
"Kau sungguh cantik Fatimah," sanjung Mawar begitu takjub dengan kecantikan Fatimah hari itu.
"Terima kasih bunda," sahut Fatimah sembari kembali memasang cadar nya, namun tetap tak menutup aura kecantikan yang terpancar dari wajah sang pengantin saat itu.
"Bunda begitu ingat saat Ummar kembali melamar mu secara baik baik kehadapan bunda dan ayah mu beberapa hari yang lalu," ucap Mawar mengingat pembicaraan mereka bertiga saat Fatimah masih berada di rumah sakit.
Mendengar cerita sang bunda, Fatimah hanya bisa tersipu malu sembari sesekali meremas sendiri jari jemari lentik nya, seakan ada perasaan gugup bercampur senang dalam hati Fatimah akan cerita sang bunda mengenai keseriusan Bos besar untuk meminang nya kembali.
"Doakan pernikahan ini bahagia hingga jannah nya bunda," ucap Fatimah sembari menatap pantulan raut wajah sang bunda di depan cermin rias milik nya.
Wajah nya masih tetap cantik di mata sang putri bagaimana pun kondisi sang bunda sekarang ini.
Di usia nya yang sudah mulai menua, di samping kondisi kesehatan nya yang terbilang tidak stabil, Mawar masih begitu nampak ceria dan bahagia di hadapan anak anak serta suami nya.
Doakan juga aku bisa menjadi wanita kuat dan ahli surga seperti mu bunda, batin Fatimah seakan merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat itu.
__ADS_1
Pernikahan nya kini bak pernikahan impian yang begitu ia impikan sejak kecil.
Bukan suatu acara pernikahan yang mewah, tapi itu tak berarti pernikahan hari itu tak di selimuti kebahagiaan, mungkin saja kebahagiaan pernikahan itu jau melampaui kebahagiaan pernikahan bak sultan di luaran sana.
Bahkan Fatimah tak memilih gaun mewah di hari istimewa nya itu.
Fatimah lebih memilih sebuah gamis putih dengan aksen sederhana namun begitu nampak anggun membalut tubuh nya.
Suasana di rumah besar pun tidak seramai acara pernikahan pada umum nya.
Keramaian dan senda gurau hanya tercipta antara keluarga besar mereka dan semua anak anak asuh rumah singgah Ummar, serta sedikitnya para tetangga sekitar yang bersedia datang demi menjadi saksi acara sakral hari itu.
Bahkan para anak anak pun akan langsung mengetahui kegelisahan dalam diri Bos besar saat menatap nya saja.
Bukan karna ia ketakutan saat tatapan dari kakek Bram yang tak berpaling sedikitpun dari nya di hari itu.
__ADS_1
Melainkan hati nya yang merasa berdosa sekali jika kenyataan tentang diri nya tak ia ungkapkan di depan orang tua Fatimah sebelum acara pernikahan itu dimulai.
Aku harus terima konsekuensi apapun itu, batin Bos besar segera bangkit dari tempat duduk nya dan langsung bergegas pergi menuju kamar Fatimah.
"Mau apa lagi dia," keluh Kakek Bram sembari terus membuntuti nya kemanapun Bos besar pergi.
----##--
"Kenapa kau di sini Ummar?," tanya Mawar saat membuka pintu kamar dan mendapati Ummar telah berdiri di hadapan nya.
"A- aku ingin bicara dengan ayah bunda terlebih dahulu," ucap Bos besar tak gentar sedikitpun, walaupun resiko terbesar nya adalah kegagalan acara pernikahan nya sendiri.
"Apa yang mau kau bicarakan dengan kami?," sahut dokter Malik yang tiba tiba telah berada di belakang Bos besar.
"Maafkan aku, tapi kalian harus tahu jati diri ku di masa lalu sebelum kalian mengenal ku sebagai Ummar di hari ini," ucap Bos besar tanpa berniat mundur dari niat nya sedikitpun.
__ADS_1
"Bicaralah, kami mendengarkan," sahut Mawar membuat kakek Bram merasa bimbang seketika.
Apa dia ingin mengungkap masa lalu nya?, aku harus bagaimana?, hentikan atau biarkan mereka tahu seperti keinginan ku selama ini?, tapi bagaimana dengan nasib cucu ku nanti jika pernikahan ini sampai batal, batin kakek Bram terus mengamati situasi dari kejauhan.