
"Apa begini cara kerja mu Rea!," sentak tuan Danu begitu murka nya.
Sementara Rea hanya bisa menunduk terdiam di sisi tuan Danu yang terus saja membentak nya tanpa henti setelah kejadian kabur nya Tia beberapa hari yang lalu.
Sejak saat itu, bisnis tuan Danu terancam gulung tikar bahkan di saat bisnis nya baru saja di mulai.
Pelanggan yang menyewa Tia saat itu begitu marah hingga para ajudan nya kembali datang ke sana dan memporak porandakan rumah besar tuan Danu.
Hingga malam itu bukan keuntungan besar yang mereka dapat, melainkan kehancuran dan rusak nya nama baik nya di kalangan para kolega.
"M- maaf tuan, tapi aku juga tak tahu kalau itu semua akan terjadi," ucap Rea terbata bata, ia mencoba membela diri nya yang ia rasa telah bekerja dengan sebaik mungkin untuk majikan baru nya itu.
"Itu menandakan kalau kau itu sebenar nya bodoh!, harus nya kau sudah antisipasi semua hal buruk yang akan terjadi!, mengingat para wanita itu masih baru dan sebagian besar mau bekerja dengan kita karna sebuah paksaan!," keluh tuan Danu tak habis habis nya menyalahkan Rea akan kesialan besar nya itu.
Ia bahkan tak sedikitpun berfikir bahwa seharusnya, campur tangan nya juga harus ikut ada untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis baru nya itu.
"Aku tidak terima di rendahkan seperti ini tuan!, aku minta tarik kembali semua ucapan mu!," sentak Rea memberontak dengan wajah yang merah padam.
"Aku sudah berusaha keras membangun bisnis ini dari dasar!, semua aku kerjakan sendiri tanpa bantuan dari mu sedikitpun!, kau hanya bisa marah dan marah setiap kali bertemu dengan ku!, aku seakan lebih rendah dari seorang budak tuan!, aku bagaikan hidup dalam kekangan di sini" teriak Rea meluapkan semua kekesalan yang ada dalam hati nya.
__ADS_1
"Jika aku boleh jujur, kau tidak ada apa apa nya di bandingkan Bos besar!, kau yang selalu membual akan kekuatan dan pengaruh yang kau miliki, tapi apa bukti nya?, kau bahkan sudah lemah dalam urusan ranjang bukan?, jangan terkejut jika aku tahu semua nya, aku bukan wanita kemarin sore yang tak bisa memahami fungsi tubuh seorang lelaki!," seru Rea tersedu sedu.
"Jika aku bisa memilih, aku ingin kembali ke kehidupan ku yang dulu, rumah ku yang nyaman, bukan di tempat ini, bersama dirimu yang begitu arogan!," teriak Rea dengan histeris nya.
"Heh!, apa kau juga tuli sekarang!," sentak tuan Danu sembari menarik rambut Rea hingga membuyarkan lamunan Rea saat itu.
"Arrrrgh!, ampun tuan, ampun!, aku cuma sedang memikirkan cara agar bisa menemukan Tia kembali dan mengambil kembali Sesa serta Rose dari tangan si hidung belang itu," rintih Rea setelah tersadar dari lamunan nya yang bahkan tidak akan pernah ia mampu wujudkan itu.
Ku kira aku benar benar berani melawan nya, nyata nya itu hanya ada di otak ku saja, batin Rea sembari mengusap keringat dingin nya.
Bahkan membayangkan nya saja, melawan tuan Danu itu sungguh mengerikan.
"Huff," keluh Rea sembari mencoba me rileks kan tubuh nya di sofa.
Ia mencoba berfikir keras dan mencoba memposisikan diri nya sebagai Tia.
Kemana aku akan pergi jika aku jadi Tia?, batin Rea begitu penasaran.
Namun tiba tiba, tanpa sebab, terlintas rasa rindu ke tempat diri nya bekerja dulu.
__ADS_1
Rumah Bos besar, tiba tiba aku begitu rindu suasana di sana, kenangan indah dan manis ku selama di sana, kenangan sebelum ada Fatimah wanita sialan itu yang datang merusak semua nya, mungkin melihat nya dari jauh saja bisa menjernihkan pikiran ku, batin Rea segera memejamkan mata untuk sesaat melupakan kepenatan dan masalah dalam hidup nya saat itu.
...***...
"Kami pulang dulu, pulanglah jika kau punya waktu luang," ucap Mawar sembari sekali lagi memeluk erat Fatimah, bahkan rasa nya ia tak mau melepaskan pelukan nya itu.
"Dan atur jadwal seperti yang ku minta nak, agar terapi suami bisa segera terlaksana," ucap dokter Malik menawarkan jasa spesial nya sebagai dokter kepada Fatimah demi kesembuhan Bos besar.
"Aku akan ingat pesan kalian, berhati hati lah, salam untuk kakek Bram," sahut Fatimah sembari mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipi Mawar kala itu.
"Maaf sayang, air mata ini begitu sulit di bendung," ucap Mawar tersenyum kecil.
"Sudahlah bunda, untuk masalah Aqly, aku yang akan membujuk nya nanti," ucap Fatimah begitu mengerti akan apa yang menjadi kegundahan sang bunda saat itu.
"Berjanjilah," ucap Mawar penuh harap.
"Kami akan datang beberapa hari ke depan", ucap Fatimah menyayangkan sikap Aqly hari itu.
"Jaga dirimu baik baik, dan titip adik mu. Dia masih begitu labil di usia nya kini, mungkin suatu saat ada hal yang akan membuat nya berubah, bersabarlah menghadapi nya," ucap Mawar sembari mencium kening Fatimah.
__ADS_1
Bersamaan dengan lambaian tangan Fatimah serta anak anak asuh nya, Mawar serta rombongan nya berangsur angsur pergi dan menghilang dari pandangan mereka.