Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Burhan


__ADS_3

Ditengah keretakan hubungan antara dokter Malik dan Mawar.


Sepertinya Allah punya rencana lain untuk membuat mereka lebih memiliki keberanian untuk mengerti cinta masing masing.


Di saat fase Mawar ingin menyembuhkan luka hatinya, Allah sepertinya sengaja mempertemukan Mawar dengan seorang lelaki yang nampak lebih segalanya di bandingkan dokter Malik.


Akankah hati Mawar bisa melupakan dokter Malik dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam cinta yang baru...??.


______


"Buk Mawar mau jalan jalan dulu ya sama Fatimah, cuma keliling komplek, fatimah penat ya kan nak di rumah terus..?", ucap Mawar mengayun ngayunkan Fatimah di tangannya.


"Hati hati ya..", ucap Mbak Lastri melipat mukenah kesayangannya seusai shalat dhuha, mukenah jahitan tangan Mawar yang dipadu padankan dengan sulaman tangannya yang ia idam idamkan sejak dulu.


"Assalammualaikum", ucap Mawar mencium punggung tangan Mbak Lastri.


"Walaikumsalam", ucap Mbak Lastri mencium kening Fatimah.


"Ayooo kita jalan jalan sayang...!!, kamu suka kan...??, uwhhh anak siapa sih ini..??", seru Mawar sembari berjalan keluar rumah.


Mawar berjalan menyusuri jalanan komplek.


Ia menikmati setiap detik nafas yang masih Allah titipkan padanya.


Ia menata hatinya agar melupakan rasa sakitnya karna mengingat dokter Malik.


Gak ada alasan aku murung, Allah masih sayang padaku sampai detik ini, masih banyak orang yang tak beruntung diluar sana dibandingkan aku, gumamnya dalam hati


Mawar tersenyum dengan memandang Fatimah di gendongannya.


Fatimah semakin menggemaskan dan cantik.


Di usianya yang masih 4 bulan Mawar mencoba memakaikan sebuah hijab pada Fatimah untuk mengetahui reaksi fatimah akan hijab, tak disangka sejak itu Fatimah malah tak menunjukkan bahwa ia merasa risih dan malah terbiasa dengan hijabnya.


"Assalammualaikum Mawar, jalan jalan ya sama Fatimah..??..", seru seorang tetangga di depan halaman rumahnya.


"Walaikumsalam ibuk, iyaa nih buk Fatimah jenuh dirumah ", ucap Mawar meneruskan jalannya menyusuri jalanan komplek.


Tiba tiba langkah Mawar terhenti di tepi taman.


"Ada apa itu..??", ucap Mawar memandang ke arah tengah area taman.


Mawar sedikit tertarik dengan pandangan di depannya.


Ia duduk di kursi taman sembari beberapa kali tersenyum melihat pemandangan di depannya.


Terlihat seorang lelaki seusianya sedang mengajar anak anak mengaji di tengah area taman.


Yang membuat Mawar tertarik ialah cara lelaki itu mengajar.


Cara mengajarnya lebih banyak menfokuskan pada ketertarikan anak anak tentang alam dan lingkungan, dengan diselingi belajar sambil bermain mereka terlihat bahagia dalam belajarnya.


"Kakak...??, yuk ikutan main..!!", seru seorang anak perempuan menarik tangan Mawar dan mengajaknya bermain bersama dengan mereka.


"Ehhh iyaaa iyaa", seru Mawar terus saja di tarik menuju ke tempat anak anak yang lain.


Mawar berhenti karena hampir menabrak seorang lelaki didepannya.


"Astagfirullah, maaf mas, saya tak sengaja, fokus saya ke mereka semua", seru Mawar seketika menundukkan pandangannya dan mendekap Fatimah.


"Maaf kak", seru anak perempuan yang menarik tangan Mawar sampai hampir menabrak tubuh lelaki itu.


"Tidak apa sayang, sana kamu main lagi, sambil hafalkan apa tadi yang kakak ajarkan..??", seru lelaki itu jongkok dan menenangkan anak asuhnya itu.

__ADS_1


"Hafal dong kak, bahasa arabnya Pohon شَجَرَةٌ, Daun وَرَقَةٌ, Bunga زَهْرَةٌ, terus...??, apa lagi ya kak..??", ucapnya sambil mengingat ngingat pelajaran tadi.


Lelaki itu dan Mawar pun tersenyum dibuatnya.


"Pinter ....!!, gih kamu tanya teman teman yang lain, apalagi yang kamu lupa", ucap Lelaki itu.


"Siap kak", serunya sambil berlari ke arah teman temannya yang juga sedang bermain serta belajar bahasa arab dari alam.


Lelaki itu lalu memandang Mawar yang sedang tersenyum melihat tingkah anak anak yang sedang bermain dan belajar di hadapannya.


Tak di sadari ia menyukai Mawar pada pandangannya yang pertama.


Ia terus memandangi gadis sederhana, anggun dan cantik di hadapannya.


Sampai Mawar pun tersadar sedang di pandang oleh lelaki di depannya.


Seketika pandangan Mawar pun kembali menunduk dan merasa malu.


"Astagfirullah Maaf, lancangnya saya memandang istri orang", ucap Lelaki itu menganggap bahwa Mawar sudah menikah dan anak yang digendongnya ialah anaknya.


