
"Assalammualaikum Warohmatullah", ucap dokter Malik mengakhiri shalat subuhnya.
Ia menengadahkan tangan memanjatkan doa pada yang maha kuasa.
Dan memohon ampun atas kekhilafannya serta niat yang dirasa tak pantas pada istrinya.
Sejatinya aku memang telah menikahinya ya Allah, tapi mohon ampun hamba belum bisa menjadi imam untuknya, izinkan hamba memberinya pelajaran hidup terlebih dulu padanya dan mengakhiri dendam dalam hatiku ini, jika memang ia bisa menjadi orang yang lebih baik dan ia memang jodoh darimu aku akan ikhlas menerimanya kelak, tetapi jika ia tak bisa dididik maafkan aku jika aku menolaknya dan mengakhiri pernikahan ini kelak, Amin....., ucap dokter Malik dalam hati mengakhiri doanya.
Pandangannya lalu tertuju pada Rahel yang masih tertidur di sofa.
"Aku memang membencimu, tapi aku juga masih punya hati nurani, semoga aku tak sampai mengangkat tanganku padamu", ucap dokter Malik melipat sajadahnya dan bersiap siap menata dokumen yang akan ia bawa ke kantor.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, dokter Malik sudah siap dan rapi dengan jas nya.
Ia berkaca di cermin membenarkan letak dasinya.
Saat ia ingin mengambil tas kerjanya di atas ranjang, pandangannya melirik ke arah Rahel.
Dokter Malik masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil segayung air dan menyiramkannya pada wajah Rahel.
Seketika Rahel terperanjak dan berteriak teriak penuh amarah.
Ia langsung memandang ke arah dokter Malik yang masih memegang gayungnya.
"Malik....!!!", seru Rahel tak terima dengan perlakuan suaminya.
"Kamu gak liat ini jam berapa..??, satu jam lagi aku harus berangkat ke kantor, gih siapin aku sarapan..!!", ucap dokter Malik dengan santainya.
"Memang aku pembantumu apa..!!, masak sih keluarga Jayawijaya corp gak punya pembantu", seru Rahel berkacak pinggang.
"Ada sih, cuma mereka tugasnya hanya bersih bersih, dan urusan dapur mami ku yang urus setiap harinya, nah...., berhubung aku sudah ada kamu nih, kamu masak gih", ucap dokter Malik.
"Enak aja..., tuhh .!!, mami kamu aja yang masak", ucap Rahel membersihkan muka dan rambutnya yang basah.
"Kamu itu udah nikah lhooo, kamu milih melajang atau berumah tangga sih..??", ucap dokter Malik makin menantang Rahel.
Rahel segera akan menjawab pertanyaan dokter Malik, tapi seketika dokter Malik menyelanya.
"Udah udah...!!, cepetan ke bawah, masak tuh didapur, aku tunggu", ucap dokter Malik keluar dari kamar meninggalkan Rahel yang mukanya merah padam karna memendam emosi.
Rahel kesal tetapi tetap menuruti perintah suaminya.
Ia tak mau kehilangan status dan kedudukan yang baru ia dapatkan dengan susah payah ini.
__ADS_1
"Tenang Rahel, kalau urusan dengan Malik dah selesai, kamu bisa berangkat shopping sepuasnya nanti", ucap Rahel menuruni tangga.
Ia menuju ke arah dapur mendekati bu Maryam yang sedang memasak.
"Aku bantu apa mi..??", ucap Rahel dengan ogah ogahan.
"Emang kamu bisa...??", ucap bu Maryam mengeryitkan keningnya.
Ia memang tak suka dengan Rahel, terlebih dengan gaya berpakaian dan sifatnya, tetapi kini dia adalah menantunya, istri dari anaknya, mau tak mau dia harus memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
"Ya ajarin dong..!!", seru Rahel memegang dan menatap aneh pada sayur dan bumbu bumbu yang ada di hadapannya.
"Ya udah kamu potong aja sayurnya tuh, kita buat nasi goreng kesukaan suamimu", ucap bu Maryam tetap sibuk dengan pisau dapurnya.
