Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kedatangan iblis dunia malam.


__ADS_3

"Makan lah bos, setelah itu minum obat mu, lalu aku akan pergi dari sini, itukan yang kamu inginkan," ucap Fatimah sembari menyuapi Bos besar dengan telaten nya.


Fatimah menyiapkan setiap keperluan Bos besar bahkan mengganti bunga segar di vas bunga kamar itu setiap hari nya, Fatimah pikir itu akan menghilangkan sedikit kejenuhan dalam diri suami nya.


Mustahil bagi nya kalau setiap hari ia harus mengajak jalan jalan Bos besar untuk sekedar di taman belakang menghirup udara segar, meskipun dengan bantuan kursi roda.


Karna sulit bagi nya meminta Aqly untuk setiap waktu membantu nya merawat Bos besar.


Fatimah sudah sangat bersyukur jika Aqly bisa di andalkan di saat Bos besar memerlukan nya untuk urusan kamar mandi dan mengganti pakaian nya.


Ternyata dia begitu baik, aku tak akan terawat seperti ini kalau saja tak ada dia di sini, dimana semua wanita yang aku tampung di rumah ku ini saat kondisi ku seperti ini?, batin Bos besar merasa bersalah pada sosok wanita di hadapan nya.


"Mira, kebetulan kau datang, bisa kau panggilkan Aqly untuk ku?, ini waktu nya Bos besar mandi," seru Fatimah saat melihat Mira mendekat ke arah nya.


Namun, ada yang berbeda dari Mira saat itu.


Mira terlihat begitu gusar dan ketakutan.


"Mira?, ada apa?," tanya Fatimah heran.


Pasal nya sikap Mira tidak biasa nya pendiam seperti itu saat bersama dengan Fatimah.


"A- Aqly sedang menemui tamu," sahut Mira terbata bata.


Mira begitu nampak ingin menyampaikan sesuatu, namun mulut nya seakan sulit sekali untuk bicara.


Kenapa dengan gadis ini, ah!, membuatku penasaran saja, coba saja aku bisa bergerak normal seperti dulu, batin Bos besar kesal dengan kecacatan nya kini.


Belum sempat Mira berucap lagi, Aqly sudah nampak memasuki kamar Bos besar dan mendekat ke arah mereka.


Dengan wajah yang berekspresi seperti Mira, membuat Fatimah merasa ada yang tak beres sedang terjadi.


"Kalian kenapa?, semua baik baik saja kan?," tanya Fatimah mencoba mengangkat dagu Aqly yang tertunduk.


Namun tiba tiba Aqly berjalan mendekati Bos besar dan mendekatkan bibir nya ke telinga Bos besar.


"Bos, ada Tuan Danu," bisik Aqly membuat mata Bos besar membulat sempurna seketika itu juga.


Lalu ingatan nya tiba tiba menelisik ke belakang.


Ia begitu tercengang dan nampak syok saat mengingat pembicaraan terakhir nya dengan Tuan Danu.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan sampai Bos tegang seperti itu dik!," keluh Fatimah menarik tangan Aqly.


Namun tanpa marah atau memaki, Aqly masih terdiam tanpa menatap Fatimah.


Bersamaan dengan itu, derap langkah kaki terdengar mulai mendekat.


"Fatimah, kita pergi dari sini!," seru Mira dengan begitu gelisah sembari menarik tangan Fatimah untuk segera pergi dari sana.


"Ada apa sebenar nya dengan kalian?, siapa yang datang?," tanya Fatimah heran dengan sikap Mira yang terus memaksa menarik tangan nya.


Mendengar derap langkah itu semakin mendekat, Mira semakin bertingkah tak karuan.


"Tak ada waktu lagi!, kau harus sembunyi!," ucap Mira menarik tangan Fatimah dengan cepat nya memasuki almari baju Bos besar.


"Mira!," seru Fatimah menuntut penjelasan.


Namun dengan cepat, Mira segera membungkam erat mulut Fatimah agar bisa bersikap setenang mungkin.


"Ini demi kebaikan mu Fatimah, percayalah," ucap lirih Mira sembari menatap sosok seorang lelaki paruh baya yang berjalan masuk ke kamar itu dengan di ikuti beberapa body guard nya.


Melihat kekhawatiran di mata Mira, Fatimah mencoba percaya dan mulai bersikap setenang mungkin tanpa bertanya apapun juga.


Mata Fatimah seketika ikut melihat sosok lelaki paruh baya yang sedang berjalan mendekati Bos besar melalui celah almari.


