Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Sebuah kunjungan 2.


__ADS_3

"Apa kita akan bertemu partner baru tuan?," tanya Rea saat mobil mereka telah memasuki gerbang sebuah rumah yang belum pernah Rea kunjungi selama ia bekerja dengan tuan Danu.


"Ini rumah bidadari ku, calon istri ku" ucap tuan Danu membuat Rea tercengang.


Rasa muak dan mual seketika menyeruak dalam diri nya.


Ia begitu risih akan ucapan tuan Danu yang baru saja tuan Danu lontarkan.


Bidadari?, calon istri?, siapa wanita yang mau menikah dengan lelaki tua seperti mu, bahkan kau sudah... Ah sudahlah, batin Rea memilih mengikuti setiap keinginan dari tuan Danu dari pada ia nanti nya kembali membuat tuan Danu kesal dan bisa bisa ia akan berakhir tidur di sel bawah tanah malam ini.


Pandangan tuan Danu seketika tertuju pada sebuah mobil berwarna silver yang telah tiba terlebih dulu untuk bertamu di rumah itu, rumah yang tak lain adalah rumah dari dokter Malik serta Mawar.


"Kebetulan dia juga ada di sini, sudah lama aku tak berbincang dengan sahabat ku itu," ucap lirih tuan Danu dengan wajah yang begitu sumringah kala itu.


Sementara di dalam rumah.


Kakek Bram masih mencoba untuk mengutarakan niat nya datang ke sana.

__ADS_1


Namun saat menatap wajah sang putri, ia selalu gagal untuk mengungkapkan segala nya yang semalaman ini begitu mengganjal di hati nya.


"Bicaralah yah, apa yang kali ini mengganggu mu?," seru Mawar langsung memahami arti kegelisahan di raut wajah kakek Bram saat itu.


"Apa suami mu ada di rumah?," ucap kakek Bram semakin gelisah.


"Mas Malik ada, dia sedang ada satu pasien lagi yah, sebentar lagi dia akan kemari," sahut Mawar tanpa ada nya rasa curiga sedikitpun.


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian tentang suami dari Fatimah," seru kakek Bram begitu tak sabar menunggu kedatangan dokter Malik.


"Apa mereka sudah menemui mu ayah?," tanya Mawar penuh harap.


"Syukurlah, semoga mereka bisa langgeng hingga jannah ya yah," ucap Mawar semakin membuat kakek Bram kesal.


"Tidak!, itu semua tidak boleh terjadi!," sentak kakek Bram langsung beranjak bangkit dari sofa.


"A- apa maksud ayah?," ucap Mawar begitu tak percaya saat mendengar nya.

__ADS_1


"Mereka harus bercerai secepat nya!," sentak kakek Bram seketika membuat kedua kelopak mata Mawar menjadi basah.


"Ce- cerai?, tidak!, itu bukan sebuah solusi ayah!, terlebih apa salah mereka hingga mereka harus berpisah?," seru Mawar tak mengerti akan semua keinginan dari sang ayah yang ia rasa begitu tak beralasan.


"Aku bisa membantu memproses perceraian mereka jika kalian mau," seru sebuah suara dari arah pintu masuk yang tak lain ialah tuan Danu.


Kini ia telah berdiri dengan angkuh nya di depan pintu masuk rumah Mawar.


Melihat kedatangan tuan Danu ke sana, kakek Bram begitu terkejut.


"Ka- kau lagi?. Dan ayah, apa kau mengenal nya?," ucap Mawar masih begitu jelas mengingat bagaimana kunjungan tak menyenangkan tuan Danu beberapa minggu yang lalu.


"Danu?, apa yang kau lakukan di sini," tanya kakek Bram begitu penasaran di buat nya.


Pasal nya, meskipun tuan Danu adalah sahabat lama kakek Bram tapi ia harus tetap waspada mengingat tabiat dan watak buruk tuan Danu di luar sana, termasuk kepada para wanita.


"Hai Bram, apa kabar?, kebetulan kita bisa bertemu lagi di sini," seru tuan Danu dengan senyum licik nya.

__ADS_1


"Langsung ke tujuan mu Danu?," seru kakek Bram begitu berharap sahabat nya itu tidak berniat membuat kerusuhan di rumah milik sang putri.


"Aku hanya berkunjung, lagi pula aku sudah sering memeriksakan kondisi ku kepada dokter Malik bukan?, kenapa kau terlihat curiga seperti itu," seru tuan Danu dengan tenang nya.


__ADS_2