Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Apakah aku benar anak kandungnya buk..??


__ADS_3

Geyna keluar dari kamarnya dengan badan yang terlihat segar sehabis mandi.


Rambutnya yang basah terurai panjang di punggungnya.


Wajahnya terlihat cantik dengan polesan make up tipisnya kala itu.


Ia berjalan menuruni tangga.


Pandangannya seperti sedang mencari seseorang.


Geyna mendekati Gea yang sedang bersantai dengan majalahnya.


"Gea, kamu liat Bram..??", ucap Geyna sambil duduk di samping Gea.


"Pelanggan mami yang keluar kamar barusan..??", ucap Gea sambil tetap membaca majalahnya.


"Iya, dia kemana..??", ucap Geyna melihat kesekeliling lagi, siapa tau dia sedang asyik bersama salah satu gadis asuhan Geyna.


"Dia baru aja cabut mi", ucap Gea tak berpaling dari majalahnya.


Geyna sepertinya agak kecewa, karna Bram sesaat lalu meminta izin Geyna untuk lebih lama di sana.


Geyna pun meraih camilan yang ada di meja dan menyalakan televisi didepannya.


Gea pun memandang raut wajah Geyna yang sepertinya tak rela Bram pulang tanpa mengabarinya.


Ia menutup majalah dan ingin mengorek informasi tentang Bram dari Geyna.


Gea yakin pernah mendengar nama Bram.


"Mi, Bram itu siapa sih..??, kayaknya aku pernah denger deh nama itu", ucap Gea.


"Bram...??, masak kamu lupa..??", ucap Geyna


"Aku gak inget apapun mi", ucap Gea semakin penasaran.


"Bener juga, waktu itu kamu masih berumur belasan tahun, dan hanya sekali aku beritahu nama itu padamu", ucap Geyna asyik dengan camilan ditangannya.


"Ia, dia bilang ia masih 2x kesini, dan kunjungan pertamanya pun 22 tahun silam", ucap Gea mengingat ngingat.


"Yap, bener banget, bisa dibilang dia itu ayahnya anak sialan itu", ucap Geyna langsung pada intinya.


Gea pun terkejut.


Berarti Bram itu lelaki yang 22 tahun silam, yang mami bilang telah mengambil benihnya, gumam Gea dalam hati.


"Jadi Mawar anaknya Bram...!!", seru Gea mengagetkan Geyna.


"Biasa aja kali Gea..!!, lagian gak ada artinya lagi kalau pun Bram tau, Mawar kan dah mati", ucap Geyna tersenyum dengan terus mengunyah camilannya.


Gea pun teringat pertemuannya dengan Mawar 2 tahun lalu.


Ia tak sempat mengatakannya pada Geyna, pikirannya terfokuskan pada rencananya menghancurkan Geyna, sampai Gea lupa tentang Mawar.


"Mi, Mawar masih hidup", ucap Gea agak sedikit takut akan reaksi Geyna.


Geyna pun menatap tajam Gea dan menunjuknya.


"Kamu kalau bercanda jangan keterlaluan..!!", seru Geyna marah.


"Be..be..bener mi", ucap Gea dengan terbatah batah ketakutan.


Geyna pun berpaling dari wajah Gea, ia meremas sisi sofa dengan kencangnya.


Seperti ada sesuatu yang akan meledak darinya.


Geyna pun mencoba menenangkan dirinya, menarik nafasnya.


"Kamu tau Mawar masih hidup kapan..??, dan kamu ketemu di mana..??", ucap Geyna memandang Gea lagi.


"2 tahun lalu, saat aku mendapat job di luar, yang saat aku pulang mami pingsan dan harus operasi ginjal", ucap Gea menjelaskan.

__ADS_1


Geyna kembali terlihat marah.


Ia menarik rambut Gea dan berteriak pada Gea, membuat para gadis berdiri dari serambi belakang dan menonton kemarahan Geyna.