Rahel pun mencoba mengambil beberapa sayuran dan memotongnya.
Ia terus saja membolak balik sayuran yang ada didepannya.
Ini gimana sih..!!, gumam Rahel dalam hati.
Rahel pun memotong asal sayuran itu dan menyerahkannya pada bu Maryam.
"Nih mi", ucap Rahel menyodorkan sayuran yang telah ia potong.
"Hel...., mami tanya sama kamu..??", ucap Bu Maryam memandang Rahel.
"Apa..??", ucap Rahel santai.
"Misal kamu yang makan sayuran ini gimana reaksi kamu..??", ucap Bu Maryam menunjukkan hasil potongan Rahel.
"Ya susah lah mi, itu kebesaran untuk sekali suap", ucap Rahel seketika langsung memandang ke arah sayuran yang telah ia potong dan baru mengerti arti ucapan bu Maryam.
"Lalu..??", ucap Bu Maryam.
"Ya......, udah ahh, masak aja gih mi..!!", ucap Rahel menyembunyikan malunya.
Setelah masakan Matang, bu Maryam menghidangkannya di meja makan.
Mereka bertiga pun sarapan bersama.
"Papi kemana ...??", ucap Rahel.
"Papi dah berangkat ke kantor", ucap Bu Maryam mengambilkan nasi goreng buatan Rahel untuk Malik.
__ADS_1
"Siapa yang masak mi..??", tanya dokter Malik melirik Rahel.
"Istrimu", ucap Bu Maryam duduk dan bersiap untuk sarapan diikuti oleh Rahel.
"Nah gitu, jangan minta enaknya doang", ucap dokter Malik membuat Rahel menatap tajam ke arah Dokter Malik.
Mereka pun mencoba nasi goreng buatan Rahel.
Bu Maryam dan Dokter Malik terdiam dan saling pandang.
Saat Rahel mencoba masakannya, ia langsung terdiam dan meludahkannya.
"Emmmm, kok gini sih...!!", ucap Rahel langsung meminum air putih 1 gelas penuh.
"Gimana...??, enak...??", ucap dokter Malik.
"Asin...!!", ucap Rahel dengan cemberut.
"Mangkanya belajar yang bener..!!, udah nikah harus bisa masak, gak enak kan dikasih makanan kayak gitu..??", seru dokter Malik.
"Udah", ucap lirih bu Maryam pada Malik.
"Biarin buk, biar dia rasain, siapa suruh mau berumah tangga, masak aja gak becus", ucap Dokter Malik meninggalkan meja makan.
"Emang gak bisa halus ya anak mami itu...!!, ajarin sopan santun dong mi...!!!", seru Rahel berjalan menuju ke kamarnya, tetapi dihadang oleh dokter Malik.
"Eitsss, kamu mau kemana..??, apa kamu bilang tadi..??, mami ku gak ajarin aku sopan santun .??", ucap dokter Malik.
"Suka suka aku dong mau bicara apa kek, mau kemana kek", ucap Rahel acuh.
"Mi..., ajari dia semua pekerjaan rumah, jangan biarin dia keluar dari rumah ini tanpa izin Malik", ucap dokter Malik berlalu meninggalkan rumah.
"Malikkk....!!!, kurang aj*r kamu ya..!!", seru Rahel menaiki tangga dan menggebrak pintu kamar.
"Astagfirullah, kenapa jadi gini sih..??", ucap Bu Maryam menyaksikan pertengkaran antara pengantin baru itu.
Rahel pun tak berkutik dibuatnya.
Ia habiskan waktunya di rumah dan hanya sesekali ia bisa sembunyi sembunyi, dan itupun hanya untuk keluar rumah dan bersantai sejenak, tapi itu bisa terjadi jika bu Maryam sedang pergi dan Rahel harus pulang saat suaminya belum pulang dari kantor.
Hidupnya sekarang penuh dengan was was setiap waktunya.
Untuk ke club malam pun ia tak pernah bisa semenjak ia menikah dengan dokter Malik.
__ADS_1
Niat hati ingin hidup senang, tetapi malah hidup dengan penuh kekangan.