Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Tempat persinggahan baru Tia,


__ADS_3

"Ayo kita pergi!," seru Aqly tanpa sedikitpun bersimpati pada wanita malang di hadapan nya.


Ia malah dengan acuh berjalan pergi meninggalkan Fatimah yang masih saja tertegun mendengar ucapan nya.


"Sejahat itukah hati mu dik?," seru Fatimah membuat langkah kaki Aqly terhenti.


Dengan mengepal kedua tangan nya, menunjukkan bahwa Aqly begitu tersinggung dengan ucapan Fatimah saat itu.


"Apa kau tak melihat penampilan nya?, hah!, sebodoh itukah kau!, kita tidak tahu siapa dia dan dari mana dia datang!, mungkin dia habis di perkosa, atau dia memang orang gila yang kurang kerjaan!," seru Aqly membuat wanita itu semakin menangis dan mencoba menepis semua opini Aqly tentang diri nya.


Namun karna begitu syok dan histeris nya, wanita itu seketika pingsan di pelukan Fatimah.


"Kau benar benar keterlaluan!, yang ku lihat adalah!, dia manusia seperti kita, terlepas dari apa pun pekerjaan dan status nya di masyarakat, kau paham dik!," keluh Fatimah lagi lagi membuat Aqly sulit untuk sekedar menang berdebat dengan kakak nya sendiri.


"Kau akan menyesal jika tak mengubah pola pikir mu di dunia yang keras ini kak," ucap Aqly masih tetap pada prinsip nya.


Bahwa seseorang yang bisa mengendalikan dunia ialah orang yang tak lemah hati nya.


"Menyesal ataupun tidak itu urusan ku, sekarang tolong aku membawa nya masuk ke dalam mobil," seru Fatimah kembali membuat Aqly tercengang.


"Kau terus saja memerintah ku!," sentak Aqly tak terima.


"Apa kau lupa siapa sekarang yang berkuasa, hem!," ucap Fatimah berusaha merubah pemikiran ke kanak kanakan Aqly selama ini.


Seruan Fatimah seketika membuat Aqly tak memiliki pilihan lain.


Dari pada hidup di dalam penjara, mau tak mau ia harus mengikuti aturan dari Fatimah.


Dengan ogah ogahan, Aqly membantu menopang tubuh wanita itu agar bisa masuk ke dalam mobil mereka.


Sekarang nikmatilah hidup dengan pola pikir mu itu dik, kita lihat seberapa dalam hati mu membeku, di sana pasti masih ada hati nurani mu yang suatu saat akan kau dengarkan juga, batin Fatimah sembari sebisa mungkin menutupi badan wanita itu dengan sebuah selimut, perlahan Fatimah mulai menyibak wajah wanita misterius di hadapan nya.


"Astagfirullah," ucap Fatimah saat menatap wajah penuh memar wanita di hadapan nya, yang tak lain ternyata ialah Tia.


"Siapa sebenar nya diri mu?, siapa yang melakukan ini pada mu?," ucap Fatimah ikut merasa prihatin akan kondisi yang tengah menimpa wanita misterius di hadapan nya.

__ADS_1


Sementara Bos besar yang sempat melihat keadaan wanita itu segera memalingkan muka nya ke arah lain.


Mungkin aku tahu orang yang melakukan itu Fatimah, mungkin saja, batin Bos besar sembari menatap keluar jendela di sepanjang jalan menuju kembali ke rumah mereka.


Ia begitu sadar, untuk bersuara pun ia tak bisa dan tak berdaya.


-------##---


"Dik, bisa bantu kakak menurunkan nya?," ucap Fatimah membuat Aqly langsung mendengus pelan.


"Jika aku menolak, pasti kau juga akan mulai menceramahi ku kan?," sahut Aqly sembari bersiap meraih tubuh Tia dan mencoba menggendong nya keluar dari mobil.


Belum sempat tangan nya memegang tubuh Tia, Tia tersadar dan langsung berteriak dengan kencang nya.


