
Ting tong..
"Iya sebentar !", seru sebuah suara dari dalam rumah.
Saat pintu di buka, bu Ratih amat bahagia karna hari itu yang bertamu adalah Fatimah.
"Assalamualaikum nek", seru Fatimah mencium punggung tangan bu Ratih.
"Walaikumsalam, nak Fatimah ?", timpal bu Ratih sesaat merasa tertegun dan takjub terhadap kecantikan Fatimah yang mempesona seperti Mawar sewaktu remaja dulu, di balut kerudung yang menutupi mahkota nya, Fatimah nampak anggun menawan.
"Apa kakek ada di rumah nek ?", tanya Fatimah.
"Kakek udah 2 hari menginap di rumah dokter Malik, untuk persiapan pernikahan bunda mu dan dokter Malik, masyaallah !, akhir nya merek berdua bersatu, takdir memang tak bisa di tebak ya sayang", seru bu Ratih amat bahagia sampai tak memperhatikan raut kesedihan yang coba Fatimah sembunyikan dari semua orang.
Fatimah hanya tersenyum menimpali setiap ucapan bu Ratih yang sangat bersemangat dengan pernikahan Mawar dan dokter Malik.
"Oh ya !, kok jadi ngobrol di sini, yuk masuk sayang", seru bu Ratih menarik tangan Fatimah menuju ruang tamu.
"Nek, aku sebenar nya datang ke sini mau tanya sesuatu ke nenek", ucap Fatimah.
"Iya bentar ya, nenek ambilin kamu makanan sama minuman dulu", seru bu Ratih tapi seketika di hentikan oleh Fatimah.
"Bentar aja nek", ucap Fatimah dengan nada memohon.
Membuat bu Ratih heran dengan tingkah Fatimah yang begitu tegang.
"Kamu mau tanya apa sih sayang ?", seru bu Ratih duduk kembali di samping Fatimah.
"Tapi nenek janji ya jawab semua nya dengan jujur", pinta Fatimah.
"Iya, nenek janji", ucap bu Ratih tanpa bisa menebak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Fatimah.
"Nek, apa benar Fatimah itu bukan anak kandung bunda ?", tanya Fatimah sontak membuat bu Ratna tercengang.
"Pertanyaan apa itu Fatimah ?", elak bu Ratih.
"Nenek sudah janji", seru Fatimah memegang tangan bu Ratih.
Membuat bu Ratih merasa kasihan dan iba pada gadis remaja di hadapan nya.
"Benar, tapi kamu tetap kesayangan kami semua, tak ada beda nya dengan Aqly", ucap bu Ratih mencoba menjelaskan kedudukan Fatimah di mata mereka.
"Lalu, apakah benar Fatimah itu anak haram ?", tanya Fatimah dengan nada gemetar dan mata yang berair.
"Fatimah !", seru bu Ratih mencoba menghentikan Fatimah.
"Nek, jawab dengan jujur", pinta Fatimah dengan nada memohon.
__ADS_1
Bu Ratih hanya menunduk sembari mengangguk di hadapan Fatimah.
Membuat air mata Fatimah mengalir begitu deras nya.
"Itu masa lalu sayang, kubur semua dalam dalam", ucap bu Ratih mencoba menasehati Fatimah.
"Lalu, apakah ibu kandung Fatimah masih hidup nek ?", tanya Fatimah terus berlanjut.
Lagi lagi, bu Ratih hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Fatimah.
"Kalau itu benar, di mana ibu kandung Fatimah sekarang nek ?", seru Fatimah sesenggukan.
"Dia ada di rumah sakit jiwa nak", ucap bu Ratih sembari menangis.
Ucapan bu Ratih seketika membuat Fatimah semakin syok.
"Jadi, ibu Fatimah mengalami gangguan jiwa ?", seru Fatimah merasa lemas mendengar kenyataan pahit itu.
"Bukan itu saja sayang, ibu mu juga mengidap HIV karna ia sempat di perkosa oleh segerombolan preman saat kamu masih kecil", ucap bu Ratih lagi lagi membuat Fatimah terkejut.
"Seburuk itukah masa lalu nek ?, lalu apa lagi yang Fatimah tidak ketahui ?", tanya Fatimah lagi.
"Ibu mu meninggalkan mu di teras rumah bunda mu saat kamu masih bayi, demi menikah dengan dokter Malik", seru bu Ratih merasa geram dengan masa lalu menyakitkan yang ditorehkan Rahel pada Mawar di masa lalu.
