Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Ini hanya demi sebuah keadilan.


__ADS_3

Setelah kematian Burhan.


Mawar terus saja larut dalam kesedihannya.


Hanya Aqly dan Fatimah lah yang terkadang bisa mengukir senyum di wajah Mawar walau hanya untuk sekejab saja.


Hari ini sidang putusan hukuman Rahel.


Mawar tak bergeming dari taman belakang rumah lamanya yang telah ia coba renovasi ulang membuatnya nampak seperti sebelumnya.


Ia sengaja tak mau menghadiri prosesi sidang itu.


Yang hanya akan membuat lukanya makin menganga.


Ia pandangi bunga bunga yang bergoyang terkena angin.


Ia munculkan memorinya kembali saat ia bersama sang suami menanam bunga itu bersama sama, merawatnya hingga bisa mekar dengan indahnya.


Tangisan Mawar pecah.


Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya.


"Ya Allah..!!", seru Mawar memukuli dadanya.


Ia pandangi ke sekeliling taman dan rumah.


Sepi....., itulah kata yang menggambarkan rumahnya kini.


Bayangan akan Geyna dan mbak Lastri, serta Burhan terus berulang di kepalanya.


Terlihat Mawar mengusap air matanya.


Ia mencoba untuk terus nampak tegar.


"Aku harus kuat demi anak anakku..!!", ucap Mawar menatap burung burung yang berkicau riang di dahan pohon.


Tiba tiba dari arah rumah, terdengar langkah kaki Azizah.


"Mawar, ada dokter Malik", seru Azizah mendekat ke arah Mawar.


"Sudah ku bilang aku tak mau bertemu dia, terlebih jika ia mau memaksaku datang ke pengadilan", seru Mawar tetap bersikeras.


Dokter Malik yang gusar memikirkan nasib Rahel yang bisa saja di hukum mati hari itu segera berlari masuk ke dalam rumah Mawar.


Ia memang tak suka dengan Rahel.


Tapi dalam kasus ini, dokter Malik lah yang lebih tau Rahel bersalah atau tidak.


"Mawar...!!", seru dokter Malik duduk di hadapan Mawar.


Mawar langsung memalingkan mukanya.


Ia sudah tau maksut dokter Malik yang sebenarnya.


"Dengarkan aku sekali saja, cabut tuntutanmu, Rahel tak bersalah..!!", seru dokter Malik memohon.


Mawar seketika menatap tajam ke arah dokter Malik.


"Setelah semuanya dokter..!!, apakah mata batinmu telah tertutup saat melihat suamiku meninggal di hadapanmu..!!", seru Mawar tak terima.


"Dengarkan aku sebentar saja", ucap dokter Malik bersujud di depan Mawar.


Sontak Mawar membangungkan tubuh dokter Malik.


"Aku bukan tuhan yang harus kau sembah..!!", seru Mawar tak berani menatap dokter Malik dengan wajah yang basah akan air mata.


"Kalau begitu dengarkan aku..!!", seru dokter Malik bangkit dari sujudnya.


"Aku mendengarkan ...!!", seru Mawar memetik sebuah bunga Mawar merah favorit Burhan.

__ADS_1


"Burhan telah menyembunyikan sesuatu darimu", ucap dokter Malik menunduk.


Mawar segera tercengang, ia meletakkan bunga Mawar di tangannya ke atas sebuah meja taman.


"Apa maksudmu..??", seru Mawar penasaran.


"Burhan sebenarnya mengidap kanker paru paru stadium akhir", ucap dokter Malik antara tega dan tak tega mengatakan kebenaran itu.


Mawar syok dan terduduk di kursi taman.


"Tak mungkin..!!, kondisinya baik baik saja", seru Mawar tak percaya.


"Dia sudah sakit sejak 6 bulan terakhir, dia bisa bertahan karna teratur dengan pengobatannya", ucap dokter Malik menjelaskan.


"Lalu kenapa itu terjadi...??", seru Mawar histeris memegang kedua tangan dokter Malik.


"Maafkan aku, aku sudah berusaha semampuku, di kondisinya seperti itu harusnya dia sudah terbaring di rumah sakit, tapi sungguh, Burhan lelaki yang kuat", ucap dokter Malik.


Seketika tangis Mawar semakin menjadi jadi.


Mendengar Mawar semakin histeris, Azizah mendekatinya dan memeluknya.


Mawar semakin menangis histeris dalam dekapan Azizah.


"Jika kamu tak percaya, ini hasil autopsi Burhan, ini membuktikan bahwa Rahel tak bersalah, Burhan meninggal karna paru parunya telah robek", ucap dokter Malik menjelaskan.


Mawar segera membaca berkas itu, dan ia merasa sedih sekaligus bersalah akan Rahel.


"Aku setuju Rahel di hukum seumur hidup, tapi aku tak setuju jika ia harus di hukum mati karna kesalahan yang tak ia perbuat", ucap dokter Malik membujuk Mawar agar mencabut tuntutannya.


Seketika Mawar berlari dan bergegas menuju kamar mandi.


