Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Pertemuan kembali setelah 22 tahun


__ADS_3

Mobil Boy segera memasuki halaman rumah yang tak asing di ingatan Bram.


Meskipun hanya sekali Bram kesana, tapi ia sangat mengingat tempat itu.


Tempat ia bertemu seorang gadis muda 22 tahun silam.


Sebelum ia harus meninggalkan indonesia karna pekerjaannya di luar negri.


Dan itu menjadi kenangan terakhir ia bersenang senang dengan para wanita sebelum akhirnya ia menikah dengan Maryam.


Wanita yang sekarang ini menjadi istri sah nya.


"Yukk Bram", ucap Boy turun dari mobilnya.


Bram pun mengikuti Boy turun dari mobil.


Terlihat seorang wanita yang masih sama seperti yang ia lihat 22 tahun lalu.


Meskipun tubuhnya tak seramping dahulu.


Tatapan Geyna pun berusaha mengenali lelaki yang sedang menuju ke arahnya.


Ia mematikan rokoknya dan segera mendekati kedua lelaki itu.


Seakan merasa ada keanehan di tatapan Bram dan Geyna yang tak berpaling satu sama lain, Boy memutuskan langsung masuk ke rumah besar dan langsung menggandeng seorang gadis yang saat itu menyambutnya di dalam rumah.


"Kau masih cantik seperti dulu Geyna", ucap Bram mengitari Geyna yang masih berusaha mengenali Bram.


Mendengar perkataan Bram, memancing ingatan Geyna.


Geyna pun ingat bahwa yang saat ini di sampingnya ialah Bram.


Seorang lelaki yang bercumbu dengannya 22 tahun silam.


Lelaki yang ia pilih sebagai pemilik benih terbaik untuk rahimnya.


Yang sekarang benih itu malah menjadi musuh besar Geyna.


"Rupanya itu kamu Bram, kenapa aku bisa lupa dengan lelaki tampan sepertimu.??", ucap Geyna menyentuh dada Bram dengan tujuan memancing gairah Bram.


Bram pun tertawa terbahak bahak.


"Ya karna mungkin sekarang kita sudah mulai tua Geyna", ucap Bram.


"Tapi meskipun begitu, aku masih bergairah dan memuaskan seperti dulu Bram", ucap Geyna memeluk Bram dengan meletakkan kedua tangannya di bahu Bram.


"Oh ya, apa kamu bisa membuktikannya..??", pancing Bram.


Tanpa bicara Geyna menarik tangan Bram masuk ke dalam rumah.


Mereka sejenak menari dengan yang lainnya, menikmati malam dengan happy.

__ADS_1


Setelah malam semakin larut.


Geyna dan Bram menuju ke kamar Geyna.


Bram yang masih sempoyongan karna lagi lagi mengkonsumsi alkohol, berusaha mengamati kamar itu.


"Tempat ini, tak berubah sedikitpun, aku ingat dulu kau membuatku tak bisa lepas dari pelukanmu", ucap Bram menarik tubuh Geyna dan merebahkannya di ranjang.


"Malam ini pun sama Bram", ucap Geyna semakin bergairah dibuatnya.


Malam itu pun Geyna dan Bram kembali mengulang kenangan 22 tahun silam.


Hubungan yang terlarang itu kembali terjalin karna di picu masalah keluarga, masalah memilih calon istri untuk Malik.


Bram tidak mengetahui siapa itu Mawar sebenarnya.


Mungkin jika Bram tau yang sebenarnya reaksinya mungkin tidak seperti itu.


Bram melepaskan semua masalahnya di pelukan Geyna malam itu tanpa memikirkan apapun yang membuatnya stress akhir akhir ini.


___


Hari telah menjelang pagi, sinar matahari telah masuk ke sela sela jendela kamar Geyna.


Geyna tiba tiba terbangun, ia merasakan rasa sakit yang amat menyakitkan diperutnya.


Dengan masih terbalut selimut tanpa busana, ia mencoba berdiri dan mencari obat obatannya.


