
Rahel duduk di kursi teras dengan nikmatnya.
Membaca majalah fasion sambil meminum jus apel favoritnya.
Sudah berulang kali bu Maryam memanggilnya.
Rahel tetap diam ditempatnya sambil menikmati jus apel di depannya.
"Hel...!!!, tolong jaga papi sebentar..!!, apa kamu tak dengar..??, suara mami sampai serak memanggilmu..!!", seru bu Maryam berdiri di samping Rahel.
"Manja amat sih mi..!!, papi itu gak akan kemana mana..!!", seru Rahel tetap memandang ke arah majalahnya.
Bu Maryam seakan sudah bosan dengan tingkah laku Rahel, sejak dokter Malik tak pernah memarahinya, Rahel semakin melunjak dan seenaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian.
Mobil dokter Malik terlihat memasuki halaman rumah.
Berhenti tepat di depan teras rumah tempat Rahel sedang asyik bersantai.
Ia tersedak saat melihat Mawar keluar dari mobil dokter Malik.
Tanpa berkata apapun pada Rahel, dokter Malik mempersilahkan Mawar dan Burhan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Dokter Malik melewati Rahel yang masih terpaku dengan apa yang dilihatnya.
"Bentar ya mas..!!, tas Fatimah ketinggalan di mobil", ucap Mawar kembali ke mobil dan mengambil tas Fatimah.
"Aku masuk dulu ya", ucap Burhan mengikuti dokter Malik masuk ke dalam rumah.
Brukkkk....( suara pintu mobil yang di paksa menutup oleh Rahel).
"Astagfirullah..!!", seru Mawar terkejut dengan tingkah Rahel.
"Kenapa...??, kamu takut..??, dan apa maksud kamu dateng kemari..??", seru Rahel menunjuk nunjuk muka Mawar.
"Saya ke sini untuk menemui pak Bram, permisi..!!", ucap Mawar berusaha pergi menjauh dari Rahel.
"Eitss...., tunggu..!!, jangan harap kamu bisa ambil harta mertuaku ya..!!", seru Rahel menghadang jalan Mawar.
"Apa yang ada di fikiranmu itu cuma harta..??", ucap Mawar tak habis fikir.
"Memangnya kenapa..??, lebih baik punya tujuan dong, ketimbang kamu hidup aja bingung dengan asal usul..!!", seru Rahel berkacak pinggang.
"Jaga bicaramu ya Hel..!!, aku diam bukan berarti aku tak bisa marah..!!, aku tak pernah takut denganmu...!!, aku bisa saja buka semua kedok kamu di sini sekarang..!!, mau kamu...??", seru Mawar menatap tajam raut wajah Rahel yang berubah ketakutan.
"Oh ya..??, kamu gak akan punya nyali..!!", ucap Rahel meremehkan Mawar.
"Tadinya aku mau kasih kamu kesempatan berubah demi Fatimah, tapi mungkin kamu gak pantas mendapatkannya, baik...!!, kita lihat saja nanti..!!", seru Mawar menggertak Rahel yang semakin terlihat ketakutan.
"Ayo Mawar, kamu sudah di tunggu pak Bram di dalam", ucap Burhan menyusul Mawar yang sedang bersitegang dengan Rahel.
"Ayo mas, aku juga takut emosi kalau terus terusan di sini", ucap Mawar berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dasar...!!, anak pelac*r..!!", ucap Rahel geram.
_________
"M....!!!, ma......m..!!", seru Bram bersemangat saat melihat Mawar masuk ke dalam kamarnya.
Mawar mendekat ke arah Bram dengan deraian air mata.
Ia tak kuasa membendung kesedihannya melihat Bram yang terbujur tak berdaya di tempat tidurnya.
Ya Allah..!!, Mawar rela yah kau hina seperti dulu, asalkan bisa melihatmu kembali sehat dan bugar, gumam Mawar dalam hati sambil terisak isak.
Mawar duduk di samping Bram.
Ia mencium punggung tangan Bram.
Terlihat air mata mengalir dari kedua mata Bram.
Sesaat kemudian
Tangisan Mawar pecah.....
Ia tak sanggup bersandiwara di depan semua orang.
Seketika Mawar memeluk Bram sembari menangis di dadanya, membuat Bu Maryam dan dokter Malik terkejut.
"Astagfirullah..!!, Mawar...!!", seru bu Maryam heran. Karna selama ini Mawar tak pernah lancang memeluk seorang lelaki.
Burhan mencoba menghentikan bu Maryam yang akan mendekati Mawar yang sedang terisak isak melepas rindu pada sosok ayah yang tak pernah ia kenal selama hidupnya.
"Ibuk dan Malik pasti heran melihat tingkah Mawar yang seperti itu..??", ucap Burhan.
"Apa ada yang kami tidak ketahui nak Burhan..??", seru bu Maryam penasaran.
"Sebenarnya Mawar itu...??", ucap Burhan seketika di hentikan oleh Rahel.
"Jangan dengerin dia mi..!!", seru Rahel tak mau rahasia itu terbongkar.
