Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Seketika semua memiliki kesibukan nya sendiri.


__ADS_3

"Dah sampai Bos," ucap Aqly menghentikan mobil nya tepat di halaman depan rumah bordil.


Ah!, males banget, pasti bentar lagi. Aqly tolong angkat aku ke kursi roda, Aqly tolong ini dan tolong itu!, batin Aqly mendengus pelan.


"Kenapa?," keluh Bos besar tak suka dengan dengusan Aqly yang seakan meledek nya.


"T- tidak Bos. Selamat datang di rumah," sahut Aqly segera keluar dari dalam mobil dan segera bergegas mengeluarkan kursi roda bos besar dari bagasi mobil.


Sementara Fatimah masih diam di tempat duduk nya menunggu Bos besar benar benar telah turun dari mobil.


"Heh!, cepat turun dan bereskan kamar ku!," sentak Bos besar segera membuat Fatimah segera bergegas mengerjakan perintah itu tanpa membantah sedikitpun.


Sejenak, Bos besar merasa bingung kenapa Fatimah terus menuruti permintaan nya tanpa membantah sedikitpun.


Wanita aneh!, tapi berguna juga buat ku, batin Bos besar.


Perlahan Aqly segera menempatkan Bos besar di atas kursi roda nya.


Pandangan Aqly tiba tiba tertuju pada para body guard yang segera bersembunyi saat melihat kedatangan mereka.


Wah, gak bener nih!, batin Aqly sembari mendorong kursi Bos besar masuk ke dalam rumah, jika ia lebih memilih meladeni para body guard itu, bisa habis Aqly mendapat omelan yang tak kunjung usai dari Bos besar.


Saat masuk ke dalam rumah, suasana nya begitu sepi tak ada seorang pun yang terlihat.


"Kemana semua orang?, apa kau tak mengabarkan jika aku pulang hari ini?," tanya Bos besar merasa heran.


Pasal nya, meskipun bukan untuk menyambut nya datang, biasa nya di jam jam seperti itu rumah akan ramai dengan para penghuni nya.


"Mungkin mereka punya job di luar bos," seru Aqly sembari mengingat sikap acuh Rea dan yang lain nya saat Aqly mengabarkan bahwa Bos akan pulang hari itu.


Enak banget ya mereka semua, have fun di atas penderitaan ku, batin Aqly kesal.


"Siang Bos, selamat datang di rumah. Bos mau apa?, makan atau?," seru Mira segera di sela oleh Bos besar.


"Kemana yang lain?," tanya Bos besar membuat Mira segera menatap Aqly.


"Emm, mereka lagi..," sahut Mira kebingungan.

__ADS_1


Membuat Aqly berusaha keras mencari akal.


"Bos, sejak kemarin Tuan Danu sibuk mencari Bos," seru Aqly berhasil mengalihkan perhatian Bos besar.


"Tuan Danu?," ucap Bos besar mencoba mengingat ada urusan apa yang sempat ia lupakan dengan Tuan Danu.


"Apa aku harus menelfon nya Bos?," ucap Aqly bersiap mengambil telfon rumah.


"Tidak usah, aku mau istirahat sejenak, Tuan Danu bisa menunggu," seru Bos besar meminta Aqly membawa nya ke kamar.


Namun sebelum kursi roda itu kembali berjalan, suara Rea dan Lely membuat Bos besar tertarik.


"Itu mereka!, hadapkan aku pada nya," pinta Bos besar membuat Aqly semakin kesal saja.


Sejak Bos lumpuh, pekerjaan nya lebih banyak dan berat dari yang dulu.


"Kamu lihat gak gaun yang ku beli tadi?, bagus banget!," seru Rea berjalan memasuki rumah tanpa memperhatikan jika sudah ada Bos besar yang menatap tajam ke arah nya.


"Gaun ku juga gak kalah bagus tau!," sahut Lely menenteng tas belanjaan nya tanpa memperhatikan arah depan.


