
Dering telfon membuyarkan diam Fatimah seketika.
"Bunda," ucap spontan Fatimah segera menatap layar ponsel nya yang sedang menyala.
Namun dengan cepat, ponsel itu segera di rampas oleh Bos besar sebelum Fatimah sempat mengangkat panggilan dari sang bunda.
"Siapa yang mengizinkan mu memiliki ponsel?," ketus Bos besar sembari memberikan ponsel itu ke tangan Rea sang kaki tangan kepercayaan nya.
"Jangan berlagak kau yang berkuasa Fatimah, kini aku sudah kembali, kau mengerti!," sentak Bos besar hingga membuat air mata Fatimah menetes.
"Aku tak tahu apa yang telah terjadi selama aku koma, tapi apapun itu, kau benar benar memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik Fatimah," sambung Bos besar yang kini menatap Fatimah dengan tatapan penuh amarah.
"Ma-maaf," sahut lirih Fatimah dengan kepala yang tertunduk.
Ucapan itu bahkan berhasil membuat Rea serta Tia ikut menangis dalam diam saat itu juga.
Kini tak ada lagi tatapan penuh kasih sayang antara kedua nya.
Bahkan kini Fatimah kembali menundukkan pandangan nya seperti dahulu, saat kasih sayang dan cinta belum terjalin diantara kedua nya.
Waktu seakan kembali ke masa lalu dan menciptakan jarak yang begitu jauh antara ia dan Bos besar.
Ternyata kau masih mengasihani ku tuhan, baguslah, ini bagaikan jackpot besar untuk ku, batin Rea kembali mendapatkan kepercayaan diri nya lagi.
__ADS_1
Hidup nyaman dan glamor bahkan sudah terbesit di pikiran nya kembali saat itu.
"Bos sebaik nya istirahat, Bos harus cepat pulih untuk menyelamatkan rumah besar kita," hasut Rea semakin membuat Mira geram.
"Kamu usir mereka dulu, aku tidak akan bisa tenang jika mereka ada di ruangan ini," ujar Bos besar membuat Rea langsung tersenyum dengan licik nya.
"Kalian dengar kan apa kata Bos besar, apa aku harus menyeret kalian keluar," ancam Rea dengan sombong nya.
"Ayo Fatimah," ucap Mira mencoba memapah Fatimah yang masih syok untuk segera keluar dari ruangan itu, untuk setidak nya menjauh kan Fatimah dari hal yang semakin membuat nya terpuruk.
__##__
"Fatimah, apa kau bisa jelaskan semua ini pada kami?," ucap Mira seakan tak mempercayai apa yang telah terjadi.
"Sudahlah kak, apa kau tak mengerti kondisi nya sekarang?," sela Tia begitu tak tega melihat kondisi Fatimah saat itu.
"Tapi apa guna nya dia diam Tia!, ini akan membuat semua nya semakin kacau," seru Mira begitu emosi di buat nya.
Seketika tangisan Fatimah pecah, hingga lembar kertas yang sedari tadi di genggam erat oleh nya langsung jatuh ke lantai.
"A- apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami?," ucap Mira segera mengambil kertas itu dengan penuh rasa khawatir.
Ekspresi Mira seketika berubah usai membaca beberapa baris kalimat yang tertera di kertas itu.
__ADS_1
"Kak?, ada apa ini?, kenapa kau juga nampak aneh sekarang?," ucap Tia begitu bingung menyikapi Fatimah dan Mira di saat yang kacau seperti itu.
__##__
"Syukurlah Bos segera sadar, kalau tidak," ucap Rea memasang wajah sedih nya di hadapan Bos besar.
Simpati penuh dari Bos besar begitu ingin ia dapatkan saat itu juga.
Kini ia begitu berambisi mengambil apa yang ia miliki di masa lalu.
Ketenaran, kemewahan dan semua kejayaan nya yang dahulu.
Perlahan ia menyelimuti Bos besar sembari menceritakan semua hal bohong tentang Fatimah dan semua yang terjadi kepada sang Bos.
"Begitulah Bos, dan akhir nya aku menjadi budak nya selama ini," ucap Rea sembari meneteskan air mata buaya nya.
Namun karna tidak ada jawaban apapun dari Bos besar.
Rea seketika mengangkat pandangan nya dan tepat pada saat itu juga ia langsung tersungkur ke lantai.
"Kenapa mbak?, kemari lah, jangan tinggalkan aku sendirian mbak," rintih sebuah suara yang tidak akan pernah dilupakan oleh Rea sedetik pun.
"Pergi kamu!, pergi!," teriak Rea dengan histeris nya saat melihat Bos besar telah berubah menjadi sang sopir tuan Danu yang telah ia dorong dengan sengaja ke jurang beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1