
Kring...Kring..!!(telfon rumah sakit berdering).
"Assalammualaikum..., dengan dokter Malik di sini..!!", ucap dokter Malik sedang beristirahat di ruang kerjanya.
Mendengar suara seorang suster dari telfon ia segera berlari menuju ke ruang igd.
"Saya akan segera kesana..!!", seru dokter Malik berlari hingga hampir menabrak beberapa suster yang melintas.
"Maaf..!!, saya gak sengaja", seru dokter Malik terus berlari menuju ke ruang igd.
Di sana sudah banyak orang berkerumun, tapi dokter Malik tak melihat Bram.
"Sus..!, dimana ayah saya..!!", seru dokter Malik gelisah.
"Beliau masih ditangani dokter di dalam pak", seru seorang suster masuk ke dalam ruang igd.
4 jam berlalu, orang di kerumunan itu sudah hilang satu per satu.
Tinggal dokter Malik yang masih gelisah mondar mandir di depan ruangan igd.
Melihat dokter Pras keluar dari ruangan igd, segera dokter Malik menghampirinya dengan rasa khawatir yang tak terbendung.
"Gimana kondisi papi saya dok..??", seru dokter Malik.
"Sebaiknya dokter ikut saya ke dalam", ucap dokter Pras masuk kembali ke ruangan igd.
Tanpa banyak bertanya, dokter Malik segera masuk keruangan tempat Bram sedang ditangani oleh sejumlah suster dan dokter.
Dokter Malik tak kuasa menahan air matanya.
Orang yang tak pernah berlaku lembut di hidupnya sekarang terbaring lemah tak berdaya di ranjang operasi.
Kepalanya di botak, kulit kepalanya dijahit.
Matanya lebam membiru.
Kaki dan tangan yang dibalut gips.
Dokter Malik sedikit memalingkan mukanya tak tega melihat semua itu.
"Apa yang terjadi dengan papi saya dok..??", ucap dokter Malik penasaran.
"Dia menabrak beton terlalu kencang, menurut saksi, dia sangat terburu buru kala itu, membuatnya tak melihat aba aba jika jalan di depannya sedang ada proyek penebangan pohon", ucap dokter Pras menceritakan kronologi kejadian yang ia dengar dari para saksi yang membawanya ke rumah sakit.
"Lalu..??, apa saja cidera yang ia alami..??", seru Dokter Malik ingin tau kondisi Bram secara menyeluruh.
"Kami sudah lakukan semampunya dokter Malik, ada cidera dan pendarahan di otak, tangan dan kaki yang patah terhimpit badan mobil, dan yang fatal ialah tulang ekor yang menjepit syarafnya", ucap Dokter Pras.
"Jadi papi saya..!!", seru dokter Malik sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada Bram meskipun ia telah pulih dari masa kritisnya.
"Ya..!!, dokter Malik sudah tau sendiri bukan, kemungkinan ia akan lumpuh, kalau begitu saya permisi", ucap dokter Pras keluar ruangan bersama para suster meninggalkan dokter Malik yang sangat terpukul mendengar kabar itu.
Ia merogoh ponsel dan menelfon bu Maryam.
Ia berusaha tak terdengar sedih dan gelisah.
"Mi, bisa kerumah sakit sebentar..!!, ucap dokter Malik.
"Kenapa..??, tumben nak..??", seru bu Maryam dari ponsel.
__ADS_1
"Aku hanya rindu masakan mami, bisa kesini segera, aku tunggu, assalammualaikum", seru dokter Malik sengaja tak berterus terang pada bu Maryam.
Dokter Malik seketika tak bisa menahan tangisnya lagi.
Ia menangis di samping tubuh Bram.
Ia pandangi alat alat medis yang tertanam di tubuhnya kini.
Dokter Malik mengingat saat ia masih kecil dan Bram lah yang merawatnya, menjadi figur seorang ayah baginya.
Bram memang keras, tapi ia merawat dokter Malik dengan sangat baik, hingga ia bisa memperjuangkan gelar dokter untuk Malik.
Hanya saja memang sikapnya berubah saat dokter Malik sudah bisa menentukan keputusan hidupnya sendiri, terlebih saat ia memilih Mawar sebagai pendamping hidupnya dulu.
Yang membuat sikap Bram berubah menjadi semakin dingin dan keras pada Dokter Malik.
"Maafkan aku pi..!!", seru Dokter Malik tersedu sedu.
Tiba tiba, Bram sedikit tersadar.
Ia meneteskan air mata mendengar tangisan dari dokter Malik.
Dokter Malik terkejut saat Bram berusaha mengatakan sesuatu padanya.
"Allahhu akbar pi, masyallah..!!", seru Dokter Malik memeriksa keadaan Bram yang mulai sadar.
Tapi seketika tangannya di raih oleh Bram.
