Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Ketika semua nya menjauh 1.


__ADS_3

"Kurang aj*r!, kenapa dia tak pernah marah!," keluh bos besar sembari terus memukul setir mobil nya.


"Dengan cara apa lagi aku bisa menghancurkan nya?," seru bos besar melajukan mobil nya meninggalkan halaman rumah.


Apa aku tawarkan dia pada tuan Danu saja?, batin Bos besar kembali berniat menjual Fatimah ke tangan lelaki hidung belang.


Seketika ia menatap ponsel yang tergeletak di samping nya.


Tanpa berfikir panjang, ia segera meraih nya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Siang tuan Danu, bagaimana kabar anda?," seru Bos besar berusaha mengendalikan amarah nya untuk sesaat saat sedang membicarakan masalah bisnis.


📱"Apa ada barang baru?," sahut Tuan Danu.


"Wah!, anda selalu bisa menebak," ucap Bos besar menatap tajam ke arah foto Fatimah yang berada di tangan nya.


📱" Kau tau kan, aku suka hal yang unik dan menantang, jadi lupakan jika itu tak kau tawarkan juga kali ini," sahut Tuan Danu.


"Kali ini begitu spesial Tuan, nanti akan saya kirimkan foto nya pada anda," seru Bos besar tersenyum dengan licik nya.


📱"Baiklah, akan aku tunggu," ucap Tuan Danu.


"Siap Tuan, dan semoga tuan suka," ucap Bos besar segera menutup panggilan telfon nya.


"Mampus kau wanita sialan!, kini kita akan lihat, bagaimana tuhan mu itu menolong mu kali ini," ucap Bos besar sudah cukup kehilangan fokus nya saat menyetir karna fikiran nya saat itu telah penuh dengan ambisi menghancurkan Fatimah.


Hingga sebuah klakson truk berbunyi begitu keras dan langsung mengejutkan nya.


Saat ia menatap ke depan, sebuah Truk sudah tak bisa lagi ia hindari.


Brukk....


-----------


"Astagfirullah," ucap Fatimah terkejut saat vas bunga di kamar nya terjatuh dan pecah.


Bersamaan dengan itu, Mira masuk ke dalam kamar Fatimah dan begitu terkejut saat melihat Fatimah telah memegang sebuah pecahan vas di tangan nya.


"Fatimah!," seru Mira mencoba merebut pecahan vas dari tangan Fatimah.


"Mira?," ucap Fatimah kebingungan.


"Jangan nekat Fatimah!, semua masih bisa di selesaikan baik baik!," seru Mira berfikir bahwa Fatimah ingin mencoba melukai diri nya lagi.


"Apa maksud mu Mira?, vas ini pecah dengan sendiri nya, aku hanya berusaha memunguti serpihan nya saja," seru Fatimah membuat hati Mira langsung lega.


"Alhamdulillah, maaf aku telah berprasangka buruk pada mu," ucap Mira membantu membereskan kekacauan itu.


"Tapi aku masih bingung, vas ini jatuh begitu saja, padahal semua jendela sudah tertutup rapat," ucap Fatimah.

__ADS_1


"Nenek ku dulu pernah bilang, jika sebuah benda jatuh, kemungkinan seseorang di samping kita sedang terkena musibah," ucap Mira sembari terus membereskan serpihan vas yang berserakan.


"Astagfirullah!, bunda!," seru Fatimah mulai gelisah, fikiran nya langsung teringat pada sang bunda.


"Tenang lah Fatimah, itu belum tentu benar bukan," ucap Mira mencoba menenangkan Fatimah.


"Tidak, aku harus memastikan nya!, tolong bantu aku menghubungi bunda ku Mira," seru Fatimah dengan nada memohon.


"Tapi..," ucap Mira merasa ketakutan hanya sebatas membayangkan nya saja.


"Tolonglah, aku mohon," seru Fatimah terus memohon.


"Ya sudah, berhubung Bos besar sedang keluar, aku bantu kamu menelfon bunda mu dari telfon rumah di ruang kerja Bos besar, oke!", seru Mira tak tega.


"Terima kasih, aku tak tahu jika tidak ada kamu di sini Mira," ucap Fatimah bergegas mengikuti Mira menuju ruang kerja Bos besar.


