
Hari itu dokter Malik dan Burhan berangkat pagi pagi sekali menuju ke kantor polisi.
Dengan mengantongi bukti rekaman cctv itu, mereka yakin bisa menegakkan keadilan bagi mbak Lastri.
"Tunggu..!!", seru Mawar menghentikan langkah dokter Malik dan Burhan.
"Hati hati mas, Rahel pasti masih mengincarmu", ucap Mawar memegang kedua tangan suaminya.
Membuat dokter Malik memalingkan muka dan berusaha menjauh dari Mawar dan Burhan.
Ia sudah sejauh ini, ia tak mau rasa itu mengusik hidupnya lagi.
"Pasti, jaga anak anak ya, assalammualaikum", ucap Burhan berjalan menyusul dokter Malik yang sudah siap di mobilnya.
"Walaikumsalam", ucap Mawar dengan memanjatkan doa keselamatan bagi Burhan dan dokter Malik.
Sesampainya di kantor polisi.
Mereka langsung memproses laporan untuk penangkapan Rahel.
Polisi langsung bergerak cepat dan membuat pemberitahuan di berbagai media cetak.
Rahel yang sudah jauh jauh hari telah melihat siaran berita di televisi yang menyatakan bahwa korban meninggal itu bukanlah Burhan, melainkan adalah mbak Lastri merasa amat kesal dan marah.
Tapi dia juga syok karna berita itu juga mengatakan bahwa mereka tahu ada manipulasi dalam insiden itu, dan pihak keluarga sudah mengantongi buktinya.
Mendengar hal itu, Rahel amat ketakutan dan sudah bersiap untuk kabur ke luar kota.
Ia meninggalkan pekerjaan dan tempat kos nya secara tiba tiba dan tanpa pamit.
Saat polisi memulai pencarian terhadapanya.
Ia tengah dalam perjalanan menemui Susan.
Hanya Susan satu satunya tempatnya berlindung kali ini.
__ADS_1
"Susan memang marah padaku, tapi dia tak akan tega denganku", ucap Rahel tersenyum melihat bahwa pesannya telah dibalas sesuai harapannya oleh Susan.
Beberapa saat kemudian, Susan telah datang ke tempat persembunyian Rahel.
Rahel yang terlihat gembira melihat kedatangan Susan seketika merasakan takut yang amat besar.
Susan datang dengan banyak polisi yang siap meringkus Rahel masuk ke dalam penjara.
Dengan pengejaran yang cukup lama, akhirnya Rahel bisa diringkus dan dibawa ke balik jeruji besi.
"Kurang a*ar kamu..!!, harusnya aku gak pernah hubungi kami..!!", teriak Rahel histeris dari balik jeruji besi.
Mawar yang melihat Rahel mencoba tetap terlihat tegar dan sesekali mengusap air matanya yang jatuh.
"Sudahlah Mawar, dia pantas mendapatkannya, sudah cukup kamu mengalah untuknya, sudah banyak kerugian yang kamu alami karnanya", ucap Susan mencoba mengurangi rasa sedih dan sakit di hati Mawar.
"Ia telah mengambil bagian penting dari diriku, dan untuk kali ini, Mawar yang lemah tidak ada lagi", seru Mawar berjalan keluar dari kantor polisi dengan di dampingi kuasa hukumnya.
Susan menatap jauh ke arah Rahel yang terus saja mengamuk dan menghardik setiap orang.
Susan mengingat pertemanan mereka yang indah dulu.
"Kenapa Rahel..??", seru Susan pergi meninggalkan tempat itu.
____
2 minggu kemudian.
Sidang hukuman untuk Rahel di mulai.
Tatapan tajam Rahel dan keangkuhannya masih terlihat sampai kini.
Fakta demi fakta, bahkan saksi dan bukti telah di bahas satu persatu di pengadilan.
Bahkan semua fakta juga menyeret Rahel ke kasus lain, yaitu penculikan Fatimah di masa silam.
__ADS_1
Tanpa menunggu sidang berikutnya.
Hakim memutuskan bahwa Rahel di hukum seumur hidup karna semua kesalahannya.
Mawar hanya terdiam menatap ke arah hakim yang mengetuk palu terakhir untuk Rahel.
Sambil memeluk Fatimah dan Aqly ia berusaha menahan air matanya untuk tak menetes.
Buk..!!, tenang ya di sana..!!, gumam Mawar dalam hati lalu pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Ia sudah tak mau melihat Rahel yang terus mengamuk dan berkata kata kotor tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kita mampir ke makam ibuk dan mami ya mas", ucap Mawar memandang keluar kaca mobil.
"Kamu yakin..??", seru Burhan yang merasa raga dan jiwa Mawar masih terlalu rapuh di dalam dan ia takut Mawar drop di jalan.
Mawar hanya mengangguk tanpa bersuara.
Burhan melajukan mobilnya, dan tak berapa lama mereka telah sampai di tempat tujuan.
Angin berhembus menerpa jilbab Mawar saat ia keluar dari mobil.
Seakan kedua wanita yang ia sayangi telah menyambutnya di sana.
Mawar berjalan memasuki area pemakaman.
Bunga bunga berguguran, merebak aroma wangi bunga kamboja di segala penjuru.
Mawar terduduk di pusaran mbak Lastri dan Geyna yang sengaja di buat berdampingan.
"Ibuk, mami..!!, assalammualaikum, maaf Mawar baru sempat mengunjungi kalian, Mawar harap kalian bahagia ya di sisi Allah, mami tau gak..??, Aqly sekarang sudah mulai bisa tengkurap lho, coba aja mami nemenin aku saat lahiran dulu", ucap Mawar mengusap air matanya yang tak terasa menetes.
Burhan yang menggendong Aqly dan Fatimah hanya bisa mengelus pundak Mawar agar lebih kuat dan Sabar.
"Ibuk..!!, ibuk tau gak..??, hari ini Mawar mencoba menjadi wanita yang lebih kuat dan tegar, tapi ternyata Mawar gak bisa buk, ini semua sangat berat bagi Mawar, terlebih gak ada ibuk yang nguatin dan meluk Mawar", ucap Mawar semakin sesenggukan.
__ADS_1
"Mi, doakan Mawar ya, supaya bisa istiqomah di dunia yang kejam ini, jujur mi, surga itu mahal, sangat mahal..!!, bahkan Mawar tak yakin akan bisa sampai ke sana", ucap Mawar lagi.
"Semoga kalian tenang ya, doakan Mawar di sini", ucap Mawar menutup matanya dan melepaskan tangisnya yang sudah tak bisa ia bendung lagi.