Kenapa aku begitu takut hanya dengan menatap nya saja, batin Fatimah merasakan kegelisahan yang di rasakan Aqly serta Mira yang berdiri gemetar di samping nya.


"M- maaf Tuan, Bos besar tak bisa menjawab sapa an mu sekarang," ucap Aqly dengan terbata bata.


Ucapan Aqly seketika membuat Tuan Danu tertawa dengan kencang nya.


Membuat semua yang melihat nya menjadi begitu amat ketakutan.


Cih!, jika aku sembuh akan ku buat perhitungan dengan mu!, batin Bos besar mencoba menggerakkan badan nya, namun usaha nya itu sia sia.


"Maaf, maaf, aku tak tahu jika kondisi mu sekarang seperti ini," ucap Tuan Danu memerintahkan seorang body guard nya untuk memberikan koper milik nya.


"Langsung ke poin nya saja, meskipun aku prihatin dengan keadaan mu, keprihatinan ku tak akan bisa membuat mu normal kembali, jadi aku ingin menagih janji mu di pembicaraan kita yang terakhir," seru Tuan Danu sembari membuka koper nya di hadapan Aqly serta Bos besar.


Aqly begitu terkejut saat melihat isi koper itu penuh sesak dengan bertumpuk tumpuk uang bernominal seratus ribu.


A, apa itu uang semua?, batin Aqly sembari berusaha menelan ludah.

__ADS_1


Namun Bos besar nampak tak tertarik dengan uang itu.


Ia seakan berubah fikiran tentang tawaran nya yang pernah ia ucapkan dulu.


Tidak!, dia sudah baik pada ku, bahkan saat kondisi ku seperti ini, setidak nya ku hargai kesucian nya itu, batin Bos besar memalingkan muka nya dari Tuan Danu.


Melihat itu, Tuan Danu segera mengetahui jawaban pasti dari Bos besar atas pertanyaan nya walaupun Bos besar tak bisa menjawab nya dengan sebuah ucapan.


"Sikap mu ini begitu menghinaku, kau tahu itu!, aku meluangkan waktu ku datang ke sini untuk menagih barang baru dari mu, tapi semua sia sia!," sentak Tuan Danu membuat Aqly, Mira serta Fatimah begitu tercengang mendengar nya.


A, apa maksud nya dengan barang baru?, a- apa Bos besar mencoba menjual ku lagi?, batin Fatimah dengan mata yang mulai basah.


Sedangkan Mira seketika itu juga menatap Fatimah.


Jangan sampai kau berurusan dengan lelaki itu Fatimah, jangan sampai kau merasakan yang pernah aku rasakan dahulu, batin Mira merasa takut.


Apa yang dia maksud itu kak Fatimah?, batin Aqly mencoba mencuri pandang ke arah almari tempat Fatimah bersembunyi.


"Lebih baik aku pergi dari sini!, ingat Bos!, aku akan tagih janji mu suatu hari nanti!, atau kau akan hancur di tangan ku!," sentak Tuan Danu dengan wajah merah padam segera bergegas keluar dari kamar Bos besar.


A, apa aku berikan kak Fatimah pada nya ya?, batin Aqly mencoba mengejar Tuan Danu.


Namun sebelum ia benar benar melewati pintu kamar, langkah nya seketika terhenti kembali.


Ah, tidak!, bagaimana jika kak Fatimah tak mau lagi merawat Bos besar setelah itu, pasti aku yang susah, batin Aqly mengurungkan niat nya.


Mendengar suara mobil Tuan Danu sudah benar benar pergi dari halaman rumah mereka.


Mira segera mengajak Fatimah keluar dari tempat persembunyian mereka.


Namun, Fatimah masih tertegun dan nampak begitu syok saat itu.


"Siapa dia Mira?," tanya Fatimah begitu ingin tahu.


"Dia iblis di dunia gelap ini Fatimah, kau tak akan mampu membayangkan kengerian nya jika ia berhasil memiliki kita," ucap Mira membuat air mata Fatimah menetes tak terbendung lagi.


"Apa kau pernah dalam posisi itu?," tanya Fatimah menatap tajam ke arah Mira.


Mira hanya mengangguk sembari mulai menangis saat itu juga, saat ia mulai mengingat kembali masa kelam nya yang mengharuskan ia menjadi wanita pemuas nafsu Tuan Danu.


Membuat Fatimah perlahan berjalan mendekat ke arah Bos besar dan menatap sayu ke arah nya.

__ADS_1


Fatimah, maafkan aku!, batin Bos besar mencoba menggerakkan bibir nya namun begitu berat bagi nya.


__ADS_2