Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Pengusiran dari pesantren


__ADS_3

Mawar masih terisak isak di halaman depan pesantren.


Sedangkan para penghuni pesantren yang dulunya menghormati Mawar sekarang berubah menatap Mawar dengan jijik penuh amarah.


"Sudahlah nak, sebaiknya kamu lupakan sikap mami mu itu, dia memang begitu", ucap mbak Lastri menenangkan Mawar.


Mawar hanya diam, seakan fisik dan mentalnya tak kuat lagi menghadapi cobaan yang terus bertubi tubi di hidupnya.


Mbak Lastri pun berusaha memapah Mawar berjalan menuju pondok.


Mereka melewati semua mata yang melihat mereka secara tak bersahabat.


Bisikan bisikan lirih dari mulut mereka mulai terdengar.


"Kasian ya Nia, nasibnya harus seperti itu gara gara mbak Mawar", ucap salah seorang pengurus pesantren.


"Iyaa aku juga gak nyangka, lebih lebih dia ternyata anak seorang pela*ur", bisik bisik antara para santri.


Mbak Lastri mencoba tak menghiraukan ucapan mereka.


Ia lebih mementingkan Mawar yang kini sedang sangat lemah.


Jangan sampai ia hilang iman dan lemah batin karna kejadian ini.


Saat Mawar dan mbak Lastri ingin masuk ke pondok, para guru di pesantren menghentikan langkah mereka.


"Berhenti buk", ucap salah satu guru menghadang mbak Lastri.


"Buk, tolong biarkan kami masuk pondok", ucap mbak Lastri.

__ADS_1


"Maaf buk, sepertinya itu tak mungkin, saya mohon ibuk dan Mawar sadar diri, kami gak mau ada korban lagi disini, sudah cukup Nia menjadi korban orang tua Mawar, sebaiknya kalian pergi dari sini", seru seorang guru wanita yang memberikan tas berisi barang barang Mawar dan mbak Lastri.


"Tapi buk, kasihanilah kami, kami harus kemana lagi", ucap mbak Lastri dengan terisak isak.


"Maaf buk, Mawar tak pantas berada di pesantren ini, ibuk tak kasian dengan nama baik pak kyai Usman..??", ucap salah seorang guru lagi.


Saat Mbak Lastri ingin menjawab tudingan jelek mereka tentang Mawar.


Mawar berusaha menghentikan mbak Lastri.


"Sudah lah buk, mereka benar, semua itu tak akan terjadi jika Mawar tidak ada di sini, mungkin Nia pun masih hidup sekarang, jangan sampai ada Nia yang lain yang bernasib sama dengannya gara gara Mawar", ucap Mawar berusaha tegar dan mengusap air matanya.


Ia mengambil tas barang barang miliknya.


Ia kemudian menggandeng tangan mbak Lastri keluar dari pesantren.


Tatapan Mawar kosong, ia berjalan seakan tanpa jiwa, semua peristiwa yang terjadi di hidupnya membuat ia semakin rapuh.


Jika ia jatuh dan menyerah, bagaimana nasib ibunya nanti.


Mbak Lastri menangis menatap nasib anaknya, ia tak bisa berbicara apa apa lagi.


Ia menatap kesekeliling pesantren, tempat yang penuh sejarah bagi kehidupan mereka.


Disinilah mereka hidup dan bernaung selama hampir 8 tahun lamanya.


Tetapi status Mawar yang sebagai anak seorang pela*ur sulit diterima oleh masyarakat di manapun itu.


Dalam keterpurukannya, Mawar memikirkan penghinaan dan olok olok semua orang yang ia temui di kehidupannya.

__ADS_1


Sejak ia masih kecil.


Saat ia remaja.


Saat ia dihina oleh ayah dokter Malik.


Dihina oleh keluarga pesantren yang telah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


Air matanya menetes, ia segera mengusapnya dan bertekad tak akan menangis lagi.


Masih ada Allah dan ibuk yang menyayanginya.


Mawar dan mbak Lastri tiba di pintu gerbang pesantren, tatapan tajam masih ada disekeliling mereka.


Mawar menatap kebelakang.


"Terima kasih pak kyai atas semuanya, akan ku bawa ilmu dari pak kyai dimana pun Mawar melangkah nantinya", ucap Mawar meneruskan langkahnya yang tak tau entah kemana.


Ia bertekad akan melupakan dokter Malik juga, ia akan fokus ke karirnya dan ibunya.


Semoga ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, tanpa harus mengandalkan belas kasihan orang lain.


Mawar tak membenci mami, bagaimanapun Mawar lahir dari rahim mami, ibu yang dipilihkan Allah untuk Mawar, semoga mami menyadari semua kesalahannya, gumam Mawar dalam hati.


Suasana di pesantren kala itu pun berangin dan mendung.


Seakan alam pun sedih melihat penderitaan Mawar dan mbak Lastri.


Tapi Allah tak pernah tidur, akan ada cahaya setelah kegelapan melanda.

__ADS_1


Jika Allah tak memberi kesempatan bagi seseorang menikmati cahaya itu di dunia.


Pasti Allah akan memberinya di akhirat kelak.


__ADS_2