Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Layani aku!


__ADS_3

Ceklek..


Suara pintu di buka seketika membuat tegang Mira serta Fatimah.


Apalagi saat melihat bahwa Bos besar lah yang datang ke kamar Fatimah saat itu.


Dengan cepat Mira segera beranjak dari sisi Fatimah.


"Jangan pergi, aku mohon," ucap Fatimah merasa takut.


"Mira, sedang apa kamu di sini?," seru Bos besar memandang kedua wanita yang langsung gemetar ketakutan melihat kedatangan nya.


"S- saya," ucap Mira gelagapan.


"Apa kamu mau bergabung di malam pertama kami?," seru Bos besar berjalan mendekat ke arah Mira.


Tangan kekar nya langsung mengangkat wajah Mira yang sedari tadi hanya tertunduk ketakutan.


"Oh, mungkin kamu ingin merekam aksi kami malam ini?, mungkin akan seru, ya kan Mira?," bisik Bos besar membuat Mira semakin gusar.


"Permisi Bos," sahut Mira berusaha menghindar.


"Hei!, aku tak suka jika kamu menyimpang dari topik, oke!," seru Bos besar merogoh sesuatu dari saku nya.


"Ampun Bos, biarkan saya pergi," ucap Mira menahan tangis.


"Ini hanya ponsel Mira," seru Bos besar tertawa sembari meletakkan ponsel nya di tangan Mira yang semakin gemetar.


"Cepat rekam kami!, aku sudah tak sabar!," seru Bos menatap tajam ke arah Fatimah.


Membuat wanita bercadar itu begitu bingung dan takut harus berbuat apa.


"Kenapa Fatimah?, mana keberanian dan bualan mu di depan semua orang barusan?, hah!," seru Bos besar membuat Fatimah menghentikan langkah kaki nya.


Sementara Mira segera berlari keluar dari sana selagi ada kesempatan.


"Sepertinya kamu punya teman baru di sini, baguslah!, cepat berbaur lah dengan mereka dan cepa cepatlah menjadi seperti mereka, menarik setiap lelaki hidung belang agar betah ke sini dan menjadi mesin pencetak uang ku," seru Bos besar membuat Fatimah menatap lekat lekat wajah suami nya saat itu.


Ya Allah, apa yang ku lakukan benar?, apa ini juga yang engkau inginkan untuk diri ku ini?, batin Fatimah masih berdiri mematung di tempat nya.


Wanita ini, aku penasaran, sampai mana ketakutan yang aku ciptakan bisa membuat nya menyerah dan memberontak, batin Bos besar mulai membuka kancing kemeja nya satu persatu.


Dengan reflek nya, Fatimah segera berbalik badan dan mencoba menahan tangis nya.


Kondisi itu begitu membuat Bos besar senang bukan kepalang.

__ADS_1


Malam ini, keimanan mu dan kepercayaan mu akan hancur Fatimah!, batin Bos besar mencoba berjalan mendekati Fatimah.


"Apa kamu takut pada suami pemberian Tuhan mu ini?," bisik Bos besar semakin mendekat ke arah Fatimah.


Hingga nafas nya bisa di dengar jelas di telinga Fatimah.


Perlahan, tangan Bos besar mulai meraba kedua lengan Fatimah.


Namun perasaan aneh kembali menyerang diri nya hingga Bos besar sedikit berhati hati dengan gerakan nya.


Sial!, sebenar nya ada apa dengan diri ku ini!, batin Bos besar bimbang saat tangan nya berniat menanggalkan cadar Fatimah.


Sementara Fatimah hanya terpejam mencoba menenangkan hati nya yang gusar saat itu.


Seketika satu gerakan cepat dari Bos besar membuat Fatimah terkejut.


Kini diri nya sudah berganti posisi terbaring di atas ranjang.


Tepat di bawah dekapan lelaki kekar yang kini telah menjadi suami nya.


Melihat mata Fatimah yang membulat sempurna menatap nya, Bos besar semakin tersenyum bahagia atas keberhasilan usaha nya.


"Layani aku!, layani suami mu ini!," seru Bos besar tak sabar ingin melihat Fatimah memberontak hingga menggegerkan seisi rumah.


Senyuman itu perlahan memudar saat sebuah sentuhan lembut tangan Fatimah mencoba memegang tangan nya.


Dia sulit sekali di tebak!, batin Bos besar yang kini terjebak alur yang di buat oleh Fatimah.


"K- kamu?, sudah tak sabar kah menunggu ciuman ku mendarat di mulut mu itu?," seru Bos besar masih dengan sikap angkuh nya.