Dengan di ikuti Azizah dan dokter Malik, terlihat Mawar sedang menggeledah seisi kamar mandi seakan mencari sesuatu.


Ia kemudian menemukan sebungkus obat dan alat bantu pernafasan yang di sembunyikan Burhan.


Mawar kembali menangis, lalu dia mengingat sesuatu.


Ia terus mencari dan mencari.


Lalu ia menemukan sebungkus obat obatan di bawah tempat tidur.


Mawar terduduk lemas dilantai.


Ia menangis sejadi jadinya.


"Sabar Mawar", ucap dokter Malik menenangkan Mawar.


"Jadi itu semua benar...!!, apakah ini obat obatan yang kamu maksud dokter..??", seru Mawar menangis tersedu sedu.


Dokter Malik hanya mengangguk di hadapan Mawar.


"Jadi itulah alasan kenapa ia selalu sering ke kamar mandi dan butuh waktu lama di dalamnya", ucap Mawar tersedu sedu.


Mawar pun bersandar di sisi tempat tidur.


Ia meratapi nasibnya dan nasib suaminya.


Kenapa harus kamu sembunyikan mas..??, sungguh kamu suami yang luar biasa bagiku..., gumam Mawar dalam hati.


Setelah beberapa saat.


Mawar mencoba bangkit dan kembali tegar.


Tiba tiba ponsel dokter Malik berdering.


"Assalammualaikum", ucap dokter Malik mengangkat panggilan telfonnya.


Seketika raut wajah dokter Malik berubah tegang.

__ADS_1


"Iyaa, baiklah", seru dokter Malik menutup telfonnya.


Dokter Malik beranjak dari sisi tempat tidur, ia melihat ke arah jam tangannya.


"Rahel akan dieksekusi 2 jam lagi", ucap dokter Malik dengan terduduk lesu.


Mawar yang mendengarnya begitu terkejut.


"Kenapa keputusannya mendadak sekali..??", seru Mawar tak percaya.


"Rahel di anggap ancaman di dalam sel, jadi setelah sidang hukumannya selesai ia juga akan langsung di eksekusi", ucap dokter Malik mengusap air matanya dan pergi dari sana.


"Tunggu...!!, aku ikut..!!", seru Mawar membuat langkah kaki dokter Malik terhenti, dan senyum bahagia serta terharunya pun ikut terpancar kala itu.


"Kamu tak akan pernah membuatku kecewa", ucap dokter Malik berangkat bersama Mawar ke pengadilan.


Dokter Malik terlihat sangat bergegas melaju ke sana.


Ia takut mereka akan telat sedetik saja saat eksekusi itu dilaksanakan.


Sementara, di ruang eksekusi.


Rahel terlihat duduk mematung dengan tatatan mata kosong.


Semua sudah berakhir..!!, gumam Rahel dalam hati.


Ia pandang para algojo yang akan menembak mati dirinya.


Mereka bersiap mengikat tangan Rahel, membawa sebuah penutup kepala hitam untuknya.


"Apa ada permintaan terakhir..??", seru seorang petugas polisi sembari menyiapkan senapannya.


Rahel hanya menggeleng dan tersenyum.


Tak terasa air matanya menetes.


Rasa takut dan gelisah bercampur jadi satu di benaknya.


Saat algojo itu menutup kepala Rahel dengan kain hitam dan sebuah senapan telah siap untuk menembak, tiba tiba terdengar suara seorang wanita.


"Berhenti...!!!", teriak Mawar berlari menghampiri Rahel.


"Anda siapa..??, jangan mengganggu tugas kami..!", seru seorang petugas polisi.


Dokter Malik dan pengacaranya pun menyampaikan apa yang telah terjadi.


Dan Bahwa Mawar telah mencabut tuntutannya beserta membersihkan nama Rahel dari tragedi yang menimpa suaminya.


Mawar melepas ikatan tangan Rahel.


Seketika Rahel membuka penutup kepalanya dan terpaku melihat wanita yang berada di hadapannya.


Tangisan Rahel pun pecah, seakan ketakutannya langsung sirna karna kedatangan Mawar, seketika Rahel memeluknya.


"Bukan aku...!!", seru Rahel di tengah tengah tangisannya.


"Iyaaa..!!, aku tau semuanya..!!", ucap Mawar tanpa mau memandang wajah Rahel.


"Terima kasih", ucap Rahel bersujud di kaki Mawar.


Mawar langsung bergerak mundur.


"Ini hanya demi sebuah keadilan", ucap Mawar lalu pergi dari hadapan Rahel.


Meninggalkannya yang tertunduk menangis dalam penyesalannya.


"Maafkan aku", seru Rahel dalam tangisnya.


Seolah Rahel telah menyesali semua yang telah ia perbuat, dan telah merasakan perihnya konsekuensi yang harus ia tanggung.

__ADS_1


Sementara dokter Malik hanya memandang Rahel dari kejauhan.


Ia meneteskan air mata iba melihat penderitaan Rahel yang kini telah sangat terlihat jelas.


__ADS_2