"Kenapa Hel..??, bukannya kamu tadi menggertak Mawar..??, aku mendengar semuanya..!!, jika Mawar tak mengatakannya, akulah yang akan mengatakannya..!", seru Burhan membuat Rahel gugup.
"Kamu menggertak Mawar...??, gak ada kapok kapoknya kamu hel...!!", seru dokter Malik menarik dan menerkam tangan Rahel.
"Awh..!!, sakit Malik..!!", seru Rahel melepaskan pegangan dokter Malik di tangannya.
"Sudah ku biarkan kami sesuka hatimu, tapi kamu malah semakin menjadi.!!", seru dokter Malik terdengar sampai ke kamar Bram.
Membuat Mawar penasaran dan memutuskan untuk melihatnya.
"Jangan katakan apapun Burhan, kau juga akan kehilangan semuanya...!!", seru Rahel memancing Burhan agar tak berterus terang tentang Mawar pada bu Maryam dan dokter Malik.
"Aku tak takut denganmu..!!, seperti yang dikatakan Mawar padamu beberapa saat lalu, kau ingat...!!!, jika aku kehilangan semuanya itu sudah ketentuan Allah", ucap Burhan berlapang dada dengan semua kemungkinan yang akan terjadi.
Mawar menyaksikan di depan pintu kamar.
__ADS_1
Ia melihat ketulusan cinta yang di tunjukkan Burhan Padanya.
Siapa pun aku sebenarnya, aku tak akan pernah meninggalkan jodoh terbaik yang di berikan Allah padaku, gumam Mawar dalam hati.
"Sebenarnya Mawar adalah anak kandung Pak Bram yang selama ini ia cari cari", ucap Burhan membuat bu Maryam dan dokter Malik syok.
"Mawar...???, bagaimana mungkin..??", seru dokter Malik tak percaya.
"Kenyataannya memang begitu dokter, dan mungkin itu alasan kenapa pak Bram bisa mencariku saat kondisinya seperti itu, mungkin dia sudah tau tentang siapa sebenarnya aku", ucap Mawar mendekat ke arah mereka.
"Jadi..!!, kamu gadis yang di cari cari papi selama ini..??", ucap Bu Maryam lemas.
"Maafkan aku buk, aku juga tak tau kalau kenyataan ini sungguh menyakitkan", ucap Mawar bersujud di kaki bu Maryam.
"Sudahlah Mawar, ini juga bukan keinginan kamu, ibuk harap kamu bisa berbakti pada ayahmu ya", ucap Bu Maryam mengusap air matanya dan berbesar hati menerima Mawar sebagai anaknya.
Rahel pun bergegas pergi, ia terlihat amat kesal dengan Burhan karna telah membongkar status Mawar di keluarga Bram.
"Tunggu..!!", seru Mawar menarik tangan Rahel.
"Aku mau ungkap satu fakta lagi", ucap Mawar menatap Rahel yang terlihat gugup.
"Apa itu..??", seru dokter Malik penasaran.
"Rahel adalah dalang penculikan dari Fatimah yang berakhir dengan insiden kebakaran itu", seru Mawar lantang.
Bu Maryam dan dokter Malik pun dibuat amat terkejut lagi dengan apa yang telah Rahel lakukan.
"Aku menyembunyikan Fakta ini dari publik karna aku memberi kesempatan untuk Rahel berubah demi Fatimah, tapi apa...??, sekalipun ia tak mencari Fatimah, dan malah semakin seenaknya sendiri", ucap Mawar kecewa.
"Fatimah...??, apa hubungannya dengan Fatimah...??", seru dokter Malik tak mengerti.
"Jangan Mawar...!!", ucap lirih Rahel dengan nada memohon.
Kemudian Mawar menatap Fatimah yang tengah tertidur di gendongan Burhan.
Seakan bibirnya tak mampu berbuat lebih jauh lagi lebih dari ini.
Mawar melepaskan tangan Rahel.
Rahel tersenyum seakan lega karna satu fakta tentang dirinya tak sanggup Mawar ungkapkan.
"Fatimah itu anak kandung Rahel..!!", seru Burhan membuat semua terkejut.
"Apa..!!", seru Bu Maryam menampar pipi Rahel.
Rahel yang merasa dihina dan terpukul, menatap tajam ke arah Burhan.
Sambil berlinang air mata dan tangan yang masih memegang bekas tamparan Bu Maryam, Rahel mengancam Burhan.
"Kamu akan bayar semua ini..!!", seru Rahel penuh emosi.
"Sudahlah..!!, jangan kamu tunjukkan ancamanmu lagi di sini, aku sudah muak denganmu..!!, sekarang kamu pergi dari sini..!!", teriak bu Maryam histeris.
__ADS_1
Sedangkan dokter Malik memalingkan wajahnya, seakan jijik melihat kelakuan buruk dari istrinya itu.
"Awas kamu Burhan..!!", seru Rahel bergegas meninggalkan rumah itu dengan memendam dendam pada Burhan.