---------


"Ku sarankan jangan berucap apapun Fatimah, kita hanya memastikan kondisi bunda mu saja bukan untuk memberitahukan tempat ini pada bunda mu," ucap Mira menyodorkan sebuah telfon rumah pada Fatimah.


"Baik," ucap Fatimah singkat sembari menekan tombol angka yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.


Tut....Tut...


Panggilan pertama tidak ada jawaban dari siapapun juga.


Hal itu membuat Fatimah semakin gelisah.


"Cobalah lagi," ucap Mira sembari mengamati keadaan sekitar.


Fatimah kembali menekan tombol panggil untuk menepis rasa khawatir nya.


📱"Assalammualaikum," sahut sebuah suara membuat Fatimah langsung bahagia bercampur tangis.


📱"Hallo, siapa disana?," tanya Mawar mulai merasa bahwa itu adalah putri nya.


📱"Fatimah?, itu kamu sayang?," seru Mawar tersedu sedu.


Di saat itu juga, Aqly datang dan merampas telfon itu dari tangan Fatimah dan dengan cepat menutup panggilan telfon itu.


"Aqly?," ucap Mira ketakutan.


"Berani ya kamu kak, kamu sudah bosan hidup!," sentak Aqly membuat Fatimah semakin terisak isak.


"Maaf, aku hanya rindu mendengar suara bunda," ucap Fatimah menyeka air mata nya.


"Lancang!," sentak Aqly bersiap menampar Fatimah.


Namun suara telfon menghentikan niat nya.

__ADS_1


"Bunda," ucap lirih Fatimah sembari terus menatap telfon yang terus saja berdering.


"Bunda?, tidak mungkin, nomer telfon di sini di samarkan, dan sulit untuk di lacak, hanya Bos besar dan para partner nya yang tahu nomer telfon di rumah ini," seru Aqly sembari mengangkat panggilan telfon itu.


Tak berselang lama, raut wajah Aqly berubah menjadi pucat pasi.


"B-baik, saya akan segera ke sana," sahut Aqly segera menutup telfon nya.


"Kamu baik baik saja dik?," tanya Fatimah merasa heran dengan perubahan raut wajah Aqly.


"Diam!," sentak Aqly segera bergegas meninggalkan ruang kerja Bos besar.


"Ayo Fatimah," seru Mira segera bergegas mengejar Aqly.


"Kak Rea!, kak Lely!," teriak Aqly saat sampai di ruang tengah rumah itu.


"Berisik Aqly!, ampun deh!," keluh Rea berjalan ogah ogahan bersama yang lain.


"B-Bos!," seru Aqly terbata bata.


"Bos?, dia lagi cabut tuh!, entah kemana, aku masih sebel sama dia," ucap Rea berjalan kembali menuju kamar nya.


"Bos kecelakaan!," seru Aqly membuat semua orang tercengang terlebih Fatimah dan juga Mira.


"Kamu jangan ngaco ya!," seru Lely tak percaya.


"Tadi pihak rumah sakit hubungi rumah ini lewat ponsel Bos besar langsung," ucap Aqly gemetar ketakutan.


"Sekarang dia ada di mana Aqly?," tanya Fatimah yang paling gelisah dari pada yang lain nya.


"Di Rumah sakit Pratama," sahut Aqly mencoba mengatur nafas nya.


"Kita harus segera kesana!," seru Mira membuat Rea dan Lely merinding.


"Aku takut lihat darah," keluh Lely.


"Apalagi aku," sahut Rea.


"Terus!, aku sendirian gitu!," keluh Aqly terduduk di sofa.


"Boleh aku ikut kamu dik?," tanya Fatimah menawarkan diri.


"Aku juga," seru Mira.


"Sok cari muka," keluh Rea.


"Ya sudah!, dari pada aku yang urus semua sendiri," seru Aqly bergegas menuju mobil nya di ikuti oleh Fatimah dan juga Mira.


Innalillahi wainnalillahi rojiun, semoga engkau selalu memberi umur panjang pada suami ku ya Allah, batin Fatimah tak henti henti nya berdoa selama perjalanan nya menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Ingat ya kak!, jangan macam macam!, kita kesana hanya untuk memastikan kondisi Bos," seru Aqly memperingatkan.


"Tenanglah dik, jika aku berniat kabur, aku sudah kabur sejak lama," sahut Fatimah.


__ADS_2