
"Gak !, aku gak setuju !", seru Mawar saat mendengar rencana kepindahan Fatimah dari rumah nya.
"Tapi ini demi kebaikan semua nya Mawar !", sahut dokter Malik.
"Kebaikan apa mas ?, di sini semua juga tahu kalau Aqly lah yang keterlaluan !, kenapa harus Fatimah yang harus di hukum !", seru Mawar sembari terbatuk batuk.
"Tenangkan diri mu Mawar", ucap dokter Malik memapah Mawar kembali ke ranjang nya.
Sementara Fatimah masih berdiri dengan diam di depan pintu kamar Mawar menunggu keputusan terbaik dari orang tua nya untuk diri nya.
"Biar pun dia bukan anak kandung ku, tapi aku sangat menyayangi nya mas !, kenapa aku harus mentolerir setiap kesalahan Aqly yang keterlaluan itu, dia anak kandung ku sendiri mas !, tapi kenapa perilaku nya seperti itu !", seru Mawar sembari menangis meluapkan kekecewaan nya pada sang putra.
"Aqly masih muda, pemikiran nya masih labib, berbeda dengan Fatimah, Fatimah sudah mengerti mana yang benar dan salah, dan percayalah, meskipun kita tak selalu di samping nya, ia akan bisa mengatasi semua masalah yang ada di hidup nya", seru dokter Malik mencoba menenangkan Mawar.
Seketika Mawar menatap Fatimah yang terus tertunduk di depan pintu sembari terus memegang erat koper nya.
"Ia begitu penurut, bahkan semua ia lakukan demi kebaikan keluarga kita", ucap Mawar membuat Fatimah berusaha menahan tangis nya dengan memeras pegangan koper nya dengan sangat kuat.
"Bicaralah dengan nya, mungkin itu bisa membuat mu berfikir jernih", ucap dokter Malik meninggalkan anak dan ibu itu untuk saling bicara dari hati ke hati.
"Sayang, kemarilah !", seru Mawar membuat Fatimah perlahan mendekati sang bunda dan duduk di samping nya.
"Tatap mata bunda nak !", ucap Mawar mengelus jilbab sang anak dan mencoba mengangkat dagu nya.
Tatapan lembut dan sendu dari sang bunda membuat Fatimah tak kuasa lagi membendung tangis nya.
Fatimah secara spontan memeluk erat sang bunda dan menangis sejadi jadi nya di sana.
Mawar memeluk sang anak dengan erat nya sembari mencoba tegar dengan semua nya.
"Kamu anak sholehah sayang, bunda tahu kamu bersedia pindah dari sini karna rasa sayang mu pada keluarga ini, bunda akan coba dukung semua keputusan mu", ucap Mawar mencium kening Fatimah.
Sedangkan Fatimah terus menangis meluapkan rasa sakit di hati nya di pelukan sang bunda.
Hanya sajadah dan pelukan sang bunda lah tempat ternyaman bagi Fatimah untuk mengadu dan menangis.
"Aku akan sering berkunjung", ucap Fatimah tersedu sedu.
Membuat Mawar tersenyum sambil menangis menatap sang putri.
Nampak kilas memori saat Fatimah masih kecil terbesit di pandangan nya.
Fatimah yang selalu menggemaskan, penuh senyum namun kali ini harus merasakan ujian hidup nya sendiri.
__ADS_1
Terlebih lagi, masalah nya bukan karna orang lain, melainkan adik nya sendiri.
Melihat Fatimah kini, ia juga mengingat masa masa nya dulu saat berjuang untuk tetap mempertahan kan iman dan agama nya.
Dan ia juga harus berseteru dengan ibu kandung nya sendiri.
Seketika Mawar mengusap air mata nya dan mencoba tersenyum di hadapan Fatimah.
"Ingatlah sayang, di mana pun kamu berada, ada Allah di sana, sekalipun tidak ada mata yang melihat tindak tanduk mu, tapi Allah melihat nya, jadikan itu pedoman Fatimah di mana pun Fatimah berada, jika Fatimah istiqomah, bunda pun akan lega dan tenang melepas kamu pergi ke mana pun jauh nya jarak memisahkan kita", ucap Mawar mencoba menasehati sang putri, seakan firasat nya berkata akan butuh waktu lama untuk ia bertemu dengan sang putri lagi.
