
Melihat keluarga Mawar yang resah gelisah setiap saat, Rahel malah bersemangat untuk mendapatkan sasaran utamanya, yaitu Burhan.
"Semua itu hanya gertakan Mawar, tunggu Rencana utamaku", seru Rahel dari balik semak semak mengintai rumah Mawar.
Keesokan harinya.
Rahel yang merasa sudah merencanakan waktu dan kondisi yang tepat untuk pembalasan dendamnya pada Burhan, bergegas keluar dari kos tempatnya tinggalnya dan menaiki taxi menuju ke kediaman Mawar.
"Mbak...!!, tasnya kelihatan berat banget, mau kemana..??", ucap supir taxi melajukan mobilnya menuju tujuan sesuai permintaan Rahel.
"Kepo deh..!!, jalan aja kenapa sih...!!", ketus Rahel.
"Ya elah mbak...!!, cuma nanya doang, ya kali mbak mau bunuh orang..!!", seru supir Taxi membuat Rahel clingukan.
"Apa.an sih..!!, ngaco deh..!!, aku turun nih ...!!", seru Rahel mencoba bersikap tak mencurigakan.
"Iya iya mbak...!!, gitu aja marah..!!", seru supir taxi itu tanpa bertanya lagi sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian.
"Dah nyampek mbak...", ucap supir taxi itu menerima uang dari uluran tangan Rahel.
Supir itu masih penasaran, ia agak lama mengamati gerak gerik Rahel di tempatnya menurunkan Rahel.
"Mencurigakan banget sih...!!, ngapain juga berhenti di sudut komplek kayak gini..??, ahh sudahlah..!!, yang penting dapat duit..!!", ucap supir taxi itu segera berlalu pergi dari sana.
Rahel mengendong erat tas yang ia bawa sedari rumah.
__ADS_1
Ia berjalan dengan sesekali memandang kesekeliling untuk mengamati situasi yang ada.
"Aman..!!", ucap Rahel berbelok pada lahan kosong di sudut komplek yang tak jauh dari rumah Mawar.
Ia mengeluarkan botol berisi bensin dan korek api.
Ia membayangkan jika Burhan akan terbakar hangus di dalam rumahnya sendiri seperti Geyna dahulu.
"Kasian banget kamu Mawar, kamu bakal kehilangan suamimu dengan cara tragis seperti yang mami mu lakukan untuk melenyapkan nyawanya sendiri", ucap Rahel bangga dengan rencananya yang ia rasa telah tersusun dengan sempurna.
Ia kemudian memanjat tembok belakang rumah Mawar dan mengendap ngendap di tepian rumah.
Rahel kemudian melihat ke arah jam tangannya.
"Pas...!!, kalau jam segini pasti Burhan ada di rumah buat ambil keperluan Fatimah selama ia di rumah sakit", ucap Rahel menuangkan botol berisi bensin di sekeliling rumah.
Ia juga melakukan hal yang sama pada pintu belakang.
Rahel kemudian bergegas memanjat kembali tembok belakang untuk keluar dari halaman belakang rumah Mawar, dan segera ia mengambil korek api di sakunya.
"Mampus kamu Burhan..!!, siapa suruh macam macam denganku", seru Rahel melempar korek api ke arah rumah Mawar.
Dan, bullllllll.....!!!!!!!!
Api berkobar dan merayap cepat ke sekeliling rumah dan ke atap rumah.
Tak berapa lama terlihat warga sekitar berbondong bondong memadamkan api yang kian membesar.
__ADS_1
Rahel yang melihat dari arah kerumunan warga tersenyum bahagia.
Sekarang, Mawar resmi jadi Janda....!!, uhhh kasian sekali, gumam Rahel pergi dari tempat itu.
Ia tak sabar mendengar surat kabar dan media meliput tentang kesedihan Mawar esok hari.
____
"Hel, kenapa kamu...??", seru seorang kasir restoran tempat Rahel bekerja.
Pasalnya, setelah melakukan aksinya itu Rahel langsung menuju tempatnya bekerja.
"Gpp", ucap Rahel singkat sambil mengelap meja restoran.
"Kok senyum senyum sendiri dari tadi..??", tanya rekannya yang lain.
"Emang gak boleh apa aku seneng dikit gitu..??", ketus Rahel melanjutkan pekerjaannya.
"Ya elah Hel, kita cuma heran aja, tumben kamu kok seneng amat kayaknya", seru rekannya yang lain.
"Udah deh, yang penting aku udah selesai kan ambil cuti, mau aku pulang lagi nih..!!, biar kalian yang ngerjain pekerjaan aku..??", ucap Rahel menggertak.
"Iya deh iya", seru para rekannya dan segera meninggalkan Rahel sendirian.
Rahel kemudian menyalakan televisi di depannya.
Ia mencari saluran berita, tetapi berita yang ia cari belum masuk di liputan televisi manapun.
__ADS_1
Gak sabar aku nunggu berita yang membahagiakan itu, gumam Rahel mematikan televisi di depannya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.