"Jangan sentuh aku!, lelaki kurang aj*r!," teriak Tia membuat Aqly tersentak ke belakang.


Ia begitu tak menyangka akan di bentak oleh orang asing seperti itu.


"Kau urus saja dia!, menyusahkan!, dasar wanita jala*g!," seru Aqly sembari berjalan pergi dari sana.


"Mbak, istigfar mbak!, mbak sudah aman di sini," seru Fatimah langsung membuat Tia berangsur angsur kembali tenang.


"Ada apa Fatimah?," tanya Mira segera bergegas keluar dari rumah besar saat mendengar teriakan histeris dari Tia.


Tampilan Mira kini terlihat jauh berbeda dari yang dulu.


Ia lebih terlihat seperti wanita muslimah dengan gamis panjang nya, walaupun tanpa kerudung yang menutupi kepala nya.


Mira langsung tersentak dan diam seribu bahasa saat melihat Tia yang kini sudah mulai tenang di sisi Fatimah.


Mira begitu terfokus pada baju yang tengah di kenakan Tia, meskipun penampilan nya sudah berusaha di tutupi oleh Fatimah dengan sehelai selimut.


"Mira, bisakah kau bantu aku sekarang?," ucap Fatimah dengan nada memohon.


Namun Mira masih terdiam di tempat nya berdiri.

__ADS_1


Ia masih tertegun akan wanita asing yang di bawa pulang oleh Fatimah malam itu.


Sementara dari arah dalam rumah, nampak beberapa anak berlari riang menuju ke arah mereka.


"Kakak!," seru mereka secara bersamaan, namun saat mereka melihat sosok Tia, seketika langkah mereka terhenti dan senyum mereka memudar saat itu juga.


"Fatimah?, siapa dia?," tanya Mira sembari menutupi pandangan anak anak dari sosok Tia yang berpakaian seksi.


"Sebaik nya kau bawa masuk mereka dulu, setelah itu kembalilah dan tolong bantu aku, kasihan gadis ini dan juga suami ku Ummar yang masih di dalam mobil, cepatlah!," seru Fatimah seketika membuat Mira langsung mengerti arti dari perintah Fatimah saat itu.


"Kenapa kami harus masuk kak?, dan siapa wanita yang bersama kakak itu?, dan di mana kak Ummar?, kami ingin sekali bercerita dengan nya malam ini," seru seorang anak dengan penuh semangat.


"Kak Ummar ada di dalam mobil sayang, sebaik nya kalian masuk dulu ke dalam, oke," seru Fatimah mencoba memberi pengertian pada mereka.


"Kalian dengar kan perintah kak Fatimah, ayo kita lekas ke dalam, dan baca surah hafalan kalian untuk hari ini, oke!," seru Mira sembari mengajak anak anak untuk masuk kembali ke dalam rumah.


"Di mana ini?, rintih Tia sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya.


Perlahan ia memandangi setiap sudut area luar rumah besar itu.


Nampak damai dan tenang saat mata memandang nya, terlebih saat anak anak berjilbab itu kian riang gembira memenuhi setiap sudut rumah itu.


Seketika hati Tia menjadi tenang, kegelisahan nya mulai memudar saat berada di sana.


Setidak nya ini bukan tempat seperti milik mbak Rea, batin Tia menghela nafas lega.


"Kita bicarakan itu nanti, tidak baik jika semua orang di sini melihat penampilan mu saat ini, apa kau kuat?, bisakah kau berjalan masuk ke dalam bersama ku?," ucap Fatimah dengan lembut nya.


Tanpa ragu, Tia langsung mengangguk setuju akan ajakan Fatimah.


Bersamaan dengan itu, Mira kini telah bergabung kembali dengan mereka.


"Sekarang aku harus apa Fatimah?," tanya Mira sembari tak bisa berhenti melirik pandang ke arah Tia.


"Kau panggil 2 penjaga untuk menolong mu membawa suami ku kembali ke dalam kamar nya, sedangkan aku akan menolong wanita ini terlebih dulu," ucap Fatimah sembari beranjak pergi memapah Tia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2