Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Surat perceraian


__ADS_3

Sudah 3 bulan lamanya Mawar merawat Bram, dan juga sudah 3 bulan Rahel telah meninggalkan rumah dokter Malik.


"Astagfirullah..!!", seru Mawar akan jatuh ketika selesai menyuapi Bram.


"Hati hati Mawar..!!", seru dokter Malik memegangi tangan Mawar yang akan terjatuh.


Seketika dokter Malik tersadar jika ia telah lancang memegang Mawar.


"Maaf aku lancang", ucap dokter Malik langsung melepas pegangannya.


"Tak apa dokter, kita kan saudara", ucap Mawar yang seolah olah ucapannya malah membuat dokter Malik gugup.


"Kenapa..??", ucap Mawar bingung dengan sikap dokter Malik.


"Saya permisi dulu", ucap dokter Malik keluar dari kamar Bram.


Sesaat kemudian.


Rahel datang dengan raut wajah kesal, ia menggebrak pintu rumah dan berteriak teriak.


"Malik...!!", teriak Rahel masuk ke rumah kediaman Bram.


Semua yang ada bergegas menemui Rahel.


Tak terkecuali Burhan yang menggandeng Fatimah dari arah taman belakang.


"Ngapain kamu ribut ribut di sini..!!", seru bu Maryam kesal melihat tingkah Rahel yang selalu brutal.


"Mana Malik...??, Malik...!!, keluar kamu..!!, apa maksud ini semua..!!", teriak Rahel sambil melempar lembaran dokumen ke lantai.


"Astagfirullah..!!", ucap Mawar sembari mengambil dokumen itu dan membacanya bersama bu Maryam.


Membuat mereka terkejut dan saling berpandangan.

__ADS_1


"Ngapain kamu ke sini..??", seru dokter Malik seperti menahan emosinya.


"Ini dia...!!, dokter Malik yang terhormat...!!, apa maksud surat yang kamu kirim kepadaku..??", seru Rahel menunjuk nunjuk muka dokter Malik.


"Kamu bisa baca kan..??", ucap dokter Malik bernada menghina.


"Cuhhhh...!!, enak banget kamu ya..!!, seenaknya gugat aku secara sepihak...!!", seru Rahel berkacak pinggang.


"Lalu..??, aku memang tidak butuh izinmu untuk itu bukan..??", seru dokter Malik membuat wajah Rahel merah padam.


"Itu cuma akal akalan kamu aja kan..!!, biar kamu bisa kembali sama Mawar..!!", seru Rahel membuat semuanya tercengang, terlebih lagi Mawar dan Burhan.


"Apa maksudmu..??", seru Mawar mendekati Rahel.


"Cukup hel..!!, hentikan omong kosongmu..!!", seru dokter Malik menarik tangan Rahel dan mencoba mengusirnya.


"Tunggu dokter..!!", seru Mawar menghadang jalan mereka.


"Hel..!!, kamu kan tau kalau aku bersaudara dengan dokter Malik, lalu apa maksud ucapan kamu..??", tanya Mawar penasaran.


"Sebenarnya ibu ingin memberitahumu sejak kemarin Mawar", ucap bu Maryam merasa bersalah karna menyembunyikan fakta penting itu.


"Apa itu buk..??", seru Burhan semakin penasaran.


"Sebenarnya Malik itu bukan anak Bram...!!, jadi otomatis kalian itu bukan saudara seayah", seru Rahel di telinga Mawar.


Seketika Mawar terdiam, Burhan pun seakan mengerti arti ucapan Rahel dulu yang mengatakan ia akan kehilangan semuanya saat identitas Mawar terbongkar.


Mawar mengingat kejadian saat dokter Malik merasa gugup memegang tangan Mawar pagi itu.


Mawar menatap dokter Malik yang tak bisa menjelaskan apapun padanya.


Burhan pun terlihat pasrah mengetahui fakta itu.

__ADS_1


Yang terpenting baginya ialah kebahagiaan Mawar, keputusannya akan selalu ia hargai.


"Maafkan aku", ucap dokter Malik merasa bersalah.


Mawar mengusap air matanya yang menetes, ia tarik nafas dalam dalam dan menguatkan dirinya.


Ia berjalan ke arah suaminya, menggandeng tangan yang sudah bersamanya selama ini dalam suka dan duka.


"Aku memang syok mendengar itu semua, aku sudah beranggapan bahwa aku masih mempunyai saudara sedarah beberapa bulan ini, nyatanya masih banyak kenyataan yang belum aku tau kebenarannya, tapi Rahel...!!, fakta itu tak akan merubah apapun, imamku hanyalah mas Burhan, dan Mawar adalah makmumnya, hanya maut yang akan memisahkan kita nantinya", ucap Mawar membuat Rahel merasa direndahkan.


"Kamu mau mengolok ngolokku..!!", seru Rahel tak terima.


"Terserah kamu mau bilang apa, aku hanya berbicara apa yang ingin aku utarakan, agar tidak ada lagi salah paham di sini", ucap Mawar menggandeng tangan Burhan yang mengusap air matanya karna merasa terharu memiliki seorang istri yang begitu setia dengannya.


Begitu beruntungnya Burhan memilikimu, gumam dokter Malik dalam hati memalingkan pandangannya dari semua orang, menutupi dirinya yang saat itu sedang meneteskan air mata.


Rahel pun memalingkan wajahnya ke arah dokter Malik.


"Ingat ya Malik..!!, aku tak akan menyetujui perceraian ini..!!, terserah kamu mau lakukan apa..!!, jika aku harus menderita, kamu juga harus menderita dengan tak lepas dari ikatan ini", seru Rahel bergegas keluar dari rumah itu.


Semua pun terdiam dan merenungi apa yang barusan telah terjadi di rumah itu.


Bu Maryam mendekati Malik dan memeluknya, seakan ia tau hancurnya Malik saat itu.


Sementara itu, Mawar tiba tiba merasakan pusing yang amat hebat di kepalanya.


Brukkk...


"Astagfirullah Mawar..!!", seru Burhan langsung menopang tubuh Mawar agar tak sampai mengenai lantai.


"Ya Allah nak..!!", seru Bu Maryam mencoba menepuk nepuk pipi Mawar.


"Kita bawa dia ke kamar, aku akan memeriksanya", seru dokter Malik.

__ADS_1


Ketika ia ingin menggendong tubuh Mawar, dengan cekatan Burhan lebih dulu menggendong Mawar dan membawanya ke kamar dengan segera.


Bu Maryam hanya bisa mengelus pundak anaknya agar tak larut dalam masalah yang sama.


__ADS_2