Seketika tangisan Fatimah pecah.
"Kenapa ini semua harus terjadi pada Fatimah nek ?", seru Fatimah di sela sela isak tangis nya.
"Istigfar sayang, semua sudah garis takdir dari Allah", ucap bu Ratih mencoba menenangkan Fatimah.
"Bahkan ibu kandung Fatimah yang merusak kehidupan bunda kan nek !", seru Fatimah merasa frustasi dengan fakta itu.
"Dengarkan nenek !, Fatimah adalah anak bunda Mawar, biarpun Fatimah bukan anak kandung itu tak berarti didikan nya pada Fatimah akan sia sia bukan !, Fatimah pasti punya cita cita seperti bunda kan ?, nenek yakin itu pasti, dan nenek bisa lihat itu semua !, jadi sekarang, belajarlah dari apa yang Fatimah lihat dari bunda, bunda yang tegar, bunda yang kuat, karna bunda Mawar tahu, bahwa surga Allah itu tak gratis sayang !", seru bu Ratih membuat tangisan Fatimah berangsur angsur mereda.
Perlahan, Fatimah mulai mengusap air mata nya.
"Nenek benar, semua ini tidak ada apa apa dengan jalan terjal hidup bunda, aku harus kuat !", ucap Fatimah mencoba untuk bangkit dan menguatkan kedua kaki nya untuk kembali menopang tubuh nya.
"Itu baru cucu nenek !", seru bu Ratih mencium kening Fatimah.
Ya Allah, jagalah hamba mu yang beriman ini, gumam bu Ratih dalam hati.
"Nenek bisa antar aku bertemu ibu ?", seru Fatimah.
"Tapi kamu janji, gak boleh nangis lagi", timpal bu Ratih langsung di jawab sebuah anggukan dan senyuman kecil di wajah Fatimah.
"Tapi nek, jangan beritahu siapapun termasuk bunda kalau aku sudah tau semua nya, aku gak mau kebahagiaan bunda hancur karna aku", pinta Fatimah membuat bu Ratna tertegun.
__ADS_1
bu Ratih lalu mengelus jilbab Fatimah dengan lembut nya.
"Sesuai permintaan cucu ku yang sholeha ini", seru bu Ratih memeluk Fatimah.
Lalu mereka berangkat menuju ke tempat Rahel berada.
__
Saat mobil mereka telah sampai di halaman rumah sakit jiwa.
Fatimah terus menatap bangunan itu dengan rasa takut.
Bu Ratih yang melihat kegelisahan di wajah Fatimah kembali menutup pintu mobil nya.
"Kita bisa lakukan ini kapan pun kamu siap", seru bu Ratih.
"Tak apa nek, aku sudah siap", seru Fatimah keluar dari dalam mobil.
Ia berjalan dengan mantap memasuki bangunan di hadapan nya.
Setelah meminta izin kepada suster yang bertugas, mereka segera di arahkan ke tempat Rahel berada.
"Sus, bukan nya kamar nya di sebelah sana ya ?", tanya bu Ratih heran dengan tujuan mereka.
"Rahel Malik kan buk !, dia sudah pindah ke ruangan lain 5 tahun yang lalu, kondisi nya sekarang jauh lebih baik dari pertama kali dia datang kemari", ucap suster menjelaskan.
Fatimah dan bu Ratih pun terus mengikuti langkah kaki suster yang memandu mereka.
Tiba tiba langkah mereka berhenti di sebuah ruang isolasi yang cukup luas.
"Kalian hanya bisa menjenguk nya sampai sini, karna ini adalah tempat isolasi bagi pasien HIV, apa perlu saya panggilkan ibu Rahel ?, mungkin di sekarang sedang mengajar anak anak pengidap HIV", ucap suster itu membuat bu Ratih terkejut.
"Mengajar sus ?, suster tak salah ?", seru bu Ratih.
"Bu Rahel sudah sembuh dari gangguan jiwa nya 5 tahun lalu, dan ia mengabdikan diri nya untuk merawat anak anak di ruang isolasi ini", ucap suster itu lagi.
"Benarkah ?", seru bu Ratih tak percaya hal mustahil seperti itu bisa terjadi.
"Saya akan panggilkan dia", ucap suster.
"Tidak perlu sus, biar saya yang memanggilnya sendiri", seru Fatimah.
"Kamu yakin sayang ?", tanya bu Ratih.
Fatimah hanya mengangguk sembari memandang ke arah ruangan isolasi tempat ibu nya berada.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi", ucap suster itu berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1