Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Pulang ke tempat yang seharusnya.


__ADS_3

"Kebangetan deh si bos!, kemana aja sih mereka sampai sore gini belum pulang!," keluh Lely dengan ogah ogah han membereskan kamar nya.


"Apa jangan jangan mereka...?," seru Rea segera di lempar sebuah bantal oleh Lely.


"Gak mungkin!," sentak Lely menepis pemikiran mesum Rea.


Tak berselang lama, sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah, membuat kedua nya segera bergegas menuju teras.


Mereka segera memandang ke segala arah saat melihat Bos besar hanya sendirian keluar dari mobil.


Dengan sempoyongan, Bos besar berjalan ke arah Rea dan Lely yang masih clingukan mencari keberadaan Fatimah.


"Bos, Fatimah mana?," tanya Rea berusaha memapah Bos besar untuk berbaring di sofa.


"Siapa?, aku tak dengar?," seru Bos besar membuat Rea dan lely bingung.


"Fatimah Bos, dia kemana?," ucap Rea mengulang pertanyaan nya.


"Gadis sok alim itu!, persetan dengan nya!," seru Bos besar dengan kondisi mabuk berat.


"M- memang apa yang terjadi bos?," tanya Lely penasaran tapi juga takut keingintahuan nya membuat Bos besar marah.


"Apa yang terjadi katamu?, apa kamu pikir aku bersenang senang di kamar hotel seharian bersama nya?, apa kamu pikir aku mencumbu nya sampai lemas?, hah!," sentak Bos besar membuat Rea dan Lely ketakutan.


"M -maaf bos," ucap Rea mencoba menenangkan Bos besar.


"Dia ku tinggal di jalan!," seru Bos besar sembari mencoba menyalakan rokok nya dengan susah payah karna fokus nya yang kabur saat dalam kondisi mabuk.


Ucapan Bos besar membuat Rea dan Lely menjadi khawatir.


"Bos, kalau dia laporin ulah kita sekap dia selama ini gimana?, trus kalau rumah ini di sita polisi, kita mah kerja apa bos?, kita gak mau jadi pelac*r jalanan," keluh Lely panik.


"Iya bos, kalau aku jadi dia, aku bakal pulang ke rumah dan laporin semua kejadian ini pada polisi bos, mati deh kita bos," seru Rea histeris.


"Diam!, sudah cukup mengoceh nya!, terserah dia mau berbuat apa, aku gak peduli," sentak Bos besar melempar rokok nya hingga membakar sofa di depan nya.


Untung nya, dengan sigap Aqly datang dan memadamkan api rokok itu.


"Bos tak apa?," tanya Aqly menatap heran Bos besar yang nampak begitu kesal dan marah.


"Ini semua karna kamu!," sentak Bos besar semakin meletup letup.


"Aku?, memang aku salah apa bos?," tanya Aqly semakin penasaran.


"Kalau kamu bawa wanita waras ke sini, mungkin bisnis ku gak akan terancam bangkrut seperti ini!," sentak Bos besar berusaha berdiri dan mendekati Aqly.


"Fatimah mau laporin kita ke polisi, lebih baik kita segera pergi dari sini," ucap Lely menatap Aqly dengan tak suka.

__ADS_1


"Polisi?, kenapa bisa?," tanya Aqly begitu bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Sudah diam!, sebaik nya kamu beritahu yang lain untuk bergegas, jika kamu masih mau ikut dengan ku," seru Bos besar berjalan dengan sempoyongan menuju kamar nya.


Tiba tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


"Assalammualaikum," ucap sebuah suara terdengar memasuki rumah.


Sontak langkah kaki mereka seketika terhenti.


Saat mereka berbalik badan, begitu terkejut nya mereka saat melihat Fatimah lah yang datang saat itu.


Dengan badan menggigil dan basah kuyup, Fatimah berusaha memasuki rumah itu kembali.


Rumah yang merupakan sumber mimpi buruk bagi nya.


Perlahan, Fatimah berjalan mendekati Bos besar yang masih menatap tak percaya ke arah nya.


"Aku menunggu mu di sana, tapi kamu tak segera menjemput ku, sementara aku tak memiliki uang sepeser pun untuk pulang, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki, maaf jika aku pulang terlambat," ucap Fatimah dengan badan yang tak berhenti menggigil.


"Kamu?," ucap Bos besar seakan masih menganggap nya sebuah ilusi.


