
Dengan tangan yang gemetar ketakutan.
Rea mencoba mengendap endap kembali memasuki rumah besar bersama sang sopir pribadi tuan Danu.
"M- mbak, saya takut," ucap sang sopir sembari terus menenteng dua jerigen pemberian tuan Danu.
"Berisik!, kau kira aku tidak!" sentak Rea sembari memikirkan perintah tuan Danu sekali lagi.
Apa aku harus melakukan ini?, batin Rea sembari mengusap peluh di kening nya.
"Tapi ini kriminal mbk," seru sang sopir semakin ketakutan saat mereka telah sampai tepat di halaman samping rumah besar.
"Aku gak mau kehilangan kesempatan ini," ucap lirih Rea seolah olah memiliki rencana nya sendiri.
"Mbak ngomong apa barusan?," tanya sang sopir begitu kebingungan di buat nya.
"Tutup mulut mu itu dan ikuti semua perintah tuan mu!," seru Rea sembari membuka tutup jerigen yang sejak tadi sudah ada di tangan sang sopir.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan ku setelah ini?, batin Rea kembali ragu dengan niat nya sembari menutup kembali tutup jerigen yang ternyata berisikan penuh bensin.
"Lebih baik kita pergi mbk," ucap sang sopir semakin takut saat mengetahui cairan apa yang tengah ia bawa sedari tadi.
"Gak!, aku bisa pikirkan itu lagi nanti," ucap Rea dengan yakin nya kembali membuka tutup jerigen sekaligus langsung menuangkan nya ke area sekeliling rumah besar tanpa keraguan sedikitpun.
Sedangkan sang sopir pribadi tuan Danu hanya bisa mematung melihat Rea melakukan aksi nya.
"Sopir bodoh!, kenapa tuan Danu bisa dapat sopir lembek seperti mu!, karna lemah nya diri mu sampai sampai aku malas hanya untuk sekedar tahu nama mu ," ketus Rea sembari merogoh korek api di saku baju sang sopir
Kenapa aku bisa terjebak di antara orang orang ini?, batin sang sopir bahkan tak bisa lari dari sana walaupun ia begitu menginginkan nya.
"A- ayo mbak!, para warga aka segera datang," seru sang sopir menarik tangan Rea dengan keras nya untuk menjauh dari rumah besar yang kini mulai terbakar.
"Aku bisa jalan sendiri, sopir tol*l!," seru Rea sembari berjalan dengan sebuah senyum yang begitu mengambang di bibir nya.
---------
__ADS_1
"Panas kalian udah turun, sekarang istirahat lah" ucap Fatimah sembari terus mengompres ketiga anak didik nya yang tengah sakit demam.
Astaga!, asap dari mana itu!, Fatimah!, tengoklah kebelakang, batin Bos besar sekuat tenaga mencoba menggerakkan tubuh nya untuk memberitahu Fatimah akan ada bahaya di samping mereka.
Klek..
Klekk..
"Mas?, kau tak apa?," tanya Fatimah saat mendengar suara gaduh dari kursi roda yang kini di di duduki oleh Bos besar.
Namun seperti nya, Fatimah masih belum mengetahui bahaya apa yang sedang mendekati mereka.
Sampai akhir nya pintu kamar mereka retak dan ambruk karna semburan panas dari luar kamar.
Membuat Fatimah dan yang lain nya begitu syok dengan apa yang kini ada di depan mata mereka.
"Innallillahi, ya Allah mas!, kebakaran!," seru Fatimah segera bergegas menolong anak anak serta Bos besar dari kobaran api tanpa memikirkan keselamatan nya sendiri.
__ADS_1
"Kak, aku takut," tangis ketiga anak asuh Fatimah semakin membuat situasi semakin sulit bagi Fatimah saat itu.
Kini ada 5 nyawa sekaligus yang harus ia lindungi.