"Ketemu...!!", seru Geyna dengan suara lirih, takut Bram terbangun dan mengetahui kondisinya yang sudah sakit sakitan.


Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di samping Bram.


Saat itu Bram pun terbangun.


Ia memandangi Geyna yang sudah bangun disampingnya.


"Pagi...", ucap Geyna dengan memeluk Bram.


"Emmm, sudah pagi kah..??, Bram melihat ke arah jam tangannya.


"Kenapa..??, kau mau meninggalkanku dengan tergesa gesa seperti dulu ..??, dan tanpa kabar apapun selama 22 tahun", ucap Geyna.


Bram kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Enggak, aku masih ingin di sini, aku bosan di rumah", seru Bram.


"Kenapa memang..??, apakah kau punya istri Bram..??", ucap Geyna.


"Aku memiliki istri dan seorang putra, tapi mereka selalu membangkang padaku", ucap Bram mengingat kekesalannya pada istri dan anaknya.


"Yaa, memang sangat sakit ketika kita dikhianati oleh anak kita yang sudah kita besarkan susah payah", ucap Geyna melamun dan membayangkan perilaku Mawar padanya.

__ADS_1


"Kamu punya anak..??, kupikir gadis malam tak mau punya anak", ucap Bram heran.


"Anak...??, tidak, aku tidak pernah merasa punya anak", ucap Geyna masih menyimpan dendam pada Mawar meskipun yang ia tahu sekarang Mawar itu sudah tiada.


"Aku boleh kan disini sampai nanti siang..??" ucap Bram mencolek pipi Geyna.


"Boleh dong sayang, terserah kamu mau pulang kapan, okee, aku mau mandi dulu", ucap Geyna meninggalkan Bram.


___


Pagi itu Gea menghampiri para gadis di teras belakang.


Ia penasaran, Geyna tak terlihat sejak tadi malam.


"Hey, mami kemana..??, kok gak keliatan dari semalam", ucap Gea duduk di samping para Gadis.


"Emangnya mbak gak tau, mami tuh masih nemenin pelanggan mami dari semalam sampai sekarang", ucap Salah seorang gadis.


"Emang tamu di sini sampek jam segini ngapain..?", ketus Gea.


"Ya mana kita tau mbak, ihh mbak jeles ya..??", ucap salah seorang gadis lain.


"Ihhh...!! gak level kaleee", ucap Gea menyalakan rokoknya.


Semua pandangan seketika tertuju pada seorang lelaki yang turun dari lantai 2.


"Ituuu tu pelanggan mami", bisik seorang gadis pada Gea.


Gea memperhatikan dengan seksama.


Lalu menghampiri lelaki itu.


"Pagi om, om puas dengan pelayanan di sini..??", ucap Gea berusaha ramah pada Bram dan berharap Bram juga bergairah melihat ke sexy an Gea.


"Pagi", ucap Bram acuh.


Membuat para gadis yang melihat menahan tawanya.


"Emmm nama om siapa ya..??, kalau aku boleh tau", ucap Gea kembali memancing obrolan dengan Bram.


"Bram, panggil saja saya Bram", ucap Bram.


Gea tiba tiba seperti pernah mendengar nama itu.


Tapi kapan ya..??, gumam Gea dalam hati.


"Om pelanggan baru ya di sini, kok aku gak pernah liat om sebelumnya..??", ucap Gea masih penasaran.


"Saya baru 2 kali kesini, tapi untuk yang pertama 22 tahun silam, mungkin saat itu kamu masih baru disini", ucap Bram.


22 tahun yang lalu...??, gumam Gea masih bingung.

__ADS_1


"Oh ya, bilang sama mami, saya harus pulang, ada hal yang mendesak yang harus saya tangani, saya permisi dulu, bayarannya akan saya tranfer nanti", ucap Bram keluar rumah dan segera mengemudikan mobilnya sampai tak terlihat lagi dari pandangan Gea.


Aku yakin pernah denger nama dia, tapi kapan ya..??, gumam Gea dan berlalu pergi dengan menikmati sisa rokok ditangannya.


__ADS_2