
"Aduhhh..!!, pelan pelan om...!!!", seru Rahel kesakitan, menepis tangan Bram dari sikunya.
"Crewet...!!", seru Bram meletakkan kapas obat merah yang sedari tadi ia gunakan untuk mengobati siku Rahel.
"Ini juga gara gara om...!!", ucap Rahel meniup niup sikunya yang berdarah karna didorong dokter Malik.
"Kok om sih..!!, kamu aja yang terlalu bar bar, sampek bikin Malik ngamuk kayak gitu, om gak pernah lhoo liat dia semarah itu", ucap Bram keheranan dengan sikap dokter Malik.
"Aku heran si yah, apa yang di perebutkan dari cewek kayak Mawar itu, ihh kalau aku sih ogahhh", ucap Rahel.
"Lelaki memang gitu, belum daper ya masih penasaran", ucap Bram bersandar di kursi duduknya.
"Oh...., jadi om sekarang bela Mawar...!!, sebenarnya calon mantu om itu siapa sih..??", seru Rahel kesal.
"Ya kamu lah, masak anak pela*ur itu, siapa juga orang tuanya, punya anak nyusahin orang aja", ketus Bram.
Seketika pandangan mereka berdua tertuju pada mobil dokter Malik yang memasuki halaman rumah Rahel dan berhenti di hadapan mereka.
"Malik..!!", seketika Rahel berdiri, ia terkejut dokter Malik mau datang kerumahnya.
"Kamu ngapain kesini..??", seru Bram masih jengkel terhadap anaknya.
Dokter Malik terus memandangi Rahel, membuat Rahel agak grogi kali ini.
Dokter Malik memang cukup tampan untuk diperebutkan banyak wanita.
"Mau apa kamu...??, kamu mau dorong aku lagi..??, maki maki aku.??", ucap Rahel mencoba mengatasi rasa groginya.
__ADS_1
Seorang Rahel tak mau terlihat lemah dan meleleh didepan lelaki.
"Enggak, aku kesini mau terima kasih sama kamu", ucap Malik.
"Maksud kamu...??", seru Rahel keheranan dan memandang Bram.
Mau apa anak ini...??, gumam Bram dalam hati.
"Aku setuju menikah sama kamu, dan pertunangan kita tinggal seminggu lagi kan, besok kita fiting baju, aku tunggu kamu di butik", ucap Dokter Malik membuat Bram dan Rahel terkejut.
"Yakin kamu..!!", seru Rahel mendekati dokter Malik.
"Mawar sudah memilih Burhan, dan kamu sangat ingin kan jadi istriku..???, okeeyy, aku turuti, lalu apa lagi yang kamu pertanyakan..??", ucap Dokter Malik terlihat serius.
Bram berdiri dari tempat duduknya dengan senyum yang mengembang.
"Papi senang..??", ucap Dokter Malik.
"Tentu...!!, kamu akan membuat kesepakatan bisnis papi berhasil", ucap Bram dengan tawanya.
"Aku cuma mau ngomong itu aja, besok aku jemput kamu", ucap dokter Malik masuk lagi ke dalam mobilnya.
Dokter Malik melihat mereka dari dalam mobilnya.
Ini kan yang kamu inginkan Rahel, sejatinya kamu tak menginginkan aku bukan..??, kamu hanya tergiur akan harta keluargaku, dan setelah kita menikah, kamu akan tunduk di kakiku, kamu akan balas rasa sakitku karna kehilangan Mawar, gumam dokter Malik dalam hati.
Ia pun melajukan mobilnya pergi meninggalkan kediaman Rahel dengan muka yang merah padam.
__ADS_1
"Maafkan Malik mi, anak mami ini minta maaf, Malik akan hormat pada wanita, tapi bukan pada Rahel", ucap Dokter Malik menghapus air mata yang tak sengaja menetes.
Malam itu Dokter Malik sudah kembali sampai ke rumahnya.
Ia masuk ke dalam rumah dan mendapati mami nya sedang memasak.
Ia mencoba mendekat.
Tetapi bu Maryam bergegas masuk ke dapur, sepertinya ia masih marah dengan dokter Malik.
"Mi, Malik cuma mau bilang, Malik sudah menyetujui pertunangan Malik dengan Rahel, Malik cuma mau restu dari mami", ucap dokter Malik berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Bu Maryam yang mendengar itu langsung syok, ia mengejar anaknya, tetapi dokter Malik sudah terlanjur masuk ke dalam kamarnya.
Ya Allah, akan ada apa lagi ini..??, gumam bu Maryam tak percaya dengan ucapan anaknya itu.
Bukan hal wajar jika dalam sehari seseorang bisa marah, benci dan akhirnya memutuskan untuk bersedia menikahinya tanpa sebuah alasan.
"Apa yang kau rencanakan Malik..??", ucap bu Maryam gelisah lalu pergi menuju kekamarnya.
Sementara dokter Malik langsung tersungkur di lantai kamarnya.
Ia menangis sejadi jadinya.
Ia meratapi nasibnya sendiri.
Ia berhasil dalam karir dan bisnis, tapi ia gagal dalam cinta.
__ADS_1
Sungguh menyedihkan, gumam dokter Malik.