
"Amin," ucap Fatimah mengakhiri doa bersama sebelum makan malam mereka di mulai, wajah gembira para anak asuh nya begitu terlihat setiap acara makan bersama tiba.
Terlebih bagi mereka yang berasal dari jalanan.
Yang dahulu hanya bisa makan makanan sisa, kini bisa makan dengan layak.
Dengan gembira nya mereka mulai menyantap makan malam mereka di hari itu.
"Kak Rani, masakan kakak sungguh lezat," seru Dito yang merupakan anak asuh paling kecil di rumah singgah Ummar.
"Baguslah, jadi sekarang kakak bisa mengandalkan Kak Rani mu itu untuk urusan dapur mulai detik ini, kau tak keberatan kan Rani?," ujar Mira membuat Rani terdiam cukup lama.
"Setuju saja lah kak, pasti akan nikmat sekali makan makanan rumah seenak makanan resto seperti masakan kak Rani ini," seru Dito terus saja melahap semua jenis lauk yang tersedia di meja makan.
"Bu- bukan nya aku tak mau Dito, tapi sebaik nya kak Mira dan bibi yang menyiapkan makanan seperti biasa nya, karna mereka lebih tahu kesukaan setiap orang di rumah ini, kak Rani akan membantu sebisa nya", ucap Rani sembari berlalu pergi kembali ke dapur.
"Sudahlah Dito, kita di sini akan bergantian saling bahu membahu mengurus rumah ini serta keperluan nya, sekarang habiskan makanan mu," nasehat Fatimah mencoba menjaga suasana di meja makan tetap tenang dan nyaman.
Namun dari mata Fatimah, nampak jelas terlihat ada sesuatu yang tengah ia rasakan dari obrolan singkat mereka malam itu.
Sedangkan Bos besar nampak tetap diam dan tenang sembari terus melahap habis makanan di piring nya secara perlahan tanpa merespon obrolan di meja makan malam itu.
__ADS_1
Makanan ini begitu tak asing di lidah ku, bukan dapur rumah ku yang memasak semua ini, aku yakin itu, batin Bos besar sembari melahap suapan nasi terakhir di sendok nya.
"Biar aku tambah nasi nya mas," ucap Fatimah namun segera di cegah oleh Bos besar.
"Bisakah kau buat kan aku telur dadar?, aku akan ambil nasi ku sendiri," ucap Bos besar seketika membuat Mira dan Fatimah menatap heran ke arah nya.
"Baiklah mas, tunggu sebentar," sahut Fatimah tak ada niatan menanyakan alasan dari permintaan Bos besar saat itu.
"Mira, aku punya pekerjaan untuk mu," ucap lirih Bos besar namun dengan tatapan tajam ke arah Mira.
Membuat Mira hanya bisa menelan ludah menyaksikan ekspresi lama yang tak pernah ia lihat lagi sejak Bos besar sembuh dari lumpuh.
Tanpa banyak bertanya, Mira hanya mengangguk sembari meletakkan sendok yang ia pegang dan mengakhiri makan malam nya.
Ada perasaan khawatir dalam diri Mira saat menatap Bos besar.
Mungkinkah?, batin Mira menebak.
Seketika ponsel nya bergetar.
"Lebih baik kau masuk ke kamar mu dan persiapkan pelajaran anak anak untuk nanti," perintah Bos besar mengurungkan niat Mira untuk memeriksa pesan yang masuk ke ponsel nya.
__ADS_1
"Ba- baik," sahut Mira lekas bergegas menuju kamar nya.
"Kemana Mira mas?," tanya Fatimah saat kembali membawa pesanan telur dadar dari arah dapur.
"Dia aku suruh bersiap untuk mengajar anak anak supaya tidak terlalu larut nanti nya, kasihan mereka jika tidur terlalu malam," ucap Bos besar sembari mengambil piring berisikan telur dadar di tangan Fatimah.
Ada perasaan heran dalam hati Fatimah melihat gelagat suami nya malam itu, namun ia lebih memilih tak menanyakan apapun juga.
Semua hal tidak butuh alasan untuk di utarakan.
---##---
Mira terdiam membaca pesan yang terkirim di ponsel nya.
Bos sampai mengirimi ku tugas lewat ponsel?, batin Mira keheranan.
"Tapi apa maksud pesan ini?, apa tugas ku sebenar nya?," ucap Mira kembali membaca ulang isi pesan di layar ponsel nya.
Singkat, namun penuh dengan pertanyaan.
"Makanan resto Favorit ku".
__ADS_1
"Resto?, Favorit?," ucap Mira terus mengartikan arti dari pesan singkat itu.