buruk saya minta maaf, tapi saya mohon beri dia kesempatan lagi, masa 3 tahun akan sia sia bagi nya, istri saya juga pasti sangat sedih mendengar hal ini", seru dokter Malik masih berusaha memperbaiki semua nya.


"Sekali lagi saya minta maaf pak, ini sudah peraturan serta keputusan sekolah", ucap pak kepala sekolah.


"Padahal kami sudah mempersiapkan kuliah yang bagus untuk nya", keluh dokter Malik mengusap air mata yang tiba tiba sudah menggenang di pelupuk mata nya.


"Jika Aqly mau berubah, dia bisa pindah ke sekolah lain untuk mengulang 1 tahun sekolah nya dan mengikuti ujian tahun depan pak, tapi dari sekolah kami, kami minta maaf, Aqly tetap di keluarkan dari sekolah ini", seru pak kepala sekolah membuat dokter Malik bersandar lemas di kursi nya.

__ADS_1


-----


"Apa yang harus ku katakan pada Mawar nanti ?", seru dokter Malik terus berfikir di sepanjang perjalanan nya pulang ke rumah.


Lebih baik aku sembunyikan ini semua sampai kondisi Mawar jauh lebih baik lagi, gumam dokter Malik sembari menghentikan mobil nya tepat di halaman rumah.


"Ayah udah pulang, gimana ?, ada kabar tentang Aqly yah ?", seru Fatimah segera mencium punggung tangan sang ayah sembari langsung bertanya kabar tentang sang adik.


Dokter Malik masih terdiam dan segera duduk di lantai teras depan rumah mereka.


Membuat Fatimah merasa ada yang membebani pikiran ayah nya saat itu.


"Ayah gpp ?", tanya Fatimah sembari duduk di samping sang ayah.


"Apa bunda mu masih tidur ?", tanya dokter Malik balik bertanya.


"Bunda masih tidur yah, memang nya kenapa ?", tanya Fatimah.


"Barusan ayah mencari informasi tentang adik mu di sekolah nya", ucap dokter Malik membuat Fatimah tak sabar mendengar kelanjutan dari kabar sang adik.


"Lalu ?, ayah tau di mana Aqly ?, ayo kita segera jemput dia yah !, bunda pasti senang kalau Aqly pulang", seru Fatimah bersemangat.


Namun saat melihat raut wajah sang ayah yang nampak tak senang dan seakan menahan tangis, Fatimah segera kehilangan senyuman nya.


"Ada apa yah ?, Apa ayah gak dapat informasi apapun juga disana ?", seru Fatimah terus menatap penuh harap ke arah sang ayah.


"Ya !, ayah dapat sebuah informasi !, informasi bahwa adik mu Aqly telah di keluar kan dari sekolah bahkan saat ujian kelulusan akan di mulai !", seru dokter Malik tersedu sedu.


"Apa yang harus ayah katakan pada bunda mu Fatimah ?", keluh dokter Malik tak berdaya.


"Tapi bagaimana mungkin yah ?, harus nya Aqly masuk kampus favorit nya tahun depan !", timpal Fatimah menangis dengan histeris nya.


"Aqly ternyata sudah lama tidak datang ke sekolah, bahkan ia sudah tak pernah menginap di rumah Riko lagi", seru dokter Malik.


"Lalu Aqly selama ini tinggal di mana yah ?", timpal Fatimah semakin khawatir.


"Ayah juga bingung Fatimah, satu hal yang pasti, jangan beri tahu bunda mu tentang semua ini", seru dokter Malik memeluk Fatimah dan mencoba saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi semua masalah yang terus datang bertubi tubi di dalam keluarga mereka.


Tanpa mereka sadari.


Mawar telah mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu masuk.


Ia nampak syok sembari terus mencoba membungkam mulut nya sendiri, agar tangis nya tak terdengar oleh anak dan suami nya.


Ya Allah Aqly !, kamu di mana nak ?, sadarlah sebelum kamu menyesal, keluh Mawar dalam hati.


Karna tak kuasa lagi menahan isak tangis nya.

__ADS_1


Mawar segera bergegas kembali ke kamar nya dan segera menangis sejadi jadi nya di sana.


Ia luapkan semua sakit di hati nya saat itu juga.


Sementara di teras rumah, dokter Malik dan Fatimah masih berusaha mencari cara agar Aqly bisa segera sadar dengan kesalahan nya.


"Fatimah, anak baik, anak kebanggaan bunda dan ayah, wanita sholehah yang insyaallah kelak akan berada di surga nya Allah, jangan marah dengan permintaan ayah ini ya nak ?", seru dokter Malik mengusap jilbab Fatimah.


"Katakan saja ayah", timpal Fatimah.


"Ayah pikir sebaiknya untuk sementara waktu kamu tinggal dengan kakek Bram ya, agar Aqly mau kembali pulang dan bunda mu bisa kembali sehat", ucap dokter Malik mencari jalan yang terbaik untuk memecahkan masalah mereka.


Sejenak dokter Malik yang melihat Fatimah langsung terdiam mendengar usul nya, menganggap bahwa Fatimah tak bersedia melakukan usulan dari nya itu.


Tiba tiba Fatimah tersenyum dan menatap kembali wajah sang ayah.


"Insyaallah, aku bersedia ayah, aku tak keberatan sama sekali", sahut Fatimah membuat dokter Malik merasa bangga dan sekaligus terharu dengan sifat anak Rahel itu.


"Masyaallah nak !, kamu serius ?", seru dokter Malik merasa lega.


"Iya ayah, nanti sore ayah bisa antar aku ke rumah kakek, aku akan anggap hari ku selama di sana adalah untuk berbakti dan mengurus kakek di masa tua nya", sahut Fatimah membuat dokter Malik semakin terharu dan menangis.


"Boleh Ayah memeluk mu sekali lagi nak !", pinta dokter Malik tak kuasa menahan tangis nya.


"Aku anak ayah sekarang, kenapa aku harus menolak pelukan dari ayah ku sendiri ?", timpal Fatimah membuat mereka berdua larut dengan rasa kasih sayang tulus antara orang tua dan anak.


-----


Salam sehat untuk semua nya🤗.


Semoga sampai part ini banyak pelajaran yang bisa kita petik yah ☺️.


Buang yang buruk buruk dan terima pelajaran baik nya.


Buat para ayah di dunia.


Baik itu ayah kandung ataupun ayah sambung, hargai lah seorang anak dan perlakukan dia dengan kasih sayang dan hati mu.


Sejati nya dia hanyalah anak titipan Allah yang tak ada beda nya dengan anak anak lain nya di dunia ini.


Ia punya hak untuk di cintai dan di hargai, di didik dan di beri teguran saat ia melakukan kesalahan.


Karna berlian indah juga melalui banyak proses untuk menyandang nama sebagai berlian indah.


Ia juga pernah buruk rupa dan hanya berbentuk bongkahan saja.


See you 🌹.

__ADS_1


Ditunggu episode selanjut nya ya☺️.


Mohon dukungan nya, pencet vote, hadiah dan like nya ya, terima kasih,😘


__ADS_2