"Tidak apa", ucap Mawar memalingkan pandangannya pada anak anak di sampingnya.


"Perkenalkan saya Burhan, orang tua asuh mereka", ucap Burhan memperkenalkan dirinya.


"Saya Mawar..., dan apa maksudnya orang tua asuh..?", ucap Mawar heran, karna tidak mungkin dengan usianya yang masih muda memiliki anak angkat sekian banyaknya.


"Saya memiliki sebuah rumah singgah, ya semacam rumah panti bagi anak anak yang ditinggal oleh orang tuanya, jadi saya ini orang tua asuh mereka", ucap Burhan menjelaskan.


Mawar pun tertegun.


Hebat sekali seorang lelaki muda bisa berfikir se mulia ini, gumam Mawar dalam hati mulai ada rasa kagum pada sosok lelaki yang baru ia temui beberapa menit yang lalu itu.


"Ini anak Mawar...??", ucap Burhan mencoba mengajak ngobrol Fatimah yang sangat tenang di gendongan Mawar.


"Iyaaa, ini anakku", ucap Mawar tanpa rasa takut akan jauh dari jodoh, selama seorang lelaki bisa menerima Mawar apa adanya, ia tak akan mempermasalahkan status Fatimah sebagai anak angkat ataupun anak kandungnya.


Tiba tiba anak anak bersama sama berlari ke arah Burhan.


"Kakak...!!, kami sudah hafal bahasa arab nama nama tanaman disini..!!", seru anak anak kegirangan.


"Masyaaallah pintar sekali.., ya sudah, kita lanjut pelajaran kita nanti ya, sekarang kita pulang", ucap Burhan dengan sikap yang sangat mengayomi anak anak asuhnya.


"Saya juga pamit", ucap Mawar melangkah pergi dari hadapan mereka.


Seketika tangan mungil menggenggam tangan Mawar.


"Kakak, pulang sama kami ya, kita jalan bareng", seru seorang anak asuh Burhan pada Mawar.


Mawar tersenyum dan seakan tak keberatan sama sekali.


"Ayokkk", ucap Mawar menggandeng tangan anak itu, membuat Burhan tersenyum melihat sikap keibuan Mawar.


"Kakak..!!, sholawatan yuk..!!", seru seorang anak lelaki menggandeng tangan Burhan.


"Ayokk, kita jalan sambil bersholawat", ucap Burhan membuat anak anak makin bersemangat.


Mawar pun juga ikut senang seakan ia juga anak asuh dari Burhan yang menunggu keseruan keseruan lainnya selama perjalanan mereka pulang.


...Ya Nabi Salam ’Alaika...


...Ya Rasul Salam ’Alaika...


...Ya Habib Salam ’Alaika...

__ADS_1


...Sholawatullah ’Alaika...


...Asyroqol Badru ’Alaina...


...Fakhtafat Minhul Buduruu...


...Mitsla Husnik Maa Ro’aina...


...Khottu Ya Wajha Sururii...


...Allah Ya Nabi Salam ’Alaika...


...Ya Rasul Salam ’Alaika...


...Ya Habib Salam ’Alaika...


...Sholawatullah ’Alaika...


...Anta Syamsun Anta Badrun...


...Anta Nuurun Fauqo Nuuri...


...Anta Iksiru Wagholi…...


...Anta Misbahus Shuduri...


...Ya Nabi Salam ’Alaika...


...Ya Rasul Salam ’Alaika...


...Ya Habib Salam ’Alaika...


...Sholawatullah ’Alaika...


...Ya Habibi Ya Muhammad...


...Ya ’Arusal Khofiqoini...


...Ya Muayyad Ya Mumajaad...


...Ya Imamal Qiblataini...


Lantunan lagu shalawat terdengar menggema disepanjang jalan, bahkan Mawar ikut terlena seakan ia membayangkan dirinya masih ada di dalam pesantren milik pak kyai Usman.


Tak terasa Mawar sudah berada di depan gerbang rumahnya.


Mawar seakan tak rela kebersamaan dengan anak anak itu akan berakhir sesingkat ini.


"Mas Burhan dan anak anak tak mampir dulu..??", ucap Mawar menawarkan mereka tempat istirahat sejenak.


"Terima kasih Mawar, lain kali saja, kami permisi dulu, assalammualaikum", ucap Burhan melanjutkan langkahnya dan terus bersholawat bersama anak anak.


Mawar hanya butuh sekejab saja untuk bisa menilai kepribadian seorang pria.


Dan bagi Mawar, Burhan adalah sosok lelaki yang sempurna.


Dengan segala kemegahan dam kesenangan duniawi, ia malah mendedikasikan dirinya hanya untuk anak anak yang bahkan tidak diharapkan oleh orang tuanya.


Tidak hanya satu anak, bahkan berpuluh puluh anak.


Disaat usianya yang masih bisa menikmati kesenangan duniawi ia malah mengejar kenikmatan dan pahala untuk akhiratnya.


Kriteria lelaki sempurna di mata Mawar.

__ADS_1


Lelaki yang dengan kegagahannya bisa menghancurkan kokohnya gunung malah ia gunakan untuk menumbuhkan tunas tunas baru yang membutuhkan.


Mawar pun menarik nafas panjang dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2