Sementara yang lain masih terdiam mematung di tempat nya berdiri tanpa berkedip sedikit pun.


"M- maaf karna aku lambat, aku belum bisa menyajikan makan malam untuk mu tepat waktu," ucap Fatimah semakin membuat dada Bos besar semakin sesak.


Perasaan nya begitu ber kecambuk saat itu, dan semakin tak karuan saat melihat tubuh Fatimah yang entah sudah berapa lama terguyur hujan di luar sana.


"Bos pikir aku pulang ke rumah orang tua ku?," sahut Fatimah.


"Syukurlah kalau kamu gak pulang ke sana dan laporin aku ke polisi!," ketus Aqly.


"Mana mungkin, aku kini istri Bos, dan aku harus pulang ke mana suami ku berada, karna saat aku telah memutuskan untuk menikah, aku adalah tanggung jawab nya," ucap Fatimah menatap Bos besar dengan tatapan sayu.


"Hentikan ocehan mu!," seru Bos besar memalingkan muka dari sang istri.


"Muak lama lama aku di sini!, dasar wanita gak waras!," ketus Lely berjalan pergi di ikuti Rea dan Aqly.


Brukkk...


Sebuah suara seketika membuat tubuh Bos besar kembali menghadap ke arah belakang.


Ia begitu terkejut saat melihat Fatimah sudah tersungkur tak sadarkan diri di lantai.


"Kenapa bos!," seru para body guard berlari menghampiri bos mereka.


Namun tanpa menjawab, Bos besar dengan sigap segera menggendong tubuh Fatimah hingga membuat para body guard terkejut.

__ADS_1


"B- bos, biar kami saja," ucap seorang body guard.


Tapi lagi lagi tak di hiraukan oleh Bos besar.


Entah kenapa saat itu fokus Bos besar hanya tertuju pada Fatimah.


"Bos kenapa?," ucap seorang body guard heran saat Bos besar bergegas masuk membopong Fatimah ke dalam kamar.


-----


"Mira!," teriak Bos besar hingga membuat bukan hanya Mira yang datang, melainkan semua wanita di dalam rumah bordil datang secara bersamaan.


"I- iya bos," ucap Mira bergegas mendekati Bos besar.


"Cepat kamu rawat dia!, tangan nya begitu terasa panas," seru Bos besar dengan raut wajah khawatir.


"Fatimah demam tinggi bos," seru Mira sesaat setelah ia memeriksa kondisi Fatimah.


"Lalu?, aku akan telfon dokter," sahut Bos besar nampak khawatir.


Membuat semua wanita begitu terkejut melihat tingkah Bos mereka yang berbeda dari biasa nya.


Lelaki yang tak pernah terlihat khawatir, serius, dan bahkan hampir tak pernah turun tangan akan masalah kesehatan para wanita nya.


"Biar aku kompres dan mengganti baju nya dulu bos, kasihan," ucap Mira sembari berjalan keluar kamar.


"Mau kemana kamu?," tanya Bos besar.


"Ambil air hangat sama kain bos," sahut Mira.


"Biar aku yang ambilkan, kamu jaga dia," seru Bos besar membuat semua wanita kembali tak percaya.


"B- baik," sahut Mira heran.


"Itu bos kita kan?," ucap lirih Lely.


"Udah diem!," sahut Rea pelan.


Tak berselang lama, Bos besar kembali membawa kain dan air hangat permintaan Mira.


Saat Bos besar melihat banyak tatapan mata mengarah pada nya ia lalu sadar dengan tingkah nya sendiri, dan mencoba bersikap kembali normal.


"Rea, jangan berdiri terus!, ambil ini dan berikan ke Mira," seru Bos besar kembali menunjukkan sikap seperti biasa nya.


"I- iya bos," sahut Rea tanpa melawan.


Mira segera mengompres Fatimah, sementara yang lain pergi kembali ke kamar nya masing masing.

__ADS_1


Sempat Mira melihat, Bos besar menatap cukup lama ke arah Fatimah sebelum ia benar benar pergi ke kamar nya sendiri.


"Untuk pertama kali nya Fatimah, aku melihat ketulusan di hati Bos besar, dan hati ku pun berkata, suatu saat kalian akan bersatu dengan cara yang tak terduga," ucap Mira sembari terus merawat Fatimah hingga dokter datang memeriksa nya.


__ADS_2