"2 tahun kamu baru bilang sekarang..!!!", teriak Geyna.


"Aduh sakit mi..!!, maaf aku lupa", ucap Gea merintih kesakitan sambil berusaha melepaskan tangan Geyna dari rambutnya.


Geyna pun melepas rambut Gea dan berdiri dengan berkacak pinggang.


"Kau lupa atau amnesia..!!, ya sudah kamu antar aku ketempat Mawar sekarang..!!", ucap Geyna berjalan menuju mobilnya di halaman depan.


Gea merapikan rambutnya dan menggerutu.


Ia makin benci dengan Geyna.


"Semoga saja rencanaku berhasil, aku sudah muak dengannya", gerutu Gea sambil berjalan menuju halaman depan.


____


Mobil Geyna berhenti di tepi jalan raya di dekat sebuah pesantren.


"Itu mi, tempat tinggal Mawar selama ini", ucap Gea menunjuk ke arah pesantren Ummar.


"Gadis sia*an..!!", ucap Geyna melajukan mobilnya lagi ke arah gerbang pesantren.


Mobil kembali berhenti di depan gerbang pesantren, mereka pun turun mendekati penjaga gerbang.


Penjaga gerbang merasa aneh melihat Geyna dan Gea.


Pakaian mereka tak pantas jika ingin berkunjung ke area pesantren.


"Maaf buk, kalian tidak boleh masuk ke pesantren", ucap Penjaga gerbang menghentikan langkah mereka.


Geyna berkacak pinggang dan mendekati penjaga gerbang yang seolah olah berusaha tak melihat aurat yang ditunjukkan Geyna dan Gea dengan pakaian sexy nya.


"Kamu siapa ngatur ngatur kami...!!", seru Geyna.


"Kurang a*ar...!!, kau menantangku ya...!!, Mawar...!!!!, Mawar....!!, keluar kamu..!!, enak sekali kau bersembunyi di dalam seperti orang alim saja..!!", teriak Geyna menggemparkan seisi pesantren.


Sementara Mawar dan mbak Lastri sedang sibuk di dapur.


Mereka sibuk menyiapkan makan siang.


Tiba tiba seorang santriwati berlari lari tak karuan menghampiri Mawar.


Mawar yang melihatnya sangat terkejut dan mendekatinya.


"Kamu kenapa Sila..??", ucap Mawar mencoba menenangkan Sila yang masih ngos ngosan.


Sila menunjuk nunjuk ke arah depan pesantren, untuk bicara ia masih terlihat ngos ngosan.


Mbak Lastri pun menghampirinya dan memberinya segelas air.


"Minum dulu Sila, tarik nafas, tenang", ucap mbak Lastri.


Sila pun menuruti perkataan mbak Lastri.


setelah nafasnya teratur, Sila pun memberi kabar pada Mawar.


"Mbak, ada 2 orang wanita berteriak teriak di depan gerbang pesantren, mereka memanggil manggil nama mbak Mawar, dan salah satu wanita itu juga sempat menyebut Mbak sebagai anaknya", ucap Sila menjelaskan apa yang ia ketahui.


Mawar pun berdiri mematung.


Mbak Lastri terlihat terkejut dan memandang ke arah Mawar.


"Mami mu Mawar, ya Allah, mau apa lagi dia..??", ucap mbak Lastri khawatir.


Mawar mengelap air matanya yang menetes.


Dan menggandeng tangan ibunya.

__ADS_1


"Ayo buk, kita temui dia, kita tanya mau apa lagi dia kesini", ucap Mawar dengan berusaha tetap tegar.


"Tapi Mawar, pak kyai hari ini tak ada di pesantren", ucap mbak Lastri menahan Mawar.


"Kita tidak akan selamanya mengandalkan bantuan pak kyai buk, tenang saja kita masih ada Allah", ucap Mawar berjalan menemui maminya diikuti mbak Lastri.


___


Para penghuni pesantren pun sudah bergerumbul di depan pesantren.


