
"Lalu bagaimana dok?," tanya Bos besar kembali menyalakan rokok nya yang kesekian kali.
Wajah nya nampak datar dan kesal, seakan ia sangat berusaha keras menahan emosi nya hanya untuk bisa duduk tenang seperti saat itu.
"Aku ini lelaki kuat, kenapa saat berhadapan dengan nya, aku selalu merasa bimbang dan lemah!," keluh Bos besar meluapkan semua kekesalan nya pada saat itu.
"Tenang pak, tenang, tarik nafas perlahan," ucap seorang wanita memberi instruksi.
"Bagaimana saya bisa tenang dok!, bisa besar kepala dia nanti!," seru Bos besar menaikkan nada suara nya.
Hingga membuat nyali wanita di hadapan nya mulai menciut.
"M- maaf pak, mungkin yang bapak butuhkan saat ini adalah tenangkan pikiran, dan nanti saya akan resep kan obat penenang untuk mengontrol stres," ucap wanita itu mencoba menuliskan hasil pembicaraan mereka dengan tangan yang gemetar.
"Obat penenang?, dokter pikir aku gila, hah!," sentak Bos besar dengan cepat menarik kursi nya mendekat ke arah wanita itu hingga kini wajah mereka begitu dekat.
"A- apa yang anda lakukan?," keluh wanita itu mencoba berdiri dari kursi nya, namun kedua tangan nya segera di tekan kuat oleh tangan bos besar.
Tatapan tajam dari bos besar begitu membuat wanita itu ketakutan.
"Apa kau tak mengenal ku, hem!, hingga mulut mu itu berani bicara tak sopan pada ku," ucap lirih Bos besar hingga membuat wanita itu terpejam ketakutan.
"Kami di sini hanya membantu pak, dan saya meresepkan obat sesuai keluhan dari pasien pasien kami," ucap wanita itu terus berusaha menghindar dari wajah Bos besar yang semakin dekat hingga membuat hidung mereka hampir saja bersentuhan.
"Ah!, tidak ada guna nya berbicara dengan mu!, semua wanita sama saja!, tak berguna!," sentak Bos besar beranjak dari tempat duduk nya.
"Lebih baik anda pergi dari sini," ucap wanita itu segera bangkit dan menjauh dari sisi Bos besar.
"Wah, hebat!, sekarang kau berani mengusir ku?," seru Bos besar membuang rokok nya ke arah sang wanita hingga hampir membuat kemeja wanita itu terbakar.
"Jika anda tak segera pergi dari sini, aku akan hubungi polisi!", gertak wanita itu segera meraih ponsel nya dengan cepat.
__ADS_1
Namun gertakan itu tak berpengaruh pada Bos besar.
Ia malah berjalan santai mendekati meja sang wanita dan segera meraih sebuah papan nama yang terbuat dari batu granit.
"Dasar tak berguna!," teriak Bos besar sembari melempar papan nama yang bertuliskan Dr. Sandra ranum Sp.KJ hingga hancur berkeping keping.
"Keluar dari ruangan ku!, keluar!," teriak Dr Sandra sembari menangis memunguti papan nama nya.
"Cih!," ketus Bos besar segera berjalan keluar dari ruangan itu.
Saat ia keluar, sudah banyak pasang mata yang menatap nya dengan penuh tanda tanya, sembari sesekali mereka mencoba melirik pandang ke dalam ruangan Dr Sandra dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kenapa kalian menatap ku?. Apa kalian juga ingin bertemu dengan psikiater gadungan itu?," seru Bos besar sembari menyembulkan asap rokok nya ke arah semua orang.
"Aku sarankan kalian urungkan niat kalian, sebelum kalian berakhir di rumah sakit jiwa," seru Bos besar sekali lagi lalu segera pergi dari tempat itu.
Sementara semua orang yang ada di sana hanya diam terpaku melihat tingkah Bos besar yang aneh tanpa ada sebab yang jelas.
"Keterlaluan!," keluh Bos besar menghentikan mobil nya di halaman rumah bordil.
Sontak ia segera keluar dari mobil dengan wajah yang masih nampak begitu kesal.
Saat ia masuk ke dalam rumah.
Orang pertama yang ia lihat adalah Fatimah.
Fatimah nampak sedang mengepel lantai dan membersikan rumah saat itu.
"Cih!, dia lagi, dia lagi," keluh Bos besar sembari terus berjalan melewati Fatimah begitu saja.
Saat ia melewati meja makan, langkah nya terhenti saat melihat secangkir minuman sudah tersedia di meja makan.
__ADS_1
"Chef!, apa ini minuman untuk ku!," seru Bos besar namun tak mendapat sebuah jawaban dari siapapun.
Hingga dia memilih untuk duduk dan mencoba mengambil secangkir minuman hangat di hadapan nya.
Perlahan ia membuka tutup cangkir dan menghirup aroma terapi yang muncul dari minuman itu.
"Bau nya aneh?, tapi membuat penat ku sedikit hilang," ucap lirih Bos besar terus terusan mengamati cangkir yang ada di tangan nya.
Hingga tanpa basa basi lagi, ia segera meneguk minuman hangat itu dengan sekali tegukan.
"Mir, apa kau yang membuat minuman ini?," seru Bos besar saat melihat Mira keluar dari arah dapur.
"A-aku bos?," sahut Mira kebingungan.
"Good job, baru kali ini kau membuat ku senang," seru Bos besar lebih terlihat santai dari pada sebelum nya.
Mira yang tak tahu apa apa, segera memandang ke sekeliling dan segera menemukan Fatimah yang juga sedang menatap ke arah nya.
Fatimah segera mengangguk dan membuat Mira tahu apa maksud dari anggukan itu.
"Besok buat kan aku minuman persis seperti ini, oke!," perintah Bos besar.
"S- siap Bos," sahut Mira spontan.
"Kau tau Mira, sedari pagi aku mencari ketenangan di luar sana, tapi upaya ku malah membuat mood ku makin kacau!, tapi ternyata ketenangan itu aku dapatkan hanya dengan meminum teh aroma buatan mu, di rumah ku sendiri," seru Bos besar segera bangkit dari duduk nya dan bergegas masuk ke dalam kamar nya.
"Fatimah?," seru Mira meminta kejelasan.
"Tolong biarkan semua nya tetap seperti ini," ucap Fatimah membuat Mira menghela nafas pelan.
"Hanya kamu yang bisa melakukan hal seperti ini Fatimah, kamu benar benar luar biasa," ucap Mira memeluk sahabat baru nya itu.
__ADS_1