"Bagus ya!," seru Bos besar seketika mengejutkan Rea dan Lely.


"Bos?," ucap Rea tak percaya.


Baru kali ini memang dia melihat secara langsung kondisi Bos besar setelah kecelakaan itu terjadi.


Tubuh yang dulu kekar dan menjadi incaran nya, kini terkulai lemas di atas kursi roda.


"Bos udah pulang," ucap Lely berjalan dengan santai nya ke arah Bos besar.


Sembari mendengus pelan, ia seakan menertawakan dan menganggap hina keadaan Bos besar kini.


"Kalian shopping?, saat kondisi ku seperti ini!," seru Bos besar tak percaya.


Padahal diri nya sudah berusaha keras mentenarkan nama dua wanita di hadapan nya itu.


"Bos, kan sudah ada Aqly, Mira dan istri bos yang berbakti itu," sahut Rea dengan enteng nya.

__ADS_1


"Tapi harus nya kalian merawat ku juga!," sentak Bos besar marah.


Namun sekuat apapun ia berusaha bangkit, tubuh nya tetap tak bergerak sedikitpun.


"Kami juga punya urusan masing masing Bos, " seru Lely tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Urusan?, harusnya kalian memprioritaskan Bos kalian dulu!," sentak Bos besar kembali.


Ia begitu tak menyangka, para wanita nya bisa bersikap se acuh itu saat diri nya sedang terpuruk.


"Sudahlah Bos!, kami capek!, mau istirahat, toh bukan kami aja yang sibuk dengan urusan kami, lihat!, gak ada satu wanita pun yang gak sibuk saat ini, ya kecuali wanita aneh seperti Mira dan Fatimah," seru Lely berjalan meninggalkan Bos besar seenak nya.


"Oh ya Mir, suruh chef siapin makanan ya, aku tunggu di kamar, bye Bos," seru Rea membuat Bos besar memalingkan muka nya dengan raut wajah begitu kesal.


Sementara Aqly juga diam diam segera pergi dari sana, ia begitu lelah di perintah oleh Bos besar sepanjang waktu.


Bersamaan dengan itu, Mira juga telah pergi menuju dapur untuk melaksanakan perintah dari Rea.


Mengetahui tidak ada orang lain lagi di sisi nya, ia begitu marah namun tak berdaya.


Ia mencoba mengutuk diri nya sendiri yang sekarang sudah tak bisa apa apa lagi.


Namun tiba tiba, ada sepasang tangan yang mendorong kursi roda nya perlahan menuju kamar.


Saat melihat wajah nya, Bos besar semakin kesal dan marah.


"Kamu lagi, kamu lagi!," keluh Bos besar saat mengetahui siapa yang kini membantunya masuk ke kamar.


"Sudahlah Bos, tekan lah sedikit ego mu itu, aku hanya menolong, terlebih tidak ada orang lain lagi di sini, hanya aku yang tidak memiliki urusan apapun sekarang ini" seru Fatimah tak di sangka bisa membungkam mulut Bos besar dengan ucapan nya itu.


Saat sang Bos telah benar benar masuk ke dalam kamar.


Aroma semerbak kamar itu membuat Bos besar begitu damai dan santai.


"Akhir nya aku pulang," ucap Bos besar sembari memejamkan mata dan masih mencoba menikmati aroma kamar yang sudah lama ia tak cium.


Ku akui, dia memang begitu pintar dalam mengurus rumah, bahkan dalam waktu singkat, ia bisa hafal dan paham apa yang di suka dan tidak oleh masing masing penghuni rumah ini, batin Bos besar mencoba menyembunyikan rasa kagum nya.

__ADS_1


"Aku akan siapkan makan dan obat Bos, jangan menolak!, aku akan panggil Aqly setelah Bos makan, dan aku akan pergi ke kamar ku sendiri," seru Fatimah membuat Bos besar mau tak mau harus menurut pada nya.


Siapa dia berani mengaturku harus apa, batin Bos besar masih dengan keangkuhan nya.


__ADS_2