
"Allah saja....." ucap Fatimah seakan di hujam berulang ulang kali dengan sebuah belati tepat di dada nya saat itu.
Namun ucapan nya langsung di sela oleh sang kakek saat itu juga.
"Begitu membenci perceraian?, itukan yang ingin kau ucapkan?, hem!," seru kakek Bram dengan begitu kesal nya.
Mendengar sela an sang kakek, Fatimah hanya terdiam dan menangis di tempat nya berdiri.
"Dengar nak, kakek memang seorang pendosa, kakek begitu dangkal akan agama, tapi kakek berusaha agar anak cucu kakek tidak terjerumus seperti kakek dahulu, tidak ada yang lebih mengenal dunia malam sebaik kakek Fatimah," seru kakek Bram seakan menjelaskan satu hal besar kepada Fatimah saat itu, bahwa kakek Bram telah mengetahui semua tentang jati diri Bos besar yang sebenar nya.
"Tapi aku yakin dia berbeda kek," ucap Fatimah sembari menatap tepat ke arah Bos besar.
Tatapan nya menunjukkan bahwa Fatimah dengan begitu keras nya menepis semua hal buruk yang ada di dalam diri Bos besar selama ini.
__ADS_1
"Kalau begitu coba sebutkan satu kebaikan nya yang pernah ia lakukan untuk mu Fatimah," seru kakek Bram membuat bibir Fatimah seakan berat untuk kembali berucap.
Sia sia saja Fatimah, kau tak akan bisa menjawab nya, batin Bos besar berusaha memalingkan muka nya, ia begitu tak tega berlama lama menatap wajah tak berdaya Fatimah saat itu.
Melihat sang cucu hanya terdiam di tempat nya berdiri, kakek Bram seketika tersenyum sembari menatap ke arah Bos besar.
"Lihatlah, istri mu tidak bisa menjawab hal sepele seperti itu. Dan aku yakin, saat kau pulih dan bisa terlepas dari kursi roda ini kau akan menyianyiakan hidup cucu ku ini," seru kakek Bram sembari kembali mendekat ke arah Fatimah.
"Kakek, dengarkan dulu penjelasan ku," ucap Fatimah masih mencoba meluluhkan hati sang kakek.
"Cukup Fatimah!, sejak kapan kau membangkang di depan orang tua!, kakek hanya menyuruh mu memilih bukan!, jika kau memilih kakek biarkan nanti supir nya yang akan membawa nya pergi dari sini," seru kakek Bram naik pitan, bahkan sampai detik itu ia tak menyadari siapa yang tengah berada di dalam mobil milik Fatimah yang ia anggap sebagai seorang supir.
"Aku pamit kek," ucap Fatimah begitu mengejutkan kakek Bram saat itu.
__ADS_1
Pasal nya ucapan yang di lontarkan sang cucu saat itu begitu membuat hati nya terluka begitu dalam.
"Kau memilih lelaki ini ketimbang kakek mu sendiri?," keluh kakek Bram langsung merasa kehilangan semua kekuatan nya saat itu juga.
"M - maaf kek, ku harap kakek akan mengerti dengan keputusan ku, aku tak bisa meninggalkan nya dalam kondisi nya seperti sekarang ini," sahut Fatimah membuat kaki kakek Bram semakin lemas saat itu juga.
Ia begitu tak percaya kata kata seperti itu bisa keluar dari mulut Fatimah.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, kakek Bram langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah nya serapat mungkin meninggalkan Fatimah serta Bos besar begitu saja.
Perlahan Fatimah mendorong kursi roda dari Bos besar hingga tepat berhenti di samping mobil mereka.
Sepertinya akan begitu sulit kau di terima di tengah tengah keluarga ku Bos, ku harap jika kau sembuh nanti, kau akan memperjuangkan restu itu bersama mu kelak, batin Fatimah begitu yakin akan keyakinan dalam hati nya bahwa bukan sebuah kebetulan Allah menikahkan dia dengan Bos besar tanpa ada alasan besar di balik semua nya.
__ADS_1