
"Alhamdulillah..!!, kita dah sampek pi..??", seru Bu Maryam sembari mendorong kursi roda suaminya.
Ia mengucap syukur karna setelah 2 bulan lamanya di rumah sakit.
Akhirnya Bram bisa kembali pulang.
Walaupun kini tubuhnya hanya bisa terduduk di kursi roda.
"Kita ke kamar ya pi", ucap bu Maryam mengajak suaminya beristirahat di kamar, pasti Bram sangat merindukan nikmatnya tidur di kasur rumahnya sendiri.
Bram hanya mengangguk memberi isyarat bahwa ia setuju.
Sejak ia tersadar sejenak di rumah sakit setelah kecelakaan itu, kata terakhir yang bisa ia ucapkan ialah Mawar.
Setelah kejang dan kembali tak sadarkan diri, ia sudah kehilangan kemampuan bicaranya.
Dokter membantu Bram untuk tidur di atas ranjang.
Ia merawatnya seperti janjinya pada bu Maryam.
Sekasar dan sejahat papi terhadap dirinya, Bram tetaplah ayah bagi dokter Malik.
"Papi istirahat dulu ya, aku mau beresin barang barang papi di mobil", ucap dokter Malik.
Tetapi saat dokter Malik akan beranjak dari samping Bram.
Bram dengan sekuat tenaga mencoba menggerakkan jarinya.
Nihil..!!.
Bahkan jarinya tak bisa digerakkan sedikitpun, apalagi untuk memegang tangan dokter Malik.
Sampai dokter Malik hilang dari pandangan Bram.
"Papi makan dulu ya, minum obat dan istirahat", ucap Bu Maryam masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa bubur dan obat milik suaminya.
__ADS_1
Bram berusaha kembali, kali ini ia berusaha untuk berbicara.
Mulutnya seakan berusaha mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tak keluar sedikitpun.
"Papi mau apa..??", ucap bu Maryam tak mengerti.
Saat bu Maryam mencoba menyuapinya, ia menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya.
Bram terus berusaha mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Akkkkk...!!, akkkk..!!..., mmmm,.ma...", lirih terdengar dari mulut Bram yang sekuat tenaga berusaha berbicara.
Bu Maryam berusaha mengartikan apa maksud dari suaminya, tetapi semua yang ia prediksikan hanya di jawab gelengan kepala oleh Bram.
Sesaat kemudian, dokter Malik kembali masuk ke kamar Bram sembari membawa tas terakhir barang barang milik Bram.
"Papi kenapa mi..??, kayaknya gelisah gitu..??", seru dokter Malik mendekati Bram yang seakan terus memaksa dirinya melebihi kemampuannya yang sekarang.
"Mami gak tau, kayaknya papi mu mau ngomong sesuatu", ucap Bu Maryam.
"Sudah ...!!, tapi papi mu terus saja menggelengkan kepalanya", ucap Bu Maryam bingung.
"Papi mau keluar..??, ketaman..??", tanya dokter Malik.
Bram terus saja menggelengkan kepalanya dan mengulang gerakan bibirnya.
"Mmm..!!,...ma...!!", ucap Bram sekuat tenaga.
Dokter Malik sampai mendekatkan telinganya di samping mulut Bram.
Dokter Malik tercengang dan tak percaya apa yang tengah ia pikirkan tentang apa yang berusaha Bram utarakan.
"Apa kamu sudah tau..??, apa yang diinginkan papi...??", seru Bu Maryam penasaran.
"Apa papi mencari Mawar..??", seru dokter Malik dengan raut wajah masih tak percaya.
__ADS_1
"Apa Malik..??", seru bu Maryam langsung menolehkan pandangannya pada Bram.
Seketika Bram mengangguk ngangguk tanpa henti, membuat bu Maryam lebih tak percaya.
"Mustahil..!!, papi mau apa dengan Mawar...??", seru bu Maryam memandang ke arah dokter Malik.
Dokter Malik duduk di samping Bram dan mencium punggung tangannya.
"Aku akan berusaha bawa Mawar ke sini pi", ucap dokter Malik dengan mata berkaca kaca.
"Mana mungkin Malik..??", seru bu Maryam, karna dia tau Mawar sudah menjadi istri orang, dan tak pantas untuk Malik menemuinya.
Bu Maryam juga khawatir, usaha Malik selama ini untuk melupakan Mawar akan sia sia.
Dokter Malik bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju mobilnya.
Bu Maryam pun bangkit dan bergegas mengejar anaknya itu.
"Tunggu nak..!!, apa kamu yakin..??, dan apakah kamu sanggup menghadapi Mawar..??", seru Bu Maryam membuat langkah kaki dokter Malik berhenti.
"Demi papi mi..!!", seru dokter Malik berusaha terlihat kuat.
"Apakah kamu tak akan terbawa hati kamu nantinya nak..??", seru bu Maryam memandang wajah anaknya yang tak berani menatapnya.
"Insyaallah mi", ucap dokter Malik.
"Ingatlah satu hal, Mawar sudah memiliki suami, jaga batasanmu..!!, jangan sampai kamu menjadi duri di rumah tangga mereka", ucap Bu Maryam mencoba mengantisipasi apa yang bisa saja terjadi.
"Akan Malik ingat mi, assalammualaikum", ucap dokter Malik mencium punggung tangan bu Maryam dan segera bergegas melajukan mobilnya menuju kekediaman Mawar.
Di perjalanan, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.
Tidak bisa di pungkiri, hati dokter Malik masih mengingat dengan jelas rasa cintanya pada Mawar yang sekarang menjadi istri dari Burhan.
Ia mencoba tegar dan mengusap air mata itu.
__ADS_1
"Aku tak boleh lemah..!!, ada kewajiban yang harus aku penuhi sebagai seorang anak yang berbakti", ucap dokter Malik mempercepat laju mobilnya.