Mereka menyaksikan Geyna yang terus saja berteriak teriak memanggil Mawar.


Salah seorang pengurus pesantren sudah mencoba menghubungi pak kyai saat itu, tapi butuh waktu untuk pak kyai sampai di pesantren.


"Keluar kau anak breng*ek..!!", seru Geyna.


Teriakannya pun berhenti saat melihat Mawar dan mbak Lastri mendekati gerbang.


Mereka saling pandang cukup lama.


Geyna melihat Mawar yang sudah sangat tumbuh dewasa dan mbak Lastri yang sudah tua.


"Wahhh, anakku..!!, kau cantik sekali, sayang sekali kau tidak berguna bagi mami", ucap Geyna memasukkan tangannya ke sela gerbang dan mengelus wajah cantik Mawar.


Mawar pun mundur dan menjauh dari uluran tangan maminya, Mawar terlihat menahan tangisnya.


"Ada perlu apa mami mencari Mawar..??", ucap Mawar berusaha tegar.


Para penghuni santri yang lain terkejut mengetahui bahwa Mawar mengakui bahwa memang wanita itu ialah ibu kandungnya.


"Mami cuma ingin tahu keadaan kamu Mawar, sayang sekali preman mami salah membunuh wanita di pesantren ini beberapa tahun lalu, harusnya kamu yang mati...!!", seru Geyna dengan santainya.


Para penghuni pesantren pun lebih terkejut lagi.


Mereka terlihat memandang Mawar dengan sinisnya dan mulai berbisik bisik antara satu sama lain.


Mawar yang melihat itu semua mulai menangis tanpa suara, mencoba lebih kuat lagi.


Sedangkan mbak Lastri tak henti hentinya menangis sedari tadi.


"Sudah mi, cukup", seru mbak Lastri memohon.


"Diam..!!, nenek tua tak berguna..!!, ini juga karna didikanmu, jika dulu aku tak memilihmu menjadi pengasuh Mawar, mungkin dia akan menjadi kebanggaanku sekarang..!!", teriak Geyna sekencang kencangnya.


"Astagfirullah, cukup mi, aku malah beruntung di besarkan oleh ibukku ini, jadi mami bisa pergi dari sini sekarang", ucap Mawar mengusir Geyna.


Geyna melihat kesekitar, para penghuni pesantren sudah terhasut dengan ucapannya, apalagi ia mengungkit kematian gadis beberapa tahun silam adalah akhibat dari rencananya untuk Mawar.


Ia yang mengetahui rencananya menghancurkan nama baik Mawar di pesantren sudah terwujud, ia pun mau pergi dari sana tanpa di suruh.


Rasakan kau, tempat mana lagi kau bisa aman, gumam Geyna dalam hati.


"Okeee, mami akan pergi, tapi jika kamu tak ada tempat singgah lagi, mami masih mau kok nrima kamu di rumah bordil mami yang megah itu, kamu akan mami jadikan primadona seperti janji mami", ucap Geyna berlalu pergi.


Mawar pun menjatuhkan dirinya ke tanah, ia duduk di atas tanah seakan kakinya sudah tak ada tenaga untuk menopang tubuhnya.


Tangisan Mawar pun pecah.


Mbak Lastri panik dan mencoba menenangkan Mawar.


"Ya Allah nak, tolongggg..!!", seru mbak Lastri meminta bantuan pada yang lain.


Tapi mereka seakan acuh dengan kondisi Mawar kali ini.


Tatapan mereka bahkan penuh amarah pada Mawar.


Mbak Lastri pun memeluk Mawar yang semakin menangis histeris.


"Apa aku benar benar anak kandung mami buk..??, kenapa ia sangat tega padaku", seru Mawar dengan terisak isak.


"Istigfar nak, istigfar", ucap mbak Lastri menenangkan Mawar.

__ADS_1


Ya Allah, tolong kami, gumam mbak Lastri dalam hati.


__ADS_2