Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Saya suami wanita itu!.


__ADS_3

Semua anggota keluarga Fatimah tengah tak sabar menunggu kabar dari dokter yang kini sedang menangani Fatimah.


Bahkan Mawar sudah nampak siuman dan sesekali mengarahkan pandangan nya pada sosok menantu yang kini telah sanggup berdiri lagi dengan kedua kaki nya sendiri.


Bos besar nampak terus saja menatap ke arah di mana Fatimah sedang mendapatkan pertolongan para medis tanpa memperhatikan keberadaan orang lain lagi di sekeliling nya.


Sedangkan Aqly begitu gugup saat menatap Bos besar saat itu.


Ia terus bertanya tanya apa yang akan terjadi pada nya setelah sang Bos telah pulih kembali.


Akankah hidup nya akan lebih terkekang oleh semua orang sekarang?.


Aku benar benar burung dalam sangkar, saat aku berhasil terlepas dari satu sangkar, sangkar lain berhasil mengurungku, batin Aqly tak suka.


"Kalian keluarga nya?," seru sang dokter saat ia keluar dari ruangan tindakan.


"Saya suami wanita itu," seru Bos besar seketika membuat semua yang ada di sana menjadi tertegun.

__ADS_1


Ada perasaan haru bercampur bahagia dalam diri dokter Malik serta Mawar saat itu, pasal nya Fatimah seperti nya telah menemukan imam yang tepat untuk hidup nya.


"Istri anda sekarang sudah dalam keadaan stabil, dan apa ini tuan?," ucap sang dokter saat melihat luka di tubuh Bos besar yang masih belum mendapatkan penanganan.


Para medis sudah berusaha membujuk nya untuk di obati, namun ia bersikeras akan menunggu sampai tangan istri nya sendiri lah yang akan membalut dan mengobati luka nya saat itu.


"Bisa kah saya menemui nya?," ucap Bos besar tanpa basa basi lagi.


"Sebaik nya bunda Mawar dahulu yang masuk nak, kau tak keberatan bukan?," pinta dokter Malik sejenak membuat Bos besar menatap nya.


Namun seketika ia mencoba melangkah mundur dan memberi jalan kepada sang mertua di saat itu juga tanpa perdebatan atau paksaan sedikitpun.


"Mari silahkan masuk, tapi biarkan istri tuan beristirahat terlebih dulu, jangan buat kegaduhan atau mencoba membangunkan nya," seru sang dokter sembari pergi dari sana setelah mengantar Bos besar masuk ke dalam.


Cukup lama Bos besar memandangi Fatimah yang tengah tak sadarkan diri di atas ranjang nya.


"Bahkan dokter begitu menghargai keberadaan cadar mu itu Fatimah," ucap Bos besar mengingat bagaimana usaha nya dahulu demi membuka cadar milik Fatimah.

__ADS_1


Perlahan ia mencoba meraih tangan Fatimah.


Namun, ia coba mengurungkan niat nya itu.


"Kau memang istri ku, tapi aku tak akan memegang tangan mu itu sampai kau bersedia kembali menikah dengan ku dengan ikhlas dan penuh akan rasa kebahagiaan," ucap Bos besar perlahan berjalan keluar dari ruangan itu demi memberi kesempatan keluarga Fatimah yang lain untuk masuk ke dalam.


"Tuan, bisa ikut saya ke ruang administrasi?, ada yang harus anda selesaikan," seru seorang perawat saat Bos besar baru saja menapakkan kaki nya keluar dari kamar perawatan Fatimah.


"Baiklah," sahut Bos besar menurut.


"Maaf, dengan tuan siapa?," tanya sang perawat saat melihat kertas informasi dari pasien baru atas nama Fatimah masih nampak kosong.


"Ummar, nama ku Ummar," sahut Bos besar sembari berjalan mengikuti sang suster untuk menuju bagian administrasi.


Sementara Mawar dan dokter Malik segera masuk ke dalam ruang perawatan demi melihat sendiri keadaan putri nya saat itu.


Sedangkan kakek Bram sejak awal hanya memantau semua nya dari kejauhan.

__ADS_1


Ia begitu heran dengan sosok Bos besar yang begitu berbeda dari yang ia kenal di masa silam.


__ADS_2