Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Pelarian ke 2 Rea.


__ADS_3

Kini mereka bertiga langsung membagi tugas.


Fatimah di biarkan mengurus data Bos besar serta menyelesaikan prosedur lain nya yang di perlukan rumah sakit.


Sementara Tia dan Mira mengambil tugas untuk mencari Rani di sekitar rumah sakit.


"Kak, apa dia sudah kabur lagi?," ucap Tia semakin takut dengan sosok Rani yang begitu ia yakini adalah Rea yang sedang menyamar.


Jika Rani memang benar adalah Rea, dia benar benar wanita yang tidak bisa di remehkan keberadaan nya.


"Kita cari di sisi lain rumah sakit, mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat," sahut Mira tak patah semangat ingin mengungkap jati diri Rani sebenar nya.


__##___


"Tidak!," teriak Rea saat ia terbangun dari pingsan nya.


Rasa takut di wajah nya kian terlihat karna tidak ada cadar lagi yang menutupi wajah cantik nya.


Namun ia mulai bisa mengendalikan rasa takut nya saat ia memandang ke sekeliling ruangan tempat ia kini berada.


Kini diri nya tidak lagi berada di ruang jenazah.


Melainkan di sebuah ruang perawatan lengkap dengan selang infus di tangan nya.

__ADS_1


"Aku harus pergi dari sini, pihak rumah sakit mungkin ada yang mengenali wajah ku sebagai Rea," ucap Rea sembari mencabut jarum infus dari tangan nya secara paksa.


Namun ia segera bersembunyi saat sekilas nampak beberapa polisi terlihat melintas di luar ruangan.


"A- apa mereka sedang mencari ku?," ucap Rea sembari mengusap peluh di kening nya.


Perlahan Rea mencoba mengintip suasana luar ruangan dari celah pintu yang ada.


Nampak mereka sedang berbincang dengan para perawat sembari menunjuk ke arah ruangan tempat Rea kini berada.


"Gawat," sambung Rea sembari mencari tempat persembunyian untuk kembali lolos dari pencarian polisi.


"Dia di sini pak," seru seorang perawat sembari mengawal para polisi masuk ke dalam ruangan itu.


"Bahaya!, kita cari dia di seluruh tempat, dia bisa begitu berbahaya di luar sana," seru seorang kepala polisi dengan teledor nya tak mengecek lebih dahulu setiap sudut ruangan itu, tepat nya di balik gorden jendela.


---###---


Derap langkah mereka sudah menghilang, kini waktu nya bagi Rea kembali keluar dari tempat persembunyian nya.


"Aku tak mau masuk penjara!, tapi sebelum aku pergi aku harus memastikan bahwa Bos besar telah mati!, tanpa atau dengan kedua tangan ku ini," ucap Rea sembari bergegas mencari cara untuk sampai ke ruangan tempat Bos besar berada.


Di lain tempat, Mira serta Tia bahkan pengunjung yang lain begitu terkejut mendengar peringatan dari pusat informasi rumah sakit, bahwa seorang buronan kemungkinan sedang bersembunyi di dalam rumah sakit.

__ADS_1


Dengan cepat semua orang memilih segera berlindung ke ruangan pasien tempat kerabat mereka masing masing berada.


"Kak, kita cari kak Fatimah, perasaan ku gak enak," saran Tia segera di setujui oleh Mira.


___###___


Dengan nafas terengah engah, Rea berhasil sampai juga ke ruangan yang ia tuju.


"Astaga, jantung ku bisa copot kalau terus begini," keluh Rea dengan nafas yang masih tak beraturan.


Ia mulai kesal harus hidup dalam pelarian seperti ini.


Kesenangan nya yang dulu bahkan tak bisa ia rasakan lagi, walaupun sekejap.


Bahkan bau mall pun sudah hampir hilang dari ingatan nya.


Namun saat ia menatap ke depan, ia bak di sihir tepat pada saat itu juga.


Tubuh nya mematung dengan mata yang terbelalak tak berkedip sedikitpun.


Keringat nya begitu nampak membahasi wajah nya saat itu.


Ketakutan dan rasa syok yang begitu kuat kini begitu tergambar di wajah nya.

__ADS_1


"I- ini tak mungkin," ucap Rea terbata bata sembari menunjuk ke arah depan dengan tangan yang tak berhenti gemetar.


__ADS_2