"Insyaallah bunda", sahut Fatimah kembali berpelukan dengan sang bunda sebelum ia benar benar melangkah pergi dari rumah itu.
Air mata dokter Malik pun tak bisa di bendung saat diri nya mendengar semua percakapan kedua wanita sholehah itu dari luar.
Begitu indah skenario mu untuk mereka ya Allah, seindah apa surga yang kau bangun untuk mereka kelak ?, aku begitu iri dengan mereka, gumam dokter Malik dalam hati sembari mengusap air mata di pipi dan di kaca mata nya.
"Ayo Fatimah", seru dokter Malik membuat Fatimah bergegas pergi dari rumah itu tanpa berani menoleh ke belakang.
Hari itu ia benar benar meninggalkan sang bunda, orang yang pertama kali ia kenal dan ia tatap saat ia masih kecil.
Tempat kasih sayang pertama kali yang pernah ia dapatkan sebelum nya.
Lindungilah bunda ku ya Allah, gumam Fatimah dalam hati.
Ia menangis sejadi jadi nya saat Fatimah telah benar benar pergi dari sisi nya.
"Ayah, boleh kita berhenti di suatu tempat sebentar saja ", seru Fatimah.
"Kemanapun itu sayang", sahut dokter Malik.
"Aku mau bertemu ibu Rahel", seru Fatimah membuat dokter Malik tersenyum dan mengusap jilbab Fatimah.
Tak berselang lama.
Mereka telah sampai di tempat rehabilitasi tempat Rahel berada.
"Tunggu ayah !", seru Fatimah menghentikan langkah kaki sang ayah saat ingin keluar dari mobil.
"Tolong jangan katakan tentang semua ini pada ibu", pinta Fatimah.
"Tapi !", sahut dokter Malik.
__ADS_1
"Aku mohon", seru Fatimah.
"Baiklah", sahut dokter Malik hanya bisa mengikuti semua keinginan Fatimah.
Saat melihat kedatangan Fatimah, Rahel begitu nampak amat bahagia.
"Fatimah !", seru Rahel mencoba meraih tangan sang anak.
Sementara Fatimah terus berusaha menyembunyikan kesedihan nya.
Melihat Fatimah datang dengan dokter Malik, Rahel mencoba menundukkan pandangan nya.
Ia merasa malu dengan lelaki yang dulu pernah ia usik hidup nya dan yang tak ia lihat lagi belasan tahun lama nya.
"Apa kabar Rahel ?", sapa dokter Malik.
"Baik, terima kasih kamu masih mau menanyakan kabar perusak hidup mu ini", sahut Rahel kembali menatap Fatimah.
"Itu hanya masa lalu, jadi sebaiknya kita lupakan", sahut dokter Malik membuat Rahel menatap nya dengan senyuman.
"Tumben kamu datang hari ini sayang ?, hari minggu kan baru 3 hari lagi", seru Rahel mengusap jilbab sang anak.
"Fatimah kangen sama ibu", ucap Fatimah mencoba tersenyum di hadapan sang ibu.
Selama di sana.
Fatimah mencoba selama mungkin menemani sang ibu sebelum ia benar benar pergi dari kota itu.
Ia ingin ibu nya puas berbincang bersama nya pada hari itu.
"Bu, mungkin minggu depan Fatimah tak bisa datang kesini", ucap Fatimah membuat senyum Rahel memudar.
"Fatimah marah dengan ibu ?", sahut Rahel gelisah.
"Enggak bu, enggak, Fatimah pindah kuliah di luar kota, jadi Fatimah tak bisa sering berkunjung lagi, ibu gpp kan ?", seru Fatimah terpaksa berbohong.
"Baiklah sayang, ibu doakan kamu baik baik saja di mana pun kamu berada", ucap Rahel melepas tangan sang anak.
"Fatimah pamit bu, assalammualaikum", seru Fatimah mencoba mengusap air mata nya agar tak terlihat oleh sang ibu.
"Walaikumsalam", ucap Rahel sembari menatap sang anak hingga menghilang dari pandangan nya.
__ADS_1