
Pagi pagi sekali bu Maryam sudah terlihat sibuk di dapurnya.
Ia membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.
Ia terlihat sangat sibuk belakangan ini.
Seseorang yang melihatnya tidak akan tau jika sebenarnya ia berusaha menyembunyikan gejolak hatinya.
Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk sedikit melupakan rasa hatinya yang terluka dan beban batin yang ia alami.
Sesekali ia terdiam sejenak.
Tidak ada fikiran atau bayangan di masa mudanya jika suatu saat pernikahannya akan menjadi seperti ini.
Tujuan baik untuk memberikan seorang ayah dan status bagi anaknya malah menjadi neraka dunia baginya.
Ia terjebak dalam pernikahan dengan seorang lelaki yang tak pernah bisa menghargainya.
Bertabiat buruk, suka main perempuan, mabuk mabukan.
"Astagfirullah", ucap lirih bu Maryam sambil mengelus dadanya dan mengusap dahinya yang basah karna tak berhenti beraktifitas menyibukkan dirinya dengan pekerjaan rumah.
Ia juga tak menyangka, jika suaminya memiliki anak kandung.
Ia khawatir kehadiran anak Bram akan lebih menghancurkan kehidupan Malik.
Kenapa tidak...??.
Bram akan menyingkirkan Malik, bahkan mungkin Malik sudah tak akan dipandang dan tak diakui anak oleh Bram.
Bram juga akan menceraikan bu Maryam karna sudah tak ia butuhkan lagi.
Jika tentang bercerai, bu Maryam malah senang terlepas dari belenggu suami seperti Bram.
Tapi ia memikirkan nasib Malik nantinya.
Bagaimana itu semua bisa menghancurkan kehidupan Malik nantinya...??.
__ADS_1
Bu Maryam menarik nafas panjang.
"Sabar Maryam, demi Malik", ucap bu Maryam mencoba bertahan dan menyembunyikan berita bahwa papinya sebenarnya memiliki anak kandung.
Ia bertekad semua akan terlihat baik baik saja dihadapan Malik.
Biarkan aku saja yang menanggung rasa sakit ini sendiri, anakku jangan, gumam bu Maryam dalam hati sambil kembali menata sarapan di meja makan.
"Pagi mi", ucap dokter Malik berjalan menghampiri bu Maryam dan mencium pipinya.
"Pagi sayang, yuk sarapan", ucap bu Maryam berusaha terlihat baik baik saja.
"Mi, nanti aku pulang malam ya, oh ya bilang Rahel suruh setrika jas kerjaku buat besok, mami istirahat aja jangan terlalu capek", ucap dokter Malik sambil menikmati sarapan di meja makan.
Pandangan bu Maryam tertuju pada suaminya yang kini tengah bersiap rapi keluar dari kamarnya.
"Pi...!!, sarapan dulu..??", seru Bu Maryam.
Dokter Malik terdiam dan sesaat kemudian kembali menyantap sarapannya.
Bu Maryam langsung menyiapkan kursi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
Bram hanya tertegun dan mulai melahap sarapannya.
"Teh pi..??", ucap Bu Maryam.
"Gak usah", ucap Bram masih menatap heran ke arah istrinya yang bersikap baik padanya.
Dalam benaknya, ia sangat terheran heran dengan sikap Bu Maryam, terlebih setelah kejadian waktu itu yang membuat bu Maryam tau bahwa Bram memiliki anak kandung.
Lalu pandangan Bram tertuju pada Malik.
Ia kemudian menyadari bahwa bu Maryam mencoba menyembunyikan semua itu dari Malik.
"Malik, mana Rahel..??", ucap Bram mencoba basa basi.
"Rahel masih dikamar pi..", ucap dokter Malik mencoba melupakan sikap papi nya yang buruk akhir akhir ini padanya.
__ADS_1
"Bagaimana pernikahannmu..??", ucap Bram.
Dokter Malik terdiam sejenak, ia meremas sendoknya dan sesaat kemudian kembali tenang.
"Baik pi..., aku sudah menerima Rahel jadi istriku, seperti perintah papi", ucap Dokter Malik tak mau memancing perdebatan lagi di dalam rumahnya.
Dokter Malik tak mau maminya menjadi tertekan karna semua masalah yang terus bermunculan di keluarga mereka.
"Bagus kalau begitu", ucap Bram melempar senyuman pada Malik.
"Mi, aku berangkat dulu ya, assalammualaikum", ucap dokter Malik mencium punggung tangan mami dan papinya.
Dokter Malik pun masuk ke mobilnya dan pergi menuju rumah sakit tempatnya bekerja.
Bu Maryam kemudian membereskan piring kotor di meja makan.
Ia terdiam melihat Bram terus memandang ke arahnya tanpa berpaling sedikitpun.
"Aku tau, kamu sembunyikan semuanya dari Malik kan..??", ucap Bram.
"Lebih baik untuk Malik tidak tau tentang kenyataan itu", ucap Bu Maryam berpaling dari hadapan Bram.
" Pinter juga kamu, tapi jika aku sudah berhasil menemukan anak kandungku, siap siap kamu kasih tau Malik oke....!!, dan siap siap kamu menjanda", ucap Bram mendekatkan bibirnya di telinga Bu Maryam.
Membuat air mata bu Maryam tak bisa lagi dibendung.
Bram berjalan meninggalkan bu Maryam yang terisak isak.
"Aku kerja dulu istriku tercinta", seru Bram sambil tertawa mempermainkan perasaan Bu Maryam yang telah hancur sejak lama.
"Astagfirullah", ucap Bu Maryam berlari menuju ke kamarnya.
Rahel yang sedari tadi bersembunyi di balik tangga kemudian keluar dan menyaksikan bu Maryam yang masuk ke dalam kamar sambil menangis.
"Gawat nih..!!, sekarang aku masih aman, tapi kalau anak kandung om Bram ketemu, bisa di coret aku dari keluarga Jayawijaya", ucap Rahel bergegas keluar rumah dan masuk kedalam mobilnya.
Aku harus cari wanita pelacur itu, cuma dia sekarang harapanku, gumam Rahel dalam hati dan bergegas memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1