
Hari ini merupakan hari kedua Fatimah terkurung di dalam kamar megah itu.
Kamar yang mampu membuat semua wanita takjub dan ingin sekali memiliki nya.
Semua fasilitas tersedia di sana.
Ornamen dan hiasan nya pun begitu memukau mata.
Namun tidak untuk Fatimah.
Ia begitu tertekan dan ketakutan di dalam sana.
Bahkan ia tak bisa menemukan sebuah sajadah dan pakaian bersih untuk nya shalat.
Terpaksa ia melakukan shalat hanya dengan pakaian yang menempel pada tubuh nya.
"Setidak nya pakaian ini bisa menutup aurat ku saat shalat, suci dan sah atau pun tidak, biarkan Allah yang menilai nya," ucap Fatimah mengambil sebuah selimut untuk menjadi pengganti sajadah shalat nya.
Tak berselang lama.
Seorang wanita nampak membuka pintu kamar Fatimah sembari membawa makan siang untuk nya.
Wanita itu begitu terkejut saat melihat Fatimah sedang melaksanakan shalat di situasi nya yang bisa di anggap sedang dalam kondisi yang sulit.
Namun, seperti nya wanita itu masih berusaha menghargai Fatimah.
Wanita itu dengan sabar menunggu Fatimah sampai Fatimah benar benar selesai melaksanakan shalat nya.
"Assalammualaikum warahmatullaah," ucap Fatimah menandakan bahwa shalat nya telah usai.
Wanita itu segera menyalakan sebatang rokok dan menyembulkan asap rokok nya ke udara sembari menatap tajam ke arah Fatimah.
"Sebenar nya apa sih yang ada di otak kamu!," seru wanita itu kembali menyembulkan asap rokok nya, namun kali ini ia menyembulkan nya tepat di wajah Fatimah.
Sontak Fatimah langsung terbatuk batuk di buat nya.
"Maksud mbak apa?," tanya Fatimah merasa bingung dengan pertanyaan wanita yang kini duduk di hadapan nya.
"Kamu lagi di sekap, di tempat macam ini pula, tapi kamu terlihat santai dan masih mikirin shalat?," keluh wanita itu mencoba memahami bagaimana pikiran Fatimah bekerja.
__ADS_1
"Aku masih punya Allah, walaupun adik ku sendiri yang membawa ku ke tempat terkutuk ini," sahut Fatimah membuat wanita itu bosan.
"Ah, sudahlah!, capek denger ocehan mu!, nih makan!, tenang aja, ini ayam kok bukan babi!, kita yang terkutuk ini juga gak suka sama daging babi," ketus wanita itu segera keluar meninggalkan Fatimah kembali di dalam kamar yang lagi lagi di kunci dari luar.
Fatimah lalu mengambil sepiring nasi pemberian wanita itu.
"Alhamdulillah, masih ada rejeki untuk ku hari ini," ucap Fatimah menatap lekat lekat sepiring nasi di tangan nya sembari menghela nafas panjang.
Bismillah, batin Fatimah sebelum melahap sesendok nasi pertama nya.
Setelah hari kembali petang, Mira mencoba mengendap ngendap mendekati kamar tempat Fatimah di sekap.
Namun belum sempat ia masuk, Bos besar sudah memergokinya terlebih dahulu.
"Mira sayang!, kenapa kamu di depan kamar Fatimah?," seru Bos besar sontak membuat Mira terkejut.
"Bos, aku cuma mau bantu Fatimah siap siap buat malam ini," sahut Mira mencoba mencari cari alasan di hadapan Bos besar.
"Aku sudah suruh Nela buat urus semua nya di dalam, Fatimah tak butuh bantuan mu!," seru Bos besar menatap curiga ke arah Mira.
"Baik Bos," sahut Mira tak berani menatap mata Bos besar.
"Lain kali, jangan coba coba melakukan sesuatu tanpa perintah dari ku!," seru Bos besar membuat Mira bergetar ketakutan.
"Aku tak akan lupa bagaimana sikap mu saat di posisi Fatimah saat itu, aku akan mengawasi mu!, jika kamu berani membantu nya kabur, lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada mu," bisik Bos besar membuat Mira langsung berkeringat dingin.