"Papi akan baik baik saja, okey..!!", seru Dokter Malik menggenggam erat tangan Bram.
"Ma....m....ma..war...!!", seru Bram berusaha menyampaikan sesuatu pada Anaknya.
Tak lama kemudian, tubuh Bram berguncang hebat, dan ia kembali kehilangan kesadarannya.
"Pi..!!!, dokter...!!!", teriak Dokter Malik membuat dokter Pras tergesa gesa masuk ke ruaangan igd.
"Kenapa dok .??", seru dokter Pras melihat dokter Malik yang sibuk memeriksa Bram.
"Tolong bantu saya !!", seru Dokter Malik mengusahakan akan kondisi Bram kembali normal.
Dokter Pras kemudian menyuntikkan beberapa obat dan memakai alat kejut jantung pada Bram.
Tak berselang lama, usaha mereka membuahkan hasil.
Kondisi Bram kembali stabil meskipun masih salam kondisi kritis.
"Alhamdulillah", seru dokter Pras lega.
"Alhamdulillah", seru dokter Malik lemas dan terduduk di lantai.
"Dokter tak apa..??", seru dokter Pras khawatir.
"Gpp dok, trima kasih", seru dokter Malik mencoba bangkit dan berjalan tertatih tatih keruang kerjanya.
"Bagaimana reaksi mami nanti saat melihat papi dalam kondisi tak berdaya seperti itu...??", seru dokter Malik terus merasa khawatir.
Satu jam kemudian, bu Maryam telah sampai di rumah sakit.
Ia langsung berjalan menuju ke ruangan Anaknya.
__ADS_1
Ia merasa heran dengan tatapan para suster di rumah sakit.
Seakan ia melihat ke arah Bu Maryam dengan tatapan yang tak biasa.
Tapi ia anggap itu hanya perasaannya saja.
"Assalammualaikum..!!", seru Bu Maryam masuk ke ruangan dokter Malik.
Dengan segera dokter Malik mengusap bekas air matanya yang tersisa.
Membuat bu Maryam merasakan ada yang sedang di sembunyikan oleh anaknya.
"Malik...!!, apa yang sedang kamu sembunyikan dari mami.??", seru Bu Maryam penasaran.
Dokter Malik terdiam, ia tak tau harus mulai dari mana untuk mengabarkan kondisi Bram kepada bu Maryam.
"Aku mohon mami tenang ya, janji..!!", ucap Dokter Malik memegang kedua tangan bu Maryam.
"Ada apa ini...??, cepat kasih tau mami..!!", seru Bu Maryam tak sabar.
"Papi mi..!!", ucap Dokter Malik takut bu Maryam syok mendengar kabar itu.
"Ada apa dengan papi Malik..!!", seru Bu Maryam mulai terlihat gelisah.
"Papi kritis mi, sekarang ia tak sadarkan diri di ruangan igd", ucap dokter Malik sembari memeluk bu Maryam.
Seketika bu Maryam histeris dan menumpahkan bekal makanan yang ia bawa untuk anaknya.
Dengan segera ia berlari menuju ke ruang igd mencari keberadaan Bram suaminya.
"Tunggu mi..!!", seru dokter Malik mengejar bu Maryam.
Langkah kaki bu Maryam berhenti tepat di pintu igd tempat Bram sedang di rawat.
Ia berusaha menguatkan dirinya dan masuk ke dalam ruangan itu.
Dengan berlinang air mata ia masuk dan memeluk suaminya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Dokter Malik yang melihat itu segera masuk kedalam ruang igd, ia berusaha menenangkan Bu Maryam agar tekanan darahnya tidak ikut naik.
"Mi...!!, istigfar mi..!!", seru dokter Malik mencoba menenangkan maminya.
"Apa yang terjadi padanya Malik...!!", seru bu Maryam tak kuasa melihat keadaan Bram.
""Papi mengalami kecelakaan tunggal mi, mobilnya menabrak beton pembatas jalan", ucap dokter Malik.
Kemudian bu Maryam menatap dalam dalam suaminya itu.
Ia mengecup dahi suaminya.
"Papimu memang suami dan ayah yang keras, tapi ia tetap papimu malik, dan juga seorang suami bagi mami, berjanjilah kamu akan berusaha menyelamatkannya", ucap Bu Maryam memohon pada anaknya.
"Tentu mi, papi orang yang kuat, kita doakan saja yang terbaik untuk papi", ucap Malik memegang tangan Bram.
Dalam tidurnya, seakan Bram mendengar semuanya.
Air matanya menetes seolah olah ia menyesali semua yang telah ia perbuat pada anak dan istrinya.
Karna saat ia sehat dan bugar, ia telah banyak menyakiti hati anak dan istrinya.
__ADS_1
Mungkin ini karma dunia bagi orang seperti Bram.