Bos besar semakin kebingungan saat gertakan nya tak mendapat jawaban dari Fatimah.


Bahkan tangan Fatimah kini semakin erat memegang tangan nya.


Perlahan Fatimah mengarahkan tangan Bos besar untuk meraba kepala nya dan menghentikan gerakan nya tepat di ubun ubun kepala.


"Kamu ternyata agresif juga, apa kamu memintaku menarik jilbab mu ini?," ucap Bos besar kembali tak mendapat sebuah jawaban dari Fatimah.


"Bismillahi Allahumma jannibna as-syaithana wa jannibi as-syathana maa razaqtana," ucap Fatimah langsung membuat Bos besar tercengang dan sontak mundur dari sisi Fatimah.


"Kamu mau menyihir ku atau bagaimana?, dasar wanita menakutkan!," sentak Bos besar semakin mundur dan semakin jauh dari Fatimah.


"Sihir?, aku hanya mencoba membaca doa kebaikan untuk kita berdua yang akan memulai hubungan ini," ucap Fatimah perlahan mulai mendekati sang suami yang masih menebak isi fikiran Fatimah.


"Apa kamu takut?," seru Fatimah mengulang kata kata suami nya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Ucapan dari Fatimah membuat Bos besar sedikit kesal dan merasa di rendahkan.


"Takut!, kamu bilang aku takut!," sentak Bos besar dengan berani kembali mendekat ke arah Fatimah hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.


"Kamu memintaku melayani mu kan?," ucap Fatimah tanpa bergeming maupun ketakutan sedikitpun seperti yang ia tampakkan di awal.


Melihat sang suami hanya menatap nya dengan tatapan heran, Fatimah kembali mencoba meraih tangan sang suami dan menuntun nya kembali ke arah cadar nya.


"Omong kosong apa lagi ini!," seru Bos besar saat tangan nya telah menyentuh cadar Fatimah.


"Lepaskan lah suami ku, kini aku ikhlas menyerahkan diri ku pada mu," ucap Fatimah lagi lagi membuat Bos besar semakin merasa tak karuan.


Niat awal nya kini malah menjadi momok menakutkan bagi nya saat mendengar Fatimah kini malah bereaksi 360 derajat dari perkiraan nya.


Dengan di bantu Fatimah, tangan Bos besar perlahan mulai membuka pengikat cadar yang menutup wajah cantik Fatimah.


Namun saat cadar itu terbuka, Bos besar langsung berbalik badan dan segera bergegas keluar dari kamar pengantin mereka sebelum sempat menatap wajah istri nya.


Melihat sang suami telah meninggalkan nya, perlahan kekuatan Fatimah memudar dan membuat tubuh nya lunglai lemas dan seketika membuat nya terduduk di lantai.


Fatimah terdiam cukup lama di tempat nya seakan memikirkan keberanian macam apa yang telah menghinggapi diri nya beberapa saat yang lalu.


"Astagfirullah," ucap Fatimah kembali mengingat semua keputusan besar nya hari ini dan kewajiban yang harus ia lakukan mulai esok hari.


Sementara Bos besar terus bergegas menuju ke kamar nya dengan penuh amarah, ketakutan dan rasa bimbang yang memenuhi hati nya.


"Bos!," seru Rea saat tak sengaja melihat Bos melintas dengan ber polos dada.


Namun Bos besar sama sekali tak menanggapi panggilan dari siapapun, bahkan dari Rea sekalipun.


Ia terus saja bergegas menuju kamar nya sembari membanting pintu dengan sekeras mungkin.


"Ada apa Rea?," tanya Lely berhamburan datang bersama dengan yang lain nya saat mendengar suara keras seperti pintu yang sengaja di banting.


"Bos," ucap singkat Rea masih tercengang dengan apa yang ia lihat.


"Mana?," tanya Mira penasaran.


"Ya udah masuk kamar nya lah!, beg*k.!," sentak Rea membuat Mira langsung terdiam.


"Trus, kamu kok kayak habis lihat hantu sih!," keluh Lely menatap Rea yang masih tercengang menatap pintu kamar Bos besar.


"Dada bos seksi banget," seru Rea membuat yang lain langsung penasaran.


"Ih beneran?, ya ampun!, aku juga mau lihat," seru Lely membayangkan tubuh seksi dari Bos besar mereka.

__ADS_1


"Ampun deh," keluh Mira memilih pergi dari samping wanita penuh nafsu itu.


Itu berarti, malam ini Fatimah masih selamat, alhamdulillah, batin Mira kembali ke kamar nya.


__ADS_2