Saat Mira ingin segera pergi dari sana.
Mereka semua di kejutkan dengan teriakan Nela yang bersamaan dengan dirinya yang tiba tiba berlari keluar dari dalam kamar Fatimah dengan begitu kesal nya.
"Nela!, jangan ribut!, para tamu ku bisa kabur nanti!," seru Bos besar mengguncang tubuh Nela yang masih nampak kesal sembari menggerutu tanpa henti.
"I, itu Bos!," seru Nela masih mencoba mengatur nafas nya.
"Iya, apa!, Fatimah?, udah selesai kamu make over dia kan!," seru Bos besar merasa heran dengan tingkah dari Nela.
"Itu dia Bos!, mending Bos lihat sendiri deh!," sahut Nela menarik tangan Bos besar masuk ke dalam kamar Fatimah.
Karna penasaran.
__ADS_1
Mira juga ikut mengintip ke dalam kamar Fatimah.
Ia lalu mengingat saat dulu diri nya di posisi Fatimah.
Ia malah bersikap lebih ekstrim dari sikap yang di tunjukkan Fatimah.
Ia terus merusak se isi kamar sampai tak tersisa sedikit pun bertahun tahun yang lalu.
Bahkan ia akan melukai orang orang yang ingin mendekati nya, bahkan Bos besar sekalipun.
Saat ada pintu terbuka seperti itu, ia akan berlari sekencang kencang nya untuk kabur tanpa memikirkan jilbab dan cadar nya yang sudah terlepas berceceran di lantai.
"Kenapa dia bisa se tenang itu?," ucap lirih Mira merasa heran saat menatap Fatimah yang masih duduk diam di samping tempat tidur, dengan kamar yang masih rapi, bahkan jilbab dan cadar nya masih melekat sempurna di tubuh Fatimah.
"Kenapa dia belum kamu apa apa in sih Nela!," sentak Bos besar kesal melihat Fatimah yang masih tertutup gamis panjang nya dan cadar serta jilbab nya itu.
"Dia tak mau Bos, aku sudah berusaha, tapi dia terus menghindar dan berlari terus dari kejaran ku," keluh Nela membuat Bos besar menatap heran ke arah Fatimah.
Wanita macam apa dia?, ia menolak tapi tanpa memberontak dan menunjukkan kebrutalan nya sedikitpun, batin Bos besar sembari menatap kembali Mira yang sedang berdiri di luar pintu kamar.
"Mereka begitu berbeda," ucap lirih Bos besar mengambil gaun yang telah ia siapkan untuk Fatimah.
"Tanpa aku jelaskan kan pun, seperti nya kamu sudah bisa menebak kenapa aku memberi gaun ini pada mu," seru Bos besar mengambil sebuah gunting dari dalam saku nya.
Bahkan saat melihat Bos besar mengeluarkan sebuah gunting, itu tetap tak membuat Fatimah bergeming ataupun ketakutan.
"Aku hanya mempertahankan harga diri ku dan kesucian ku," ucap Fatimah tanpa mau menatap wajah Bos besar.
Mendengar ucapan Fatimah.
Muka Bos besar semakin terlihat semakin marah.
Ia lalu dengan cepat menggunting gaun di tangan nya hingga menjadi beberapa bagian kecil dan melemparkan nya ke arah Fatimah.
"Kamu tak mau kan memakai gaun ini?, oke!, tapi niat ku sudah bulat!, dengan atau tanpa sebuah gaun, kamu tetap akan memuaskan tamu spesial ku malam ini!," seru Bos besar membuat mata Fatimah kembali berair namun tetap dalam posisi tegap dan diam nya.
"Enjoy ya say!," seru Nela tersenyum sinis ke arah Fatimah sembari berjalan keluar dari kamar itu.
"Biarkan aku pergi dari sini!," seru Fatimah berusaha berlari ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Namun langkah nya masih kalah cepat dengan langkah kaki Bos besar yang sudah terlebih dulu menutup rapat pintu kamar Fatimah dari luar.
"Kita lihat!, seberapa kuat kamu mempertahankan iman dan agama mu itu!," seru Bos besar lalu menatap ke